Inilah kisah saya ini kuberikan nama hanya bisa menyalahkan diri gw sendiri. Apa yang orang katakan itu memang benar saya hanya bisa menyalahkan diri saya.
Selama ini saya terus menahannya kekesalan, kebencian, emosi, amarah, ya semua manusia punya masalah nya masing-masing.
Sejujurnya saya tidak bisa bermaksud menyalahkan diri saya tapi hanya penyampaian rasa kesal saya. Selama ini saya terkadang mencoba berkomunikasi kepada semua orang tetapi kadang mereka, mencuekkan saya.
Entah dicuekkin atau gimana, selama saya di sekolah karena kemampuan saya yang payah. Saya tidak bisa bekerja sama dengan baik hingga saya hanyalah beban.
Ibu saya pernah berkata untuk saat ini saya harus fokus untuk belajar. Untuk bagaimana yang lain seperti membuat novel atau lainnya itu belakangan.
Hanya tetap saja untuk belajar dan saya melakukan itu. Saya mencoba belajar walau saya tidak pintar.
Kadang melihat orang-orang saya cukup iri dengan orang pintar, mereka bisa membanggakan orang tua dan lainnya. Tapi meski begitu orang pintar juga pasti mempunyai masalahnya tersendiri.
Jadi dibandingkan untuk merasa iri saya lebih baik fokus untuk apa yang saya inginkan. Saya menggambar, membuat komik, dan juga Novel.
Meski komik saya yang di kertas diejek oleh lainnya, begitu juga gambar saya yang sekarang aslinya tidak terlalu bagus dan memang jelek.
Nilai saya memang tidak terlalu bagus juga, kadang saya berbicara dengan orang tetapi mereka sedikit cuek dan tidak mendengarkan pembicaraan ku. Apakah itu salah ku juga mungkin aku salah karena beberapa orang berkata.
Bahwa saya pernah diajak ngobrol oleh seseorang tapi tidak mendengarkan. Meski saya sendiri tidak pernah satupun merasa ada orang yang mengajak ngobrol.
Saya hanya duduk sendirian selalu bahkan sejak zaman saya SMP. Ingin sekali berteman tapi aku rasa itu tidak akan berhasil.
Jikapun saya mencoba pasti saya tidak bisa menyambung dengan pembicaraan mereka. Tapi meski begitu aku masih punya beberapa teman yang cukup mengerti tentang diriku.
Sejujurnya aku cukup senang dengan itu semua, walau sekarang aku pun jarang melihat mereka kembali terutama di kantin. Lagipun kalau beberapa orang ngobrol saya tidak sepenuhnya bisa bergabung.
Dibalik itu semua saya berencana untuk pergi kos dan kuliah tujuan saya di PTN. Tetapi aku merasa seperti orang tua cukup ragu jika aku akan berhasil.
Memang sejujurnya saya tidaklah pintar dan aku juga sendiri ragu untuk bisa berhasil. Mungkin kesempatan ku ke terima PTN hanyalah 0.25% mungkin sangat tipis.
Adek saya merupakan adek yang sepenuhnya cukup menyebalkan gaya yang ngeselin hobi ngomong kasar. Laga sok jagoan jujur saya tidak menyukainya.
Orang tua saya juga terkadang suka sekali berantem mengenai uang. Tentang bagaimana saya kuliah atau tidak.
Satu demi satu kata terus datang di saya dari siri saya yang dibandingkan. Ataupun diri saya yang mungkin dibilang tidak bisa mandiri.
Entahlah saya harus berkata apa sih tapi mungkin saya ada trauma. Uh payah lagi-lagi saya menyalahkan diri saya sendiri.
----------------------------------------
Satu kata hanya itu saja