Aku memang bukan satu-satunya orang yang mencintaimu. Tapi, bahkan bumantara pun tahu jika tak ada orang yang mencintaimu, aku tetap akan berdiri di belakangmu, bak tiang yang menopang sebuah bangunan, ada tapi luput kau sadari.
Aku akan berada di sisi yang tak terjamah pandangmu, mengikutimu dari kejauhan. Dan pabila suatu hari langkahmu terasa berat, berbaliklah, niscaya akan kau dapati aku tak pernah pergi.
Satu waktu, kau boleh saja tak sejalan lagi dengan cinta dan harapan itu. Tapi aku kan tetap bersamamu dalam jejak-jejak yang lekang oleh waktu.
Jika di suatu masa, kau tak menemukan tempat teduh untuk singgah dari perjalananmu mencari cinta, berhentilah dan temui aku, aku bisa menjadi tempat di mana pelukmu membutuhkan ruang. Aku bisa menjadi rumah tempat rindumu berpulang. Aku bisa menjadi bahu saat lelahmu berjuang.
Percayalah, aku bisa menjadi apapun yang kau mau. Menjadi payung agar kau tak basah oleh hujan kekecewaan. Menjadi tempat sepi di mana bisa kau tangisi dukamu tanpa takut dihakimi. Menjadi teduh yang barangkali bisa meneduhkan jiwamu dari riak-riak sakit hati.
Dan bahkan jika ada kesempatan yang memaksaku pergi, percayalah, hatiku akan tetap bersamamu.
Sebab kau bukan hanya cintaku, tapi juga jiwaku. Kau adalah seseorang yang kuinginkan hidup bersama hingga ujung usia.
Kau bagi hidupku bukanlah sekadar cinta biasa. Sejatinya, kau ialah segalaku. Yang menjadikanku hidup. Hadirmu seperti oksigen untuk membuatku tetap bernafas. Jika bisa, pahamilah aku sebagai seseorang yang tulus mencinta walau memilikimu hanyalah anganku belaka.
Kau juga harus tahu bahwa aku, telah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu dalam sebuah ketidaksengajaan. Aku tak akan menuntut balasan, sebab katanya, cinta tak boleh karena keterpaksaan.
Bagiku, mencintaimu dalam hening adalah cara paling bijak untuk menjaga cinta itu tetap rahasia. Jangan sadarkan aku, sebab ilusi ini terlalu indah tuk kuakhiri.
— HK