Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan bertemu dengan pencuri waktu. Dia adalah seorang pria misterius yang bisa menghentikan, memutar balik, atau mempercepat waktu sesuka hatinya. Dia selalu mengenakan jas hitam, topi fedora, dan kacamata hitam. Dia tidak pernah bicara, hanya tersenyum dan mengedipkan mata.
Aku pertama kali melihatnya di stasiun kereta api, ketika aku sedang bergegas menuju kantor. Dia berdiri di depan pintu masuk, menatap jam tangannya. Tiba-tiba, semua orang di sekitarnya berhenti bergerak. Aku merasa aneh, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Aku terus berlari menuju kereta yang sudah bersiap berangkat.
Tapi sebelum aku bisa naik, pintu kereta tertutup dengan keras. Aku mengetuk pintu, berharap ada yang membukanya. Tapi tidak ada yang merespon. Aku melihat ke dalam kereta, dan aku terkejut. Semua penumpang di dalamnya tampak membeku. Mereka tidak berkedip, tidak bernapas, tidak bergerak sama sekali. Seperti patung.
Aku menoleh ke arah pintu masuk, dan aku melihat dia lagi. Pencuri waktu. Dia masih berdiri di sana, tapi kali ini dia menunjuk jarinya ke arahku. Lalu dia mengangkat tangannya, dan memutar jarum jam tangannya ke belakang. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa tubuhku bergerak mundur, tanpa aku kendalikan. Aku melihat sekelilingku, dan aku menyadari bahwa waktu sedang diputar balik.
Aku melihat orang-orang yang tadi berhenti bergerak, sekarang bergerak lagi. Tapi mereka bergerak ke arah yang berlawanan. Aku melihat kereta yang tadi sudah berangkat, sekarang kembali lagi. Aku melihat pintu kereta yang tadi tertutup, sekarang terbuka lagi. Aku merasa seperti terjebak di dalam film yang diputar mundur.
Aku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku mencoba berlari, tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa mengikuti arus waktu yang dibalik pencuri waktu. Aku tidak tahu apa yang dia mau dariku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan berhenti, dan membiarkan aku hidup normal lagi.
Tapi dia tidak berhenti. Dia terus memutar balik waktu, sampai aku kembali ke tempat aku bangun pagi tadi. Aku melihat jam di dinding kamar tidurku. Jam menunjukkan pukul 06.00. Aku merasa bingung. Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Apakah aku masih hidup?
Aku mendengar suara pintu diketuk. Aku berjalan menuju pintu, dan membukanya. Aku terkejut. Di depan pintu, ada pencuri waktu. Dia masih mengenakan jas hitam, topi fedora, dan kacamata hitam. Dia masih tidak bicara, hanya tersenyum dan mengedipkan mata.
Lalu dia memberiku sebuah amplop putih. Aku membukanya, dan aku melihat sebuah surat. Surat itu berisi tulisan tangan yang rapi. Aku membacanya, dan aku tercengang. Surat itu berisi pesan dari pencuri waktu. Pesan itu berbunyi:
"Halo, aku pencuri waktu. Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku hanya ingin memberimu sebuah pelajaran. Pelajaran tentang betapa berharganya waktu. Aku tahu kamu adalah orang yang sibuk, yang selalu terburu-buru, yang tidak pernah menikmati hidup. Aku tahu kamu adalah orang yang tidak pernah menghargai waktu. Aku tahu kamu adalah orang yang selalu menunda-nunda, yang tidak pernah menyelesaikan apa yang harus kamu selesaikan, yang tidak pernah mencapai apa yang harus kamu capai. Aku tahu kamu adalah orang yang selalu menyesal, yang tidak pernah bahagia, yang tidak pernah puas.
Aku ingin kamu berubah. Aku ingin kamu menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dikembalikan, tidak bisa diulang. Aku ingin kamu menggunakan waktu dengan bijak, dengan produktif, dengan bermakna. Aku ingin kamu hidup dengan penuh semangat, dengan penuh cinta, dengan penuh syukur.
Aku harap kamu mengerti maksudku. Aku harap kamu tidak marah padaku. Aku harap kamu bisa memaafkanku. Aku harap kamu bisa menjadi orang yang lebih baik.
Sekarang, aku akan pergi. Aku akan meninggalkanmu. Aku akan mengembalikan waktu yang telah aku curi darimu. Aku akan memberimu kesempatan untuk memulai hari ini dengan cara yang baru. Aku akan memberimu kesempatan untuk memulai hidup ini dengan cara yang baru.
Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Selamat menikmati waktu.
Tertanda,
Pencuri Waktu."
Aku menatap surat itu dengan tak percaya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa menatap pencuri waktu, yang masih tersenyum dan mengedipkan mata.
Lalu dia mengangkat tangannya, dan memutar jarum jam tangannya ke depan. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa tubuhku bergerak maju, tanpa aku kendalikan. Aku melihat sekelilingku, dan aku menyadari bahwa waktu sedang dipercepat.
Aku melihat hari berganti malam, malam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Aku melihat hidupku berlalu begitu cepat, tanpa aku sadari. Aku melihat diriku bertambah tua, bertambah lelah, bertambah rapuh. Aku melihat orang-orang yang aku cintai pergi meninggalkanku, satu per satu. Aku melihat dunia berubah, menjadi lebih kacau, lebih gelap, lebih dingin.
Aku merasa takut. Aku merasa sedih. Aku merasa menyesal. Aku ingin berhenti. Aku ingin kembali. Aku ingin hidup.
Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa mengikuti arus waktu yang dipercepat pencuri waktu. Aku tidak tahu kapan dia akan berhenti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia akan berhenti, dan membiarkan aku mati dengan tenang.
Tapi dia tidak berhenti. Dia terus mempercepat waktu, sampai aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku tidak bisa apa-apa lagi.
Aku mati.
Tamat.