Aynaza Rhayhani, gadis dari pelosok desa yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Gadis ini hidup dengan keterbatasan ekonomi keluarga yang membuatnya nyaris putus sekolah, untuk menyambung hidup dan tetap bersekolah, Aynaza membantu sang ibu berjualan kue basah. Setiap pagi ketika ia hendak berangkat ke sekolah ia terlebih dahulu mengantarkan kue-kue titipan ibunya ke warung-warung. Sepulang sekolah Aynaza mengambil uang hasil penjualan kue ke warung-warung yang tak menentu jumlahnya, kadang sedikit kadang banyak dan tak jarang Aynaza dan ibunya merugi.
Di suatu pagi seperti biasa, Aynaza membawa keranjang kue ketika hendak berangkat sekolah, ia berpamitan dengan sang ibu dan memberi senyuman manis nya di pagi itu, berjalan dengan semangat di temani terik matahari pagi yang hangat. Masih belum sampai di warung-warung, Aynaza merasa aneh dengan sepatu yang di pakainya, seperti banyak pasir dan kerikil kecil masuk kedalam sepatu yang di pakainya, langkahnya terhenti sembari menunduk melihat sepatunya ke bawah yang sudah terbuka lebar di bagian depan.
"Yaampun, sepatuku". Ucap Aynaza dengan nada merintih.
"Memang sepatuku ini sudah tak layak pakai, tapi apa daya ibuku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membeli sepatu baru, yasudahlah nanti sepulang sekolah aku kepasar saja untuk sol sepatu ini".
Dengan kondisi sepatu nya yang sudah tak layak di pakai jalan, ia tetaplah melanjutkan perjalanan nya ke sekolah tanpa mengeluh sedikitpun di perjalanan. Sesampainya di sekolah, ia menjadi pusat perhatian teman-teman nya karna jalannya yang sudah mulai tertatih karna sepatu yang di pakainya sudah tak nyaman untuk dipakai berjalan di tambah lagi banyak kerikil tajam yang masuk kedalam sepatu yang membuat kaki nya sakit saat itu.
"Hahaha, yaampun anak pedagang kue keliling sepatunya jebol yaa, kasian banget sih kamu, pasti ga mampu beli sepatu baru". Ejekan pedas yang di lontarkan temannya di depan banyak orang.
Seketika orang-orang sekeliling Aynaza langsung menoleh ke arahnya.
Dengan nada yang rendah dan santun Aynaza menjawab ejekan temannya itu
"Sepatu aku masih layak di pakai kok, lagian inikan bisa di sol, nanti ketika aku sudah besar aku akan menjadi pengusaha sepatu sukses dan terkenal, aamiin". Ucapnya sembari tersenyum.
Temannya yang merasa seorang anak penjual kue tidak akan mungkin meraih mimpi menjadi pengusaha sukses pun kembali melontarkan ejekan.
"Yaelah mimpi, anak pedagang kue kaya kamu emang bisa jadi pengusaha sepatu sukses? Ga mungkin".
Tetapi lagi dan lagi senyuman dengan penuh kerendahan hati selalu diberikan Aynaza kepada teman-teman yang selalu mengejeknya, tanpa sedikitpun membalasnya.
Hidup dengan kesederhanaan dan di pandang sebelah mata karena mimpi nya tak sedikitpun menggoyahkan tekad Aynaza untuk menjadi seorang yang sukses, terlebih ia mempunyai sang ibu yang patut ia bahagiakan.
***
Beberapa tahun kemudian, sekarang Aynaza sudah lulus SMA ia bertekad untuk memeluk mimpi kecilnya yaitu ingin menjadi seorang pengusaha sepatu sukses. Aynaza membangun toko kecil-kecilan yang membuat produk sepatu lokal untuk di pasarkan melalui media online.
Sedikit demi sedikit yang nyata menjadi bukit, hari demi hari penjualan sepatu nya semakin meningkat, yang membuatnya harus mencari lebih banyak karyawan untuk membantunya.
Kini ia berhasil membayar hinaan-hinaan yang dulu selalu di lontarkan temannya kepadanya, ia berhasil memeluk mimpi nya sekarang. Berawal dari tidak mampu membeli sepatu, menjadi bahan cemoohan, mimpinya di remehkan, sampai saat ini semua ia gapai dengan bermodal tekad dan niat yang di wujudkan dengan usaha dan doa.