Lagi-lagi dia menghilang dan tidak ada di sampingku. Aku baru saja selesai membeli perlengkapan bayi untuk anakku yang masih di dalam kandunganku. Namun, saat aku berjalan di keramaian mall bersamanya, dia sudah tidak menggenggam tanganku. Kemana perginya dia? Aku memutuskan untuk mencarinya di luar mall dan bertanya pada satpam yang berjaga di depan pintu masuk.
“Permisi pak, apa kau melihat seorang kakek tua, berkacamata, dan menggunakan jaket coklat muda keluar mall?” Tanyaku kepadanya.
“Apakah dia yang sedang duduk di bangku halte?” Aku melihat satpam itu menunjuk ke arah halte, tatapanku mengikuti arah mana tangannya menunjuk.
“Iya, itu dia. Terimakasih Pak. Saya permisi,” aku segera pergi menghampirinya.
“Yang disana, kau sedang mengandung. Istirahat dan duduklah.” Ketakutan itu kembali muncul, aku mendengar dia memanggilku tanpa menggunakan namaku, tapi kubuang jauh-jauh prasangka itu. Aku duduk di bangku, tepat di sampingnya. Sekalian naik bus saja, ucapku dalam hati. “Sudah berapa bulan?” Aku menoleh kebingungan saat dia menanyakan kandunganku. “Bayimu…berapa usianya?” dia bertanya lagi.
“Sudah hampir lahir, Selasa besok.” Jawabku dengan suara yang hampir bergetar. Dia berkata lagi, “kau pasti sangat senang…” Aku hanya tersenyum dan menjawabnya dengan singkat, “mungkin.”
Aku bisa melihat raut wajahnya yang berubah dari tersenyum hangat menjadi sedikit khawatir dan merasa bersalah. Dia mendekatkan posisi duduknya kearahku. “Bagaimana dengan keluargamu?” dia bertanya. Aku menghela napas kasar dan mataku mulai berkaca-kaca. Aku memalingkan wajahku dan menatap jalan raya.
“Aku hanya tinggal bersama ayahku. Tapi dia sangat sering sakit,” aku hampir tidak kuat untuk berkata-kata lagi, suaraku yang tadi sedikit gemetar. Lalu sentuhan lembut mendarat di bahuku, “Semua akan baik-baik saja.” kalimat itu menggenangi pikiranku. Aku tak mampu membendung air mataku. Hingga pada akhirnya, satu persatu tetes air mata mulai membasahi pipiku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Menatap jalan raya yang ramai sambil menunggu bus yang akan kami tumpangi sampai. Tak membutuhkan waktu lama, kendaraan umum itu berhenti tepat di depan kami.
“Itu bus kita,” aku segera beranjak dan mendekati pintu bus yang terbuka. Sedangkan dia hanya duduk di bangkunya dengan wajah kebingungan. Untuk kesekian kalinya aku menghela napas dan beberapa tetes air mata kembali keluar dari sudut mataku. “Ayah… ayo” Aku mengenggam tangannya lalu menuntunnya masuk kedalam bus. Bisa kurasakan dia sedang kebingungan.
Bus melaju memecah jalanan yang tampak basah. Melindungi kami yang di dalam dari derasnya air hujan yang berjatuhan secara tiba-tiba. Aku menatapnya sedari tadi. Kebingungan, itu yang bisa kubaca dari raut wajahnya. “Ini, semoga membantu,” aku memberinya secarik gambar hasil potret-an. Tergambar jelas senyumanku sambil memeluknya disitu. “Kau anakku?” Tanyanya. Aku mengangguk sambil menahan tangisku, sedangkan dia terus menatap foto itu. Suara hujan dan suara kendaraan yang berlalu lalang membantuku tetap tenang, hingga semua tangisanku berubah menjadi rasa kantuk. Semua berawal dari 4 tahun yang lalu…
***
Pagi itu aku berlari ke kamar Ayah dengan senyum lebar dan tawa kecil. Aku menemukannya masih terbaring di kasur. “Ayah, bangun! Ini sudah terang! Ayo pergi ketoko untuk membeli boneka yang ayah janjikan saat itu!” seruku dengan mata yang seolah bersinar terang. Hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke-17 dan aku masih menyukai boneka, tapi apa salahnya itu. Saat Ayah terbangun, yang kulihat darinya adalah… wajahnya yang kebingungan, “Ayah?” panggilku saat itu. “Memangnya…ini adalah hari spesial?” dia bertanya. Awalnya kupikir Ayah hanya lupa hari ulang tahunku, dan kupikir dia hanya pikun karena kebanyakan orang yang sudah cukup berumur pasti pernah mengalaminya. Namun hari ke hari, musim ke musim, hingga tahun ke tahun. Penyakit Ayah semakin parah, dan dia diagnosa memiliki penyakit Alzheimer. Hidupnya tinggal 8 tahun lagi sejak usiaku saat itu, dan kini tinggal 4 tahun lagi. Aku berhenti memikirkan tentang cita-citaku saat itu, dan yang kupikirkan hanyalah menikah dan harus segera memiliki anak setelah lulus SMA nanti. Aku ingin memenuhi cita-citanya, memiliki cucu sebelum hari kematiannya. Namun dia semakin lupa dalam segala hal, awalnya dia memang masih mengingat bahwa aku anaknya dan masih mengingat namaku. Namun di halte tadi… dia tidak mengingat siapa aku.
Beruntungnya, setelah aku lulus SMA dan mendapat pekerjaan, rekan kantorku memacariku dan singkat cerita kami menikah. Namun setelah ibuku, lagi-lagi aku kehilangan orang tersayangku. Saat aku hamil di usia 4 bulan, suamiku meninggal karena kecelakaan pesawat dalam perjalanan pulangnya dari dinas di Kalimantan. Aku tidak tahu lagi dan yang kumiliki sekarang hanya ayahku… yang sedang sakit. Aku mencoba tabah dan sabar dalam mengasuhnya. Ini sulit, hampir setiap pagi dia lupa akan segala hal, dia juga sering menghilang. Aku memberinya kalung dengan fotoku dan ada alamat rumah tertulis disana. Tapi aku sangat bersyukur setidaknya dia masih bersamaku, masih menemaniku disini.
***
Lamunanku terpecah saat speaker bus memberitahu bahwa tujuan yang kami tuju sudah hampir sampai. Aku kembali menatap kakek tua itu, dia masih menatap foto itu. Aku tersenyum kecil dan aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku masih memilikinya di dunia ini sudah bisa membuatku bahagia. Tidak peduli dia melupakanku, setidaknya aku masih mengingatnya. Bus berhenti di halte tujuan kami, aku menggandengnya dan menuntunnya keluar bus. “Tari… maafkan Ayah,” dia mengatakannya secara tiba-tiba. “Apa maksud Ayah? Aku tidak pernah mengatakan semua ini salah Ayah. Setidaknya Ayah masih disini dan aku tidak peduli kalau Ayah melupakan aku,” kataku dengan suara gemetar dan mata berkaca-kaca, namun senyum kecil hangat terukir di wajahku. “Ayo…kita pulang kerumah,” aku menggandeng tangannya dan menuntunnya menyebrangi jalanan. Hingga semuanya terjadi begitu cepat…
“AYAHHHH!!!”
Teriakku keras, mataku membelalak mengeluarkan air mata yang sangat deras. Aku terdiam, napasku tidak beraturan, jantungku berdetak kencang saat aku hanya bisa duduk menatap tubuh Ayah dari tepi jalan. Semua terjadi begitu cepat… dan aku belum memenuhi cita-citanya. Dia menyelamatkanku, tanpa ingat siapa aku.
“Padahal…tersisa satu pekan”
***
Aku menutup buku harian lamaku, dan tanpa sadar air mata menetes. Membaca hari-hari sulitku dahulu seperti membaca novel menyedihkan. Aku menatap jalanan dan sedang duduk di kursi halte. Saat aku menatap seorang wanita cantik di sampingku seketika aku tersenyum, itu mengingatkanku pada buku yang barusan kubaca. “Sudah berapa bulan?” tanyaku padanya. Aku bisa melihat wajah bingungnya. “Bayimu… berapa usianya?” tanyaku lagi memastikan dia mendengar apa yang kutanyakan.
“Sudah hampir lahir, Rabu besok,” dia berkata dengan suara gemetar, ini sangat mirip dengan kejadian di buku. “Apa semua baik-baik saja?” aku tahu dia sedang menahan air matanya. “Bayinya sudah hampir lahir… tapi ibuku sedang sakit.” Dia akhirnya menangis. Hatinya begitu lemah dan aku ikut merasakan sedih. Aku mendekat ke arahnya dan memeluknya, aku bisa merasakan kepalanya yang bersandar di bahuku dan membasahi pakaianku. “Semua akan baik-baik saja…” aku terus memeluknya hingga sebuah bus berhenti di depan kami. Dia segera menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Aku tersenyum khawatir kearahnya. “Itu bus kita,” dia berkata dengan suara gemetar. Aku memasang wajah terkejut dan hanya duduk di bangku halte dengan kebingungan. Lalu wanita itu menggenggam tanganku.
“Ibu… ayo.”
-Tamat-