Di sebuah gedung yang berisikan lautan kehidupan manusia, begitu juga di salah satu ruangan yang terlihat senyap berteman sepi, sesekali terdengar bunyi alat medis yang terdengar nyaring bagai alunan musik yang menemani dalam kesunyian.
Sosok laki-laki menatap lepas pada hamparan bintang yang bersinar layaknya lampu yang menyala menghiasi kota. Sesekali pandangannya teralih pada sesosok gadis cantik yang tengah terbaring di sebuah ranjang seakan sedang menikmati mimpi indahnya.
“Sampai kapan kau memejamkan matamu. Apa mimpimu lebih menarik daripada diriku?" gumamnya dengan raut tak terbaca yang terlukis di wajahnya.
Seketika ingatannya terlempar jauh dimana mereka sedang menikmati kebersamaan dengan canda, tawa, dan tangis yang menjadi musik pengiring kisah mereka.
****
“Tempat ini sangat indah, terima kasih telah mengajakku kemari. Aku senang!" ucap sang gadis dengan suara seindah dawai malaikat surga.
“Kau menyukainya?" tanya sang pria sambil menatap mata gadis kesayangan. Bola mata sebesar bola pingpong dan berwarna hitam kelam, sekelam malam itu seakan menarik dirinya untuk menceburkan diri dan menyelami keindahan bola mata tersebut. Sang gadis mengangguk lembut, “ya, aku menyukainya."
“Kalau begitu aku akan sering membawamu kemari hingga kau tak ingin kemari lagi karena bosan," balas pria itu.
Si gadis hanya tersenyum tipis pipinya bersemu merah dan rasa hangat menjalari seluruh tubuhnya. Tangannya sibuk menyapukan kuas pada sebuah kanvas.
“Gambar apa yang sedang kau lukis?" tanya si pria penasaran. Pasalnya sang gadis tak pernah mengizinkan ia melihat lukisan yang tengah digarap oleh gadis kesayangannya itu.
“Rahasia! Kau akan mengetahuinya jika waktunya sudah tiba," jawab si gadis, membuat pria itu mendengus.
***
Waktu terus berjalan beberapa momen telah mereka lalui, banyak yang berubah seperti halnya tumbuhan yang lambat laun akan menjadi kering dan layu begitu pun dengan kondisi gadis cantik ini. Kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.
Tubuhnya yang begitu rapuh seperti barang yang seakan bisa pecah dan hancur kapan saja, daging yang sudah menyusut dan lenyap entah ke mana, hanya menyisakan kulit yang menempel pada tulang.
****
Hari-hari yang dilalui teramat berat untuk mereka, terutama si pria seolah ada batu besar yang membebani pundak pria tersebut kala melihat gadisnya hancur sambil menatap genangan darah yang berada di tangannya dengan pandangan kosong.
Malam itu di sebuah taman kecil dengan angin yang bertiup lembut, walau udara dingin menembus tulang si gadis berkata, “Berjanjilah padaku kau akan selalu bahagia, meskipun tak ada aku di sampingmu!"
“Bicara apa kau? Kita akan terus hidup bersama-sama selamanya, Sayang," jawab pria tersebut.
“Aku tahu waktuku tak akan lama lagi."
“Jika begitu aku akan meminta Tuhan untuk menghentikan waktu, agar kita bisa selalu bersama," jawab pria tersebut.
“Permintaan konyol, Tuhan takkan mungkin menghentikan waktu, ini semua sudah takdirku. Aku berjanji akan terus bersamamu meski tidak berada di sampingmu."
Pria itu enggan menjawab, ia lebih memilih memeluk gadisnya dengan penuh hati-hati.
****
Pria itu menggenggam tangan kekasihnya, “Kumohon bangunlah. Aku merindukanmu, aku merindukan kebersamaan kita, aku merindukan semuanya. Jika aku bisa meminta pada Tuhan aku ingin meminta tolong agar menghentikan waktunya sekarang juga."
Akan tetapi sepertinya takdir berkata lain, di malam itu pula alat penunjang hidup sang gadis telah memekik nyaring, menandakan semua telah berakhir, gadis itu telah pergi meninggalkan sesosok pria yang terlihat mengenaskan, tembok kokoh yang selama ini menjadi dinding hancur seketika kala dokter menyatakan gadisnya telah berpulang pada Sang Pencipta.
***
Usai pemakaman pria itu hanya menatap sebuah kanvas yang masih tertutup oleh sebuah kain.
“Dia meninggalkan ini untukmu, dia ingin kau melihat dan menyimpannya," begitu yang ibu gadis itu katakan.
Dengan segera saja ia melepas kain yang setia membungkus kanvas itu, betapa terkejutnya ia. Tak lama linangan air mata yang telah menganak sungai itu keluar dari mata tajamnya.
Lukisan itu, sebuah lukisan ia dan gadisnya. Di mana gadisnya sedang mendekap dirinya tak lupa sepasang sayap indah yang berada di balik punggung sang gadis semakin mempercantik penampilan gadis tercintanya itu.
Selamat ulang tahun. Aku selalu bersamamu selamanya.
“Hiks ... hiks ... hiks ... aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu!" pekik pria tersebut teredam dalam tangisnya.
Inspirasi cerita: Lagu Toki wo Tomete by Tohoshinki & Blossom by Ayumi Hamasaki