"Oy Vio. curang lu mainnya."
"Hehe, itu adalah strategy. Stratagy adalah bagian dari game. Hahaha."
"Sempak mamak mu di pakai di kepala, hah ..."
Diruangan kamar tidur, terlihat tiga orang pemuda yang sedang berkumpul seperti biasa mereka sedang mampir kerumah Vio sembari bermain Pela Station 3.
Terdapat Elzi yang sedang menunggu giliran untuk bermain, untuk menggantikan salah satu dari kedua orang yang sedang bertarung.
"Kalian main lah yang tenang, aku juga ingin cepat cepat menentukan siapa pemenangnya."
Elzi disisi lain mulai bosan menunggu keduanya bermain.
Tok,
Tok,
Tok.
Terdengar pintu kamar tersebut di ketuk dari luar.
"Vio ini ibu... Ibu ingin memberikan cemilan untuk kalian bertiga."
"Masuk bu..."
Pintu kamar tersebut terbuka dan memperlihatkan wanita dewasa dengan wajah cantik berkulit putih terawat dengan baik. Rambutnya yang berwarna merah muda terurai panjang dengan payudara besar dan bokong yang sangat menggoda.
Dia adalah marika, ibu dari Vio yang sangat cantik dan baik. Banyak tetangga atau pria lainnya yang mengaguminya karna bentuk tubuhnya, tahi lalat kecil di bawah bibir sebelah kanan yang membuat pesona dari Milf segar menjadi sangat menggairahkan pria lainnya.
"Tante Marika, terima kasih ..."
Elzi beranjak berdiri untuk menerima nampan berisi makanan dan minuman jus segar.
"Ya iya, sama sama. Elzi, kalau tolong terus lah berteman dengan Vio ya ..."
Suara yang sangat merdu di tambah senyum manisnya, membuat Elzi klepek klepek.
"Ah... Iya. Tentu saja bu Marika, hehe."
"Kalau sudah ibu segeralah pergi dari kamar ini."
"Oy oy, Vio. Jangan terlalu kasar kepada ibumu loh."
"Ck, berisik lu."
Vio segera memerintahkan ibunya untuk pergi dari kamarnya dengan nada kasar, sementara Elzi juga menegur Vio yang telah berkata kasar kepada ibunya.
"Baiklah kalau begitu, ibu akan kembali kedapur dulu
Setelah itu, mereka melanjutkan permainannya. Game yang sedang di mainkan oleh mereka adalah game sepak bola yang terkenal di kalangan anak anak muda.
Masing masing orang memiliki 2 slot tim yang akan bertanding.
Tim Vio sebagai tuan rumah kali ini adalah, Mantater Uvited dan Liver.
Tim Oddo adalah, Ral Medit dan Baye Mencret.
Sedangkan Elzi adalah, Mantater Cita dan Beceklona.
Pertandingan telah mencapai semi final, dimana di antara tim dari tuan rumah tidak pernah kalah.
Saat ini adalah Ral Medit vs Liver, dan di menangkan oleh Liver dengan skor 5-4.
Pertandingan semi final lainnya adalah Mantater Uvited vs Mantater Cita.
"Sialan, aku kalah kah."
"Ini demi kebaikan ku jadi pasrahlah dan terima nasib mu, Oddo."
Oddo mengeluh dan ejek oleh Vio setelahnya.
"Sekarang giliran ku kah..."
Elzi mulai bersemangat dan mulai memegang stick gamenya.
Yang membuat ketiga orang itu bersemangat bermain game tersebut, bukanlah karna game itu seru dan apapun. Melainkan adalah taruhanya yang amat amat mendebarkan.
"Saatnya untuk menghancurkanmu Elzi. Ini semua demi kebaikanku, aku tidak akan menyerahkannya begitu saja."
Vio yang mempertaruhkan nama baik keluarganya sangatlah tidak ingin kalah dari sepak bola ini.
Pertandingan di mulai dengan Vio yang mulai agresif di awal laga, sementara Elzi hanya bertahan dan mengandalkan serangan balik.
"Kau akan kalah Elzi. Rasakan ini.
<<Tendangan badai, motamat salah...>>
Goal...
"Ck, kuat sungguh kuat."
"Haha, cebong kecil sepertimu tidak akan bisa menang melawanku."
"Heh, sombongnya. Lihat saja. Bola ini masih berputar sepetri roda kehidupan yang amat pahit Vio. Kau akan merasakan nasib yang buruk setelah menjebol gawangku."
"Huh,tunjukan itu, keparat..."
Waktu pertandingan di menit ke 30, skor sementara adalah 1-0. Dengan Liver memimpin.
Pertandingan terus berjalan dan tetap saja, Elzi masih hanya bisa bertahan dari gempuran pemain para pemain Vio. Namun ada suatu kesalahan dari Vio yang membuat Elzi bisa menyerang balik.
Bola di sisi kiri lapangan di bawa oleh pemain Mantater Cita dengan sangat cepat, dan crossing yang cantik di mengarah tepat ke tengah kotak pinalty. Namun kiper dari Liver bisa meninju bola agar menjauh dari gawang, naasnya bola tersebut tepat mengenai pemain Mantater Cita dan di Shoting langsung dari luar kotak pinalty.
"Rasakan ini..."
<<Dragon Shot...>>
Elzi berteriak sembari menendang bola mentah itu, bola melesat seperti peluru dengan sangat cepat.
Goal...
"Tutor nihh... Tutor..."
Elzi bergembira dengan sangat berlebihan dan membuat bajunya, dia menunjukan perutnya yang sedikit sicpack kearah Vio.
"Tutor tutor... Hahaha."
"Ck, keberuntungan doank itu. Jangan pernah memaksakan keberuntunganmu Elzi..."
Vio yang sedikit kesal dengan goal hetrick itu mulai bermain dengan serius.
Pertandingan babak pertama Mantater Cita vs Liver berakhir dengan skor semntara 1-1.
"Tunggu Vio, aku ingin mengubah taktik terlebih dahulu."
"Taktik mu semua telah terbaca oleh ku, tapi ya sudahlah..."
Setelah Elzi merubah seluruh formasi timnya, babak kedua kemudian di mulai.
Kali ini adalah tim Elzi menyerang dengan agresif, namun masih bisa di imbangi oleh tim Vio.
Hingga 5 menit terakhir skor masih saja 1-1, pertandingan sengit antara mereka mulai memanas dengan banyak serangan yang cepat dan pertahanan yang kuat. Namun ketika waktu menunjukan keangka 90 menit, pelungan dari tendangan shoting Tim Elzi berhasil di tepis orang kiper tim Vio.
Menghasilkan tendangan pojok untuk tim Elzi, ini adalah saat saat penentu dimana jika tim Elzi mencetak gol. Maka di Final nanti akan pertandingan akan semakin sengit lagi.
Jika bola tidak masuk maka akan di adakan babak tambahan 30 menit lagi.
"Huh, tegang juga rupanya..."
Oddo yang terbaring sembari memegang buku mangga mulai penasaran dengan siapa yang akan memenangkan pertandingan semi final ini.
<<Tendengan melengkung pojok.>>
Elzi mulai berteriak lagi dan melakukan tendangan pojok untuk mengcrossing kepemain yang telah bersiap berada di dalam kotak pinalty Tim Vio.
Bola itu melesat dan berhasil menciptakan moment gemilang, dimana bek sedikit tertinggal.
Bola di sundul kearah gawang, bola kencang itu berhasil di tepis oleh kiper tim Vio. Namun bola tersebut terlepas kearah sisi lainnya dan hendak masuk kedalam gawang.
Vio dengan cekatan menghalangi bola itu menggunakan bek lainnya dan hendak menjauhkannya, tapi bola yang di tendang menjauh itu terbentur penyerang dari tim Elzi. Membuat bola tersebut masuk kedalam gawang...
Goaaall...
"Goooll... Tutor ni boz tutorr..."
Elzi mulai bergembira kembali dan mulai berdiri dengan memutar mutar bajunya di atas kepalanya...
"Ck, sialan..."
"Uhh, bagus El... Kau melakukannya..."
Dibalik rasa frustasi Vio, disisi lain Oddo mulai memuji Elzi yang memenangkan pertandingan. Tersebut.
Pertandingan selesai dan di menangkan oleh tim Elzi dengan skor 2-1.
"Huhh, aku tidak sabar mencicip martabak legit itu..."
Elzi mulai membayangkan martabak legit yang akan di dapatkannya setelah dia bisa menang di final nanti...
Benar.
Pertaruhan di antara ketiga orang ini adalah mendapatkan hak untuk menjamah tubuh indahnya Marika, ibu Vio yang sangat di nantikan oleh Elzi dan Oddo.
Mereka melakukan kompetisi ini adalah untuk pertama kalinya ketika mereka makan siang di kampus.
Tentu saja bukan hanya sekedar Vio saja yang mempertaruhkan ibunya, untuk di minggu selanjutnya akan ada pembagian untuk ibunya Elzi dan ibunya Oddo. Dan juga pertandingan ini bukan hanya bermain Pelas tation 3 saja, tapi banyak lagi game yang akan mereka mainkan.
Untuk sekarang adalah Ibu Vio yang menjadi bahan taruhannya, jika Vio menang di final. Maka ibunya akan aman dari jamahan salah satu temannya.
Jika Vio kalah oleh salah satu dari mereka, maka dia harus ikhlas memberikan persetujuan kepada sang pemenang untuk berbuat semau mereka terhadap ibunya.
Bukan hanya hari ini saja, melainkan si pemenang akan melatih ibunya selama 3 hari penuh untuk membuat ibunya semakin menyukai p____ mereka.
Vio tidak bisa menolak karna mereka adalah teman dan sahabat dia, begitu pula dengan Oddo dan Elzi. Mereka juga rela melakukan ini karna rasa persaudaraan mereka.
Lanjut ketopik, pertandingan Final antara tim Vio, yaitu Mantater Uvited Vs Mantater Cita, tim Elzi.
Pertandingan sengit tanpa goal di babak pertama, setelah jeda babak kedua. Elzi juga menganti formasi timnya, namun tetap saja hasilnya nihil. Yakni, 0-0. Hingga masuk ke babak tambahan.
Mereka berdua mengganti pemain yang lelah dengan pemain yang segar di dalam pertandingan itu. Banyak peluang yang terbuang dan kesalahan kesalahan lainnya.
Mereka berdua terus membaca pergerakan operan, crossing dan seluruhnya. Hingga mereka mencapai menit terakhir skor masih imbang 0-0, dan dimulailah babak adu pinalty.
"Huh, gila cok... Ini sangat lah sengit... "
Oddo yang melihat mengalihkan perhatian penuhnya kearah layar televisi mulai berguman.
"Kalau begitu aku yang pertama."
"Konsepnya kan memang seperti itu, P1 pasti pertama, kintil."
Tendangan pertama di ambil oleh tim Vio.
<<Dark fires...>>
Berteriak Vio menekan tombol menembak kearah kiri, Elzi dengan cekatan menebaknya dan tendangan itu gagal masuk.
Tendangan kedua di ambil oleh Tim Elzi.
<<Ice shot...>>
Tembakan bola kencang menuju ketengah melambung jauh keatas, tendangan itu tidak masuk kegawang.
Skor sementara
Mantater Uvited : -.
Mantater Cita : -.
Tendangan ketiga dan keempat pun sama, tidak ada yang masuk kedalam gawang.
Hingga tendangan ketujuh dan kedelapan, tembakan bola tidak ada yang masuk kedalam gawang masing masing tim.
Skor saat ini adalah.
Mantater Uvited : -,-,-,-,
Mantater Cita : -,-,-,-
"Tendanganmu selalu saja melambung jauh dari gawang Elzi, sebaiknya kau menyerah lah."
Vio mulai mengejek Elzi karena tembakan bola yang dia tendang selalu saja menjauh dari gawang dan tidak pernah tepat sasaran, kiper tim Vio pun hanya menganggur dari dari tadi.
"Aku sudah bilang kan, kalau aku tidak bisa adu pinalty."
"Alesan kau, bilang aja noob..."
"Terserah kau lah..."
"Tapi tendanganmu semuanya terbaca olehnya loh, Vio kau harus hati hati. Tapi aku sih mengharapkan Elzi untuk menang, hahahaha."
Oddo yang fokus menonton jalannya laga adu pinalty ini mulai memperingat Vio, namun tetap mengharapkan Elzi untuk menang.
Tendangan kesembilan Tim Vio ditepis lagi dan lagi oleh kiper Elzi, terakhiran tendangan kesepulih ini mulai menjadi penentu kemenangan.
<<Explotion...>>
Pemain tim Elzi mulai menendang bola dengan... Pelan.
Dan mengarah kearah kiri sedangkan Vio yang meremehkan kemampuan Elzi beradu pinalty tidak menggerakan kipernya.
"Goal... Tutor boss tutor..."
"Anjir lu nipu gua hah..."
"Hahaha, kalau minjem kata katamu tadi. 'itu adalah strategy dan Stratagy adalah bagian dari game. Hahaha."
Elzi tertawa keras hingga terdengar ruang dapur tempat ibunya sedang memasak makan malam untuk mereka bertiga.
"Ara ara... Mereka sepertinya sangat bersenang senang..."
Marika yang mendengar itu mulai bergumam tentang mereka bertiga, dia belum mengetahui kalau taruhan yang di terapkan mereka adalah tubuh miliknya yang semok dan menggoda.
Setelah jam menunjukan kearah jam 7, ibunya mulai naik ketangga dan mengetuk pintu kamar anaknya.
"Vio, makanan sudah siap loh."
Segera pintu terbuka dan muncul Elzi di balik pintu kamar.
"Elzi, yang lainnya?"
Hm, mereka sedang tertidur tante. Mau aku bantu menyiapkan makanan untuk mereka, sementara mereka masih tertidur.
"Hm, sebenarnya tidak perlu sih. Kalau begitu, tolong bangunkan mereka terlebih dahulu. Tante akan menunggu di ruang makan."
"Baik tante..."
Setelah itu, Elzi, Vio dan Oddo turun dari tangga menuju ruang makan yang telah di siapkan oleh Marika.
"Sebelum makan, mari kita berdoa dulu kepada dewa."
""Baik.""
Elzi dan Oddo menanggapinya dengan semangat, namun Vio terlihat sedikit murung setelah kalah taruhan.
Mereka berempatpun makan bersama layaknya keluarga.
"Vio, apakah kamu sakit..."
Marika bertanya Vio yang sedari tadi terdiam.
"Ya, iya bu aku mungkin tidak bisa menghabiskan makananku. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar."
Vio beranjak pergi kekamarnya dan mulai memberi waktu untuk Elzi. Sang juara yang memenangkan taruhanya.
"Aku juga tante, aku ingin membawa beberapa air putih kekamar tan."
"Boleh koq, ambil sangat di dapur."
"Siap."
Setelah meminta izin membawa air minum, Oddo berjalan kekamar Vio.
"Hm, mereka sepertinya sangat kesal sekali denganku tan."
Elzi lalu memulai percakapan dengan Marika yang masih memakan makanannya.
"Hm, memangnya kenapa Elzi?."
Marika mengunyah makanannya dan menelannya, setelah itu bertanya kepada Elzi perihal apa yang terjadi di antara mereka.
"Mereka sebenarnya hanya kalah dariku saat bermain game sepak bola, tan."
"Cuma gara gara itu. Huh, anak anak jaman sekarang memang sering mempermasalahkan masalah sepele seperti itu bukan..."
"Ya, mungkin seperti itu lah tan. Oh iya, ngomong ngomong ayah Vio ada dimana? Aku jarang sekali melihatnya?"
Elzi mulai mengobrol santai dan menanyakan tentang suami Marika yang tidak pernah kelihatan sejak 1 bukan terakhir.
"Hm, dia sedang bekerja di luar kota selama 1 tahun terakhir."
"Ohh..."
Walaupun Elzi memang sudah mengetahuinya, tapi dia terus menanyakan topik yang berhubungan dengan suaminya. Marika tanpa rasa curiga apapun menjawab dengan polosnya, dia juga sepertinya mulai teringat ketika terakhir kali berhubungan dengan suaminya. Membuatnya sedikit trangsang dan ingin segera menyelesaikan mskan malam ini.
Setelah selesai makan, marika menyuruh Elzi kembali kekamar. Sementara dia mulai mencuci piring di wastafel.
Dia lalu sedikit trangsang dan mulai menggesekan martabak legitnya ke ujung siku wastafel, dia membayangkan dirinya dan suaminya sedang berhubungan tubuh.
Elzi yang melihat itu mulai melancarkan aksinya dan secara tiba tiba muncul dari belakang Marika dan memegang pinggiran payudara besarnya.
"Tu-tunggu Elzi, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pergi ke kamar?"
"Oh, ini sangat buruk tante."
Elzi lalu menggesekan Pedang Excaliburnya ke bokong indah milik marika, sementara marika yang lengannya penuh dengan sabun cuci piring tidak bisa bergerak untuk menghentikanya.
Sensasi kedua payudaranya yang di usap dan belahan bokongnya yang di gesek, mulai terasa oleh dirinya dan mulai sedikit trangsang karnanya.
"Jangan khawatir tentang semua ini, tante."
Elzi mulsi menekan pedangnya dan meremas peyudaranya dengan sedikit lebih kuat.
"Aaa, aaah."
"Hehe..."
Elzi tersenyum kecil, setelah mendengar rintihan Marika yang merasakan kenikmatan.
"Tii-dak, Elzi. To-tolong berhenti mamainkan payudaraku."
Elzi mulai memasukan lengannya kedalam apron berwarna merah muda tersebut, hingga lengannya bisa memegang payudara yang masih tertutup baju.
"Jika kamu masih tidak mau berhenti, aku akan marah loh! Aaahhh..."
Karna celana Elzi adalah cenala training, jadi ketika pedangnya mengeras, seluruh sensasi pedang tersebut terasa di bokongnya marika...
"Ba-bahkan, jika kau adalah teman masa kecilnya Vio. Ini sudah sangat berlebihan... Aaah..."
"Hm, tapi kamu sepertinya menikmatinya bukan? Kenapa tidak mau jujur setelah memasang wajah seperti itu?"
Wajah memerah dan mulutnya terbuka sedikit, serta pergerakan lengannya yang mencuci piring tersebut mulai terhenti dengan erangan kecil yang sedikit keluar dari mulutnya.
"So-soalnya, aku su-sudah lama ti-dak... Ahhh."
Memanfaatkan Marika yang fokus merasakan sensasi pedang Elzi di bokongnya dan juga kelengahannya yang membalas ucapan Elzi dengan gagap.
Elzi mengangkat bajunya dan memasukan harinya kedalam bra Marika, setelanya dia mulai mencubit kecil puting Marika.
"He-hey, apa yang kamu sentuh itu, he-hentikan."
Marika mengeliat kecil ketika Elzi memelintir putingnya.
"Heh, ini benar benar sudah mengeras bukan? Ternyata kau benar benar menikmatinya, tante."
"I-itu hanya i-imajinasimu kan? Si-siapa juga yang akan bergairah setelah di sentuh oleh, anak ah, nakal... Sepertimu, aaah..."
Elzi mulai mencubit putingnya dengan sedikit lebih kuat, dan megesek gesekannya.
"Heh, kalau kamu tetap keras kepala."
"Ehh... Aaahh..."
Elzi memindakan lengannya untuk masuk kedalam celana jeans Marika.
"Tu-tunggu... Kenapa kamu menyentuh itu..."
Elzi menyentuh bagian luai Cd Marika, terasa sedikit basah dan lengket di jari jari Elzi.
"Heh, kamu bilang tidak akan bergairah tapi. Diaini sudah basah dan banjir loh."
Sembari membalas Marika, Elzi megesekan kedua jarinya di belahan martabak legit di di balik cd yang sudah basah.
"Ti-tidak, itu hanya kecipratan air dari wastafel, aaahhh..."
"Gawat, karna suamiku sudah sebulan pergi. Aku jadi benar benar merasakan permainnya."
"Aaaahhh... Aaah.... Aaahh..."
Pemainan Elzi mulai semakin kuat dengan mengesekan pedangnya di bokong, lengan kirinya yang memainkan puting, dan lengan kanannya yang memainkan martabak legit, sehingga membuat Marika memasang wajah Ahegao. Marika yang merasakan semua itu, mulai mengejang dan ingin segera masturbasi. Namun permainan Elzi berhenti sesaat sebelum Marika Masturbasi.
"Ehh..."
Marika mulai mengeluarkan suara terkejut setelah Elzi berhenti memainkan kedua lengan dan pedang di bokongnya.
"Kenapa, tan. Apakah tante mau lagi?"
Marika membuat wajah memerah karna malu, setelah dia menguatkan dirinya untuk membalas ucapan Elzi.
Segera kedua lengan Elzi memeluk tubuh Marika dari belakang, dan membuka kancing celana Jeans Marika.
"Eh... Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja aku akan melangkah ketahap selanjutnyanya."
Cd bewarna hitam terlihat jelas dari belakang tubuh Marika setelah Elzi menarik turun celana Jeans Marika.
Setelah itu, Elzi mulai membuka celana training dan celana dalamnya, memamerkan pedang Excalibur yang tidak bisa di lihat oleh Marika. Elzi lalu menempelkan padangnya ke bokong dengan niatnya untuk membuat Marika penasaran dengan ukuran pedang Excaliburnya.
"Aaahh, i-ini sangat panah. Pedangmu sangat panas..."
"Hm, apakah kau ingin aku menusukannya kedalam martabakmu itu."
"Ti-tidak, jangan, to-tolong."
"Kalau begitu, aku akan meminta jalan alternatifnya. Karna aku tidak bisa tenang, kecuali aku keluar setidaknya sekali."
"Eh..."
Wlzi mulai memasukan pedang Excaliburnya kedalam cd Marika dan menyentuh martabak legitnya.
"Jika kamu ingin menjepitnya dengan pahamu, maka aku tidak akan melakukan apa apa lagi loh..."
"Ba-baiklah, a-ku hanya menjepitnya dengan pahaku kan? Tapi hanya untuk itu saja ya."
"Baiklah..."
Segera Elzi menusukan pedang Excaliburnya hingga menembus kedepan. Marika yang masih terkejut berusaha melihat kebawah, dia lalu mendapat celana dalamnya yang menyembul di dorong oleh pedang Elzi.
"Wow, anak ini. Sepertinya sangat luar biasa!"
Elzi menggosok gosok pedangnya hingga membuat bilahnya tergesek hendak memotong martabak legit Marika. Sensasi dari gesekannya membuat Marika merintih dan memikirkan hal hal yang luar biasa.
"Aaah... Aaahhh... Aaaah..."
"Hm, sepertinya martabakmu sudah semakin basah loh!"
Aaahh...
Aahhh..
Aahhhh..
"Sepertinya kulit mu sangat berkeringat deras... Huuup... Aroma feminim yang menggoda ini..."
"Di-diam! Cepatlah keluar untuk cepat cepat mengakhiri ini."
Elzi juga mulai mencium aroma yang sangat niknat yang di keluarkan dari martabak legit marika.
"Jangan terburu buru... Kau juga... Sepertinya menikmatinya bukan..."
Aaaahhh
Aaahhh
Elzi lalu mengangkat kaki kanan Marika hingga terlihat jelas Martabak legit yang basah tertutupi oleh celana dalam yang menyembul karna dimasukan pedang Excaliburnya.
Aaaahhh...
Semakin Elzi mengesekannya, semakin Marika merasakan sensasi pedang itu dan mulai memikirkan sesuatu di kepalanya.
"Aku harus bertahan dari ini, dan membiarkan dia kelur dengan cepat. Tak ku sangka Elzi melakukan apapun yang dia inginkan dengan tubuhku ini."
Aaaahhh...
"Gawatt... Aku ini muali terasa nikmat."
Aaaahhhh...
Marika menjulurkan lidahnya dan dan mengeluarkan sedikit air liur dari mulutnya.
"Oy oy, apakah kau memang menikmatinya? Dengan membuat wajah mesum seperti itu, bahkan air liurmu sedikit keluar loh."
Elzi melepaskan genggaman di payudaranya dan mulai mencubit lidah Marika yang sedikit keluar, sehingga Marika terua mengeluarkan air liur dari dalam mulutnya dan menetes ke pakaiannya.
"Ini menakjubkan, pedangnya lebih besar dari suamiku... Dan juga sangat mesum, tidak seperti suamiku..."
Mengerang dengan nada sedikit kencang karna menikmati sensasi pedang Elzi, hingga terdengar ke arah kamera yang di pasangkan oleh Elzi di tempat yang sedikit memperlihat kan wajahnya bergairah dan ahegaonya.
Kamera Smarfphone itu terhubung kekamar Vio yang melihat ibunya sedang merasakan kenikmatan.
"Sialan kau Elzi, hingga membuat ibu ku seperti itu."
"Yah... Bukankah itu hal wajar. Mau sekuat apapun mental ibumu, jika ayahmu tidak memberikan hal seperti itu selama satu bulan. Pasti ibumu akan cepat di tundukan olehnya bukan."
"Emang sih. Aku juga merasa kesal kepada ayahku yang tidak oernah menghabiskan waktu dirumah, ketika aku sedikit selidikinya. Ayahku malah masuk kedalam hoten cinta dengan membawa beberapa gadis muda."
Vio juga mulai mengeluh tentang ayahnya kepada Oddo, dan menceritakan tentang hasil penyelidikannya terhadap ayahnya sendiri.
"Tenang saja, aku dan Elzi juga tidak akan membuat ibumu menjadi liar dan selingkuh dengan laki laki lain selain kita. Aku juga telah memerintahkan bawahan ayahku untuk mengancam siapa saja yang mendekati ibumu dengan niat perselingkuhan."
"Tai... Tetap saja nasib ibuku juga akan berselingkuh dengan kalian bukan?"
"Ya, itu sih sudah menjadi kesepatan kita kan? Lagi punya menjaga ibumu dari pria brengsek lainnya adalah bertujuan dengan ini."
Setelah pembicaraan itu, mereka melihat kembali adegan Marika dengan Elzi di dapur.
Aaaahhh...
Aaaahhh...
Aaahhh...
"Duh bagaimana ini, aku mulai memikirkan. Jika pedang ini masuk kedalam tubuhku..."
Aaaahhhh....
"Hm, cairan ini... Naah, bagaimana? Apakah Tante ingin merasakan sensasi tertusuk oleh pedangku? Apa yang akan tante lakukan?"
Aaaahhh....
Semakin lama gesekan Elzi semakin kuat dan Marika semakin merasakan sensasi berdenyut yang di keluarkan oleh pedang yang bergesekan itu."
"A-aku... Aku... Tidak... Ke... Kelu..."
Setelah mendengar kata tidak, Elzi segera mencabut penisnya dari dalam celana Marika. Itu membuat Marika terkejut, karna dia yang sedikit lagi masturbasi oleh gesekan pedang itu tdak mencapai klimaks.
"Hm, jika kau tidak mau. Maka aku akan berhenti sebelum kamu keluar. jika kamu menginginkan lebih, mungkin di malam hari aku bisa menemanimu tidur loh..."
"Eehh..."
Elzi lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Marika dan berbisik.
"Hanya kita berdua dan tidak akan terganggu oleh orang lain, tante."
"Hah?"
"Tidak, Marika..."
"Hmpp..."
Elzi sedikit menjilat telinga Marika dan menjauhkan dirinya dari Marika. Setelah itu Elzi kembali kekamar Vio, tidak lupa dia membawa Smartphonenya.
"Ti-tidak... Memanggilku dengan namaku itu terlalu nakal..."
Marika lalu terduduk lelah di lantai dapur.
Aaahhh... Hik...
Marika sedikit mengeluarkan air matanya, dengan cairan yang keluar dari vaginanya.
Bersambung...