Langit malam bagaikan kain hitam pekat tanpa bintang. Angin dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering. Di tengah keheningan, sebuah rumah tua berdiri megah, memancarkan aura misterius dan angker.
Rumah itu dikenal sebagai "Rumah Kosong", terbengkalai selama bertahun-tahun setelah ditinggali oleh penghuninya yang terakhir, seorang wanita tua bernama Nyonya Sulastri. Konon, Nyonya Sulastri meninggal dengan tragis di dalam rumah tersebut, dan arwahnya gentayangan, menghantui siapa saja yang berani mendekat.
Malam ini, sekelompok anak muda yang terdiri dari Ari, Rani, Budi, dan Dina, menantang diri mereka untuk memasuki Rumah Kosong. Mereka tidak percaya dengan cerita-cerita horor yang beredar, menganggapnya sebagai omong kosong belaka.
Dipimpin oleh Ari yang pemberani, mereka membuka gerbang berkarat dan melangkah ke halaman yang ditumbuhi rumput liar. Langit-langit teras dihiasi jaring laba-laba tebal, dan jendela-jendelanya tertutup rapat, membuat suasana semakin mencekam.
"Ayo, jangan takut!" seru Ari, berusaha menyemangati teman-temannya. "Kita hanya akan melihat-lihat sebentar."
Pintu depan rumah terbuka dengan derit nyaring, menggema di keheningan malam. Bau apek dan debu menyeruak, menusuk hidung mereka. Di dalam rumah, ruangan-ruangan kosong dan gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang kotor.
Rani, yang paling penakut di antara mereka, mulai merasa gelisah. "Aku tidak suka ini," bisiknya kepada Dina. "Ayo kita pergi saja."
Dina menepuk bahu Rani dengan tenang. "Jangan khawatir, kita bersama-sama," jawabnya.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara ketukan pelan dari balik pintu salah satu ruangan. Jantung mereka berdebar kencang, bulu kuduk mereka berdiri.
"Siapa itu?" tanya Budi dengan suara bergetar.
Perlahan, Ari mendekati pintu tersebut dan menempelkan telinganya. Suara ketukan semakin terdengar jelas, diiringi dengan suara desahan pelan.
"Ada seseorang di dalam," bisik Ari kepada teman-temannya.
Tanpa ragu, Ari membuka pintu ruangan tersebut. ruangan itu gelap gulita, hanya terlihat samar-samar sebuah kursi tua di sudut ruangan.
"Nyonya Sulastri?" panggil Ari dengan suara lantang.
Tiba-tiba, dari balik kursi tua, muncul sosok wanita berambut putih panjang dengan wajah pucat pasi. Matanya yang hitam pekat menatap mereka dengan tajam, dan mulutnya ternganga lebar, mengeluarkan jeritan yang menusuk telinga.
"Aaaaaaahhhhh!"
Ketakutan, keempat anak muda itu berlari keluar dari Rumah Kosong, tak berani menoleh ke belakang. Jeritan wanita itu terus menghantui mereka, membakar ingatan mereka dengan malam yang mengerikan di Rumah Kosong.
Sejak malam itu, mereka tidak berani mendekati Rumah Kosong lagi. Pengalaman mereka menjadi bukti bahwa cerita-cerita horor tentang Rumah Kosong bukan omong kosong belaka. Arwah Nyonya Sulastri masih gentayangan, menjeritkan kematiannya yang tragis, dan menghantui siapa saja yang berani memasuki wilayahnya.
Kisah mereka menjadi legenda di antara anak-anak muda di kota tersebut, sebagai pengingat bahwa dunia ini menyimpan misteri yang tak terungkap, dan terkadang, rasa ingin tahu bisa membawa konsekuensi yang mengerikan.