Sarah membuka matanya, perlahan meneteskan air matanya, teringat dengan mimpinya itu. Bagaimana bisa, ada yang melamarnya. Sedangkan Sarah, tak memiliki pacar sama sekali. Karna mimpi itu, Sarah tak bisa tidur kembali. Waktu sudah menunjukan pukul 00.00. Sarah pun, memutuskan untuk sholat malam, agar hatinya tenang. Setelah itu, Sarah kembali tidur.
Esoknya, Sarah sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Beberapa saat kemudian Sarah sampai kampus. Sarah memutuskan untuk mampir terlebih dulu ke kantin. Sarah memesan nasi soto untuk menu sarapannya pagi ini. Sembari sarapan, Sarah membuka laptopnya, untuk memeriksa tugasnya yang diberikan dosen. Sarah begitu terkejut, dengan laki-laki yang duduk di hadapannya itu. Dia “Nattan.” Sarah melirik Nattan diam-diam, dilihatnya wajah Nattan, wajah yang membuat Sarah merasa tenang. Wajah dinginnya, membuat Sarah penasaran, dengan seorang Nattan. Nattan masih menunduk menyantap bubur yang dipesannya ini. Nattan begitu cuek, tak memperhatikan Sarah. Hanya ia, yang bersikap seperti ini. Membuat Sarah, merasa jatuh cinta. Sikapnya begitu berbeda dengan laki-laki yang di kenalnya. Jauh berbanding terbalik dengan Kaha. Lelaki, yang selama ini mengejar Sarah. Hampir 10x, Sarah menolak Kaha. Namun lelaki agresif itu, terus-terusan mengejar Sarah. Membuatnya merasa risih dengan kekakunya Kaha.
Nattan pun beranjak, meninggalkan Sarah. Sarah hanya terpaku, melihat Nattan sudah pergi jauh dari hadapannya. Meninggalkan kesan yang mendalam untuk Sarah.
Nattan pun, berjalan menuju kursi dekat taman, dan segera duduk di sana.
Huff
Nattan menghembuskan nafas panjang. Nattan lelah, harus berpura-pura mengabaikan Sarah. Gadis itu, membuat hatinya terasa sakit. Bersikap tak peduli dengan gadis yang dicintainya. Nattan tak bisa berbuat apa-apa. Hatinya sudah merasa begitu sakit. Nattan tak berdaya kali ini, harus melepaskan gadis yang ia cintai. Nattan sudah kalah sebelum berperang. Nattan meneteskan air matanya. Merasakan sakit, begitu sakit, didalam hatinya. Harus merelakan gadis itu. Perbedaan mereka begitu jauh, tak mungkin bisa digapainya.
Sarah mendapat telpon dari abahnya, untuk segera pulang ke Semarang. Sebenarnya Sarah malas untuk pulang. Namun, dengan terpaksa Sarah harus pulang, pulang ke kota kelahirannya. Sarah mengajak ketiga temanya, Renata, Alea dan Aqila untuk menemaninya ke Semarang. Dengan catatan ketiga temanya harus memakai hijab. Sarah seorang putri dari Kiayi terkenal di Semarang bernama “Abdul Qodir Jaelani.”
Tepat pukul 07.00 malam, Sarah dan ketiga temanya sampai Semarang.
Sampai rumah, Sarah melihat aura yang tak mengenakan terpancar di wajah Abahnya. Sarah sudah bisa menebak. Abahnya akan melakukan apa untuk Sarah?. Dari dulu sampai sekarang, Sarah tak pernah bisa akur dengan Abahnya. Abahnya, berpikiran kolot tentang perempuan. Baginya, perempuan dan laki-laki tak bisa setara. Itu yang tak bisa Sarah terima!. Sarah, gadis modern. Jaman ini, laki-laki dan perempuan setara. Itu menjadi pemicu perang dingin antara Sarah dan Abahnya. Abahnya tak mengizinkan Sarah sekolah tinggi. Baginya, perempuan itu, harus menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak. Sarah tak mau itu. Sarah ingin sama seperti Saiful kakaknya. Dia bisa sekolah ke Kairo, Mesir. Sedangkan Sarah, tak boleh kuliah. Sarah merasa, Abahnya pilih kasih pada Sarah. Hanya Saiful yang selalu mendukung Sarah. Umi Khadijah-Ibunya Sarah, begitu bahagia menyambut kedatangan Sarah dan ketiga temanya. Hampir satu tahun, Sarah tak pulang ke Semarang. Untungnya ada Ayah Aqila, yang menjadi orang tua asuh, Sarah, Alea dan Renata. Sehingga Sarah, bisa kuliah di Bandung tanpa biaya dari Abahnya. Sarah bisa membuktikan pada Abahnya, Sarah bisa kuliah, tanpa bantuan dari Abahnya.
Baru sehari, Sarah berada di Semarang. Sudah ada beberapa, pemuda melamar Sarah. Sarah menolak mereka semua. Membuat Abahnya murka
“SARAH,” bentak Abahnya begitu murka, dengan kekakuan putri bungsunya ini.
Sarah menyaut panggilan dari Abahnya. Namun Sarah cuek, tak menyadari kesalahannya. Sudah beberapa kali, Sarah bilang pada Abahnya untuk tak menjodohkannya dengan pemuda manapun pilihan abahnya. Sarah hanya ingin kuliah, sekolah setinggi mungkin agar setara dengan Saiful. Sikap keras abahnya ini, tak mempedulikan perasaan Sarah. Suka atau tidak, Sarah harus menurut pada Abahnya.
“Kamu, kenapa selalu menolak lamaran yang datang padamu?” tanya Abahnya semakin murka. Melihat ekspresi wajah Sarah yang dingin dan santai.
“Abah lupa, Sarah, sudah bilang beberapa kali, Sarah ingin sekolah sama seperti, Mas Saiful. Kenapa abah, ga mau mengerti itu?” bentak Sarah, meluapkan semua amarah Sarah, didalam hatinya.
Plak
Tampar abahnya , pada pipi kanan Sarah membuatnya meneteskan air matanya. Hati Sarah begitu sakit karna, perlakuan Abahnya ini. Sarah pun berlaku meninggalkan abahnya dengan hati yang kesal di ikuti oleh, Renata, Aqila dan Alea yang ikut ke Semarang bersama Sarah.
Abahnya terpaku terdiam, menyadari kelakuan kali ini, membuat putrinya sakit hati. Abahnya meneteskan air matanya. Bukan maksudnya seperti itu. Abahnya hanya ingin Sarah sama seperti Uminya, diam di rumah menjadi ibu rumah tangga. Sebenarnya, bukan tak ada biaya untuk membiayai Sarah untuk kuliah sama seperti Saiful. Namun, bagi abahnya, anak perempuan lebih baik di rumah saja, dari pada harus bekerja. Lagi pula, pemuda yang mekamar Sarah bukan pemuda biasa. Mereka semua pemuda baik-baik yang sudah jelas latar belakangnya. Sarah tak akan kekurangan uang bila menikah dengan salah satu dari mereka. Sifat keras, Sarah menurun dari abahnya sendiri. Abahnya tak bisa menyalahkan siapapun karna sikap keras Sarah.
Esoknya, Sarah dan ketiga temanya, pulang ke Bandung. Meninggalkan luka dan sakit hati yang teramat dalam. Selalu saja, setiap pulang ke Semarang. Sekali berakhir seperti ini. Berakhir dengan pertikaian antara Ayah dan anak, yang sama-sama keras kepala.
Sampai Bandung, Sarah vidiocall Mas Saiful, kakaknya di Kairo, Mesir. Sarah memceritan semuanya pada kakaknya ini, dari mulai lamaran sampai tamparan dari Abahnya. Saiful geram mendengar pengaduan dari adik kesayangannya ini. Saiful juga tak menerima perilaku abahnya, yang keterlaluan pada Sarah. Saiful sedih, melihat Sarah terus-menerus menangis menceritakan semuanya. Bagi Sarah, hanya Saiful yang paling mengerti Sarah. Saiful, selalu ada untuk Sarah, walaupun berada di tempat yang jauh sekalipun. Saiful murka pada abahnya, saat Saiful menelpon abahnya di Semarang. Abahnya menyadari kesalahannya kali ini. Setelah di ceramahi habis-habisan oleh putra sulungnya. Abahnya menelpon Sarah untuk meminta maaf. Dan berjanji tak akan memaksa Sarah untuk menikah lagi. Dan mulai membebaskan Sarah, untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Tak sia-sia, Sarah menghubungi Saiful, buktinya Abahnya langsung luluh begitu Saiful yang bilang.
Setelah satu minggu, Sarah mulai melakukan aktivitas seperti biasanya. Hatinya sudah mulai tenang dan gembira. Akhirnya, abahnya mendukung Sarah penuh. Kini, Sarah bisa melakukan apapun yang Sarah inginkan dalam hidupnya.
Seperti disambar petir di siang bolong. Sarah baru mengetahui kenyataan, bahwa Nattan seorang Nasrani. Tanpa sengaja, Sarah melihat Nattan keluar dari Gereja hari itu. Harapan Sarah, untuk bersama Nattan pupus sudah. Sarah sudah kalah sebelum berperang. Sarah tak bisa berjuang untuk cintanya. Hatinya tersakiti, cinta pertamanya harus kandas sebelum Sarah memulai. Selama ini, Sarah memcintai tanpa tau, latar belakangnya. Mencintai pemuda, yang tak bisa bersamanya. Membuat Sarah harus ikhlas melepas laki-laki itu. Laki-laki, yang sudah mengetarkan hatinya, membuat dirinya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hari itu, tak hanya Sarah yang menangis. Nattan juga ikut menangis. Karna, pada akhirnya Sarah tau. Bahwa kisah mereka tak akan bisa berlanjut. Nattan maupun Sarah hanya bisa menyimpan rapat-rapat perasaannya didalam hati mereka masing-masing. Keduanya tak berdaya, dengan jalan takdir yang sudah tertulis untuk keduanya. Keduanya saling jatuh cinta. Namun keduanya tak bisa bersama. Perbedaan keyakinan itu, membuat cinta Sarah dan Nattan harus berakhir sebelum mereka memulai. Harus menepi, sebelum mereka berlabuh. Dan berakhir sebelum memulai.
Hari, berlalu begitu cepat berlalu. Sejak hari itu, Sarah dan Nattan tak bertemu lagi. Sarah pun baru mengetahui kalau, laki-laki itu bernama Nattan. Nattan hilang bagai ditelan bumi. Sampai lulus kuliah pun, Sarah tak bertemu dengan Nattan. Tak ada yang tau keberadaan Nattan di mana?. Mereka hanya tau, kalau Nattan kembali ke Medan. Hanya itu, informasi terakhir yang Sarah dapatkan.
Waktu begitu cepat berlalu. Sudah lima tahun dari terakhir, Sarah bertemu Nattan. Sarah pun sudah menikmati hidupnya saat ini. Sarah sudah bekerja sebagai editor di salah satu, penerbit yang berada di Jakarta. Sarah sudah benar-benar melupakan cinta pertamanya itu. Melupakan bahwa Sarah pernah mencintai Nattan. Sampai saat ini, hati Sarah masih tertutup. Tak ada laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Padahal sudah ada beberapa laki-laki yang hendak melamarnya. Sarah masih menolak mereka. Bukanya Sarah tak ingin menikah. Namun tak ada, laki-laki yang membuatnya jatuh cinta, seperti Nattan. Renata sudah menikah dengan Saiful begitu lulus kuliah. Renata sekarang berhijab. Mereka sudah dikaruniai empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Alea juga sudah menikah tiga tahun yang lalu dengan Habibie. Alea sedang mengandung anak kedua sekarang. Aqila tahun lalu sudah menikah dengan Galih. Hanya Sarah yang masih sendiri diantara teman-temannya.
Entah kenapa, Sarah jadi teringat Nattan kembali. Sarah mulai merindukan Nattan. Sarah sendiri bingung kenapa, bisa? Rindu pada seorang Nattan. Padahal Sarah tau, mereka tak akan bisa bersama. Sampai saat ini, Sarah tau tau, perasaan Nattan seperti apa pada Sarah? Sarah tak tau, kalau Nattan juga jatuh cinta pada Sarah. Sarah dan Nattan memang belum pernah pacaran sama sekali. Namun Sarah pernah, jatuh cinta pada Nattan. Itu menjadi kenangan terindah bagi Sarah. Walaupun cinta itu, tak terbalaskan.
Sarah mendapat telpon dari Mas Saiful. Ada, laki-laki yang mengajak Sarah bertaf'aruf. Sarah bingung, Sarah tak mengenal laki-laki itu. Namun Mas Saiful memaksa Sarah untuk pulang ke Semarang. Sarah pun menurut tanpa perlawanan. Renata bilang, kalau Sarah pasti tidak akan menolak laki-laki yang di pilihkan Saiful untuk Sarah. Sarah sudah lelah, di tanya kapan menikah?. Sekarang, Sarah tak memikirkan soal cinta lagi. Sarah hanya mencari Iman untuknya.
Sarah, pulang ke Semarang naik kereta. Dalam perjalanan pulang, entah kenapa? Akhir-akhir ini, Sarah kembali teringat Nattan. Padahal sudah lama, sekali Sarah tak ingat dengan Nattan.
Pukul 09.00 malam Sarah sampai di kota Semarang. Mas Saiful dan Renata menjemput Sarah di stasiun. Sarah terus menanyakan, siapa Laki-laki itu? Namun Saiful dan Renata masih merahasiakan dia dari Sarah. Renata dan Saiful, ingin Sarah sendiri yang melihatnya. Sarah semakin penasaran dengan laki-laki itu, membuat Sarah tak bisa tidur semalaman. Memikirkan siapa laki-laki itu? Yang mengajaknya bertaf’aruf.
Esoknya, Sarah diminta datang ke taman kota. Di antar Saiful dan Renata. Jantung Sarah, berdebar lebih cepat dari biasanya, Sarah semakin penasaran dengan laki-laki itu. Membuat hati Sarah bertanya-tanya dalam hatinya, siapa laki-laki itu? Sarah berjalan sesuai petunjuk dari Saiful dan Renata. Seorang laki-laki berdiri membelakangi Sarah. Sarah merasa tak asing dengan posisinya saat ini. Sarah merasa Dejavu pernah mengalami kejadian ini. Sarah masih memperhatikan laki-laki yang membelakanginya itu, hingga laki-laki itu menoleh. Begitu terkejutnya Sarah, melihat Nattan sudah berada di depannya. Sarah serasa mimpi bisa melihat Nattan kembali.
“Nattan,” panggil Sarah.
Nattan tersenyum pada Sarah, membuat Sarah seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kali ini? Beberapa kali, mengucek matanya. Berharap ini bukan mimpi? Rasa haru tumpah ruah dimatanya membuat Sarah meneteskan air matanya. Sarah menoleh pada Saiful dan Renata, mereka berdua tersenyum pada Sarah. Keduanya tau, yang terbaik untuk Sarah. Saiful dan Renata, menjelaskan sudah tiga tahun ini, Nattan mencari keberadaan Sarah. Nattan memutuskan Pernikahan dengan Devia. Nattan tak bisa memaksa diri, untuk bersama Devia. Nattan sadar, begitu besar rasa cintanya pada Sarah membuat Nattan berani mengambil keputusan yang besar dalam hidupnya. Untuk berpindah keyakinan. Awalnya, biar awal Nattan berpindah keyakinan demi bersama Sarah. Namun setelah belajar ilmu agama dari Saiful, Nattan mulai merasa nyaman dan tenang. Milih Islam sebagai Agamanya saat ini. Nattan sudah memantapkan hati, menjadi muslim seutuhnya. Nattan pun berganti nama menjadi, “Muhammad Yusuf.”
Sarah masih menangis sedari tadi, Rasa cinta Nattan begitu besar untuk Sarah. Sampai Nattan reka, datang ke Semarang untuk belajar ilmu agama pada Saiful. Tadinya Nattan ingin belajar agama langsung dari Abahnya Sarah. Namun, Saiful yang mengajukan untuk mengajari Nattan. Saiful ingin yang terbaik untuk Sarah. Saiful ingin Sarah juga bahagia. Saiful tau, perasaan Sarah pada Nattan seperti apa? Di tambah dengan cerita dari Renata, istri Saiful dan juga sahabat Sarah. Sarah benar-benar terharu. Dulu, Sarah hanya bisa bermimpi untuk bersama Nattan. Namun jalan takdir mereka, membawa Nattan kembali untuk Sarah.
Nattan mulai berjongkok, di hadapan Sarah yang masih menangis Karna, begitu bahagia. Bisa melihat dan bertemu dengan Nattan kembali. Bertemu dengan cinta pertama, mereka berdua.
“Sarah mau kah, kamu menikah denganku?” tanya Nattan sembari masih berjongkok dan memegang seikat bunga mawar merah di tangan kanannya.
Sarah teringat dengan mimpinya, 10 tahun yang lalu, ketika Sarah masih kuliah. Tenyata laki-laki yang tak terlihat itu, Nattan. Sarah menganguk, menerima lamaran Nattan. Rasa bahagia terpancar di keduanya, senyum sumringah mereka berdua torehkan.
Sarah dan Nattan, di soraki oleh Alea, Habibie, Aqila dan Galih. Semua sahabat-sahabat Sarah berkumpul untuk menyaksikan lamaran Nattan pada Sarah. Ternyata selama ini, semua sahabat Sarah tau, kalau, Nattan sudah menjadi mualaf. Hanya Sarah, yang baru tau. Namun tak masalah, Sarah tau belakangan. Karna kini, Sarah dan Nattan sudah bersama, walau masih lamaran. Namun pasti, Sarah dan Nattan akan menikah.
Selesai