Kupandang langit yang lengkap dengan bulan dan bintang. Pikiranku tenggelam & aku bertanya pada diri sendiri, “Ikatan mana yang paling berharga? Apakah itu keluarga atau apa?”. Diriku kembali diam, melanjutkan perjalanan pulang. Kubuka pintu gerbang, kulihat ada sepiring nasi, lengkap dengan lauk pauknya di meja makan. Kulihat ada empat kursi kosong di meja makan, tanpa berfikir lagi, kulahap makanan itu.
Tengah malam pun tiba, kupandang langit kembali. Kulihat mereka masih sama, masih lengkap dengan bulan dan bintang. Lalu terbesit ingatan akan dirinya yang sangat kusayangi. Terlintas kembali harapan akan dirinya yang kembali bercengkrama denganku. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Aku pun terlelap dalam tidurku.
Tiba-tiba pintu kamar pun terbuka. Aku pun terbangun dan kulihat ada kedua orangtua dengan wajah kecewa. Mereka menatapku, menatap mataku. Wajah mereka semakin kecewa. Wajah itu mulai muncul ketika saudara kembarku yang cerdas dan berguna yang akan menjadi penerus keluargaku, meninggal karena melindungi diriku pada saat kecelakaan. Melindungi seorang adik yang bisu, yang lemah, selalu bergantung pada orang lain, dan tidak layak untuk meneruskan kekayaan keluarga.
Kedua orangtuaku menyalahkanku mengapa bukan aku saja yang mati pada saat itu. Terutama ibuku aku juga tidak menyalahkan ibuku karena hati seorang ibu mana yang tak hancur melihat seorang putranya yang sangat dibanggakan itu mati dalam sekejap mata. Seorang putra yang sempurna hilang dalam sekejap mata hanya karena seorang adik bisu. Sedangkan aku hanya dapat melihat kejadian tersebut tanpa dapat melakukan apapun selain melihat semuanya hilang dan selesai begitu saja. Setiap mereka menemuiku, mereka mengatakan hal yang kejam. Terkadang diriku bertanya-tanya dalam hati. “Inilah keluarga? Apakah keluarga seperti neraka?”.
Diriku yang bisu, tak bisa mengatakan apapun untuk mencegah. Terkadang kucoba bunuh diri untuk terbebas dari neraka ini. Tuk terbebas dari neraka ini. Lalu ketika berfikir hal itu, kedua orangtuaku mengucapkan kata-kata yang tak bisa lepas dari ingatanku, “Sungguh malang keluarga ini, memiliki seorang anak tapi malah menjadi kutukan tersendiri bahkan ketika memiliki yang sempurna. Dirinya terrenggut dari keluarga ini sungguh malang”. Entah kenapa, batinku terasa terhujam oleh sesuatu yang tajam. Diriku hanya bisa mengeluarkan air mata yang membasahi pipiku.
Pada akhirnya, hati ini tidak bisa menahan tekanan ini. Terkadang aku berpikir semua keadaan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Aku juga sering bertanya - tanya mengapa banyak orang yang mati bunuh diri dan menyerah pada kehidupan ini. Kini telah ku temukan jawabbannya memang bertahan dalam kehidupan tak semudah membalikan telapak tangan. Cerita yang indah, hangat dan sesuai ekspetasi mungkin hanya terangkai indah dalam fiksi berawal dari prolog kemudian diakhiri oleh epilog.
Bukankah sudah hebat diriku hingga sampai ke tahap ini. Rasanya tak mudah bagiku dapat terus bertahan dari kejamnya kehidupan. Mungkin kini aku sudah diperbolehkan menyerah dan selesai. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman, keluarga yang seharusnya menjadi tempat kembali yang paling nyaman, telah menjadi tempat penyiksaan bagiku. Diriku sudah tidak bisa menahan lagi.
Kupandang langit pada malam itu melalui jendela di kamarku. Kulihat langit yang sama seperti langit yang waktu itu kulihat. Mungkin sekarang aku bisa berkumpul kembali dengan dirinya, saudaraku yang tersayang. Lalu, terlihat darah yang mengalir deras di lantai, terlihat tubuh lemah yang tergeletak. “Inikah Keluarga?”, ucapku dalam hati.
Semakin lama, pandanganku kabur hingga akhirnya pandanganku hilang. Lalu ku dapati diriku di suatu tempat yang gelap diriku tidak dapat melihat apa - apa. Tak kudapati siapapun di sana, hanya kegelapan yang ada. Hingga tiba - tiba ada suara yang tak asing dengan sebutan yang tak asing juga bagiku "Fabregas" dalam bahasa Spanyol artinya 'menempa'. Tak kuasa aku terduduk lemas, seketika pikiranku mengingat tentang dirinya saudaraku.
"Fabregasku, kau ada di sini tak perlu khawatir aku selalu ada di sini untukmu tak perlu kau cari aku selalu di setiap langkahmu. Maaf sekarang bukan waktu yang tepat untuk kita berkumpul, masih ada orang - orang yang menunggumu kembalilah kamu pantas untuk kembali dan selalulah semangat Fabregasku! Aku bangga padamu.." ucapnya sambil memeluk hangat diriku, tanpa permisi air mataku membasahi pipiku. Setelah itu akupun tersadar di ranjang rumah sakit tubuhku terbaring menyatu dengan alat - alat medis. Saat ku buka mataku aku melihat ke arah ayah & ibuku yang terus menangis sambil mengguncang diriku berharap diriku sadar. Kini ku sadari bahwa disetiap waktu hidupku memang ada sisi tak sempurna aku hanyalah manusia biasa. Namun sekarang bagaimana caraku untuk menerima diriku dan berusaha semaksimal mungkin untuk ada dan membahagiakan orang di sekitarku sekaligus diriku sendiri.