Apa kabar dengan gadis Lima tahun yang lalu? itu yang setiap saat aku pikirkan. Mungkin Karena dosa besar tersebut yang terus menghantui pikiranku.
Lima tahun sebelumnya..
Aku telah menodai gadis lugu tak berdosa. Disaat ibuku pergi ke singaPore bersama ayah dan kedua adik Perempuanku, aku dirumah sendiri bersama bibi Rina dan Nina. Hal tersebut kesempatanku memasukkan kedua temanku untuk pertama kalinya mencoba minuman Se Tan tersebut.
Setelah kedua temanku merasa mabuk, mereka pulang bersama sopir mereka. Lalu aku merasa tersiksa sendirian. Aku merasa pusing tubuhku panas aku berjalan gontai menuju kamarku, namun setelah ingin membuka pintu justru melihat sosok Nina yang terlilit handuk putih hendak masuk kamar Sakina yang kebetulan kamarnya Nina juga.sepertinya nina seusai membersihkan diri di malam hari. Enntah mengapa aku merasa darahku berdesir, ingin sekali menjamah gadis tersebut meski tahu Nina seorang pembantu dirumahku.
Pada akhirnya tujuanku teralihkan oleh Nina. Dengan sigap Aku meruda paksa Nina hingga membuatnya hamil. Bi Rina yang kamarnya di bawah tidak mendengarkan teriakan Nina meminta tolong karena saat itu hujan sangat lebat. Nina tidur di kamar adikku paling kecil, yang bersebelahan dengan kamarku. Berhubung keluargaku pergi, Nina dan aku saja yang tidur di atas.
"Argh.. mas Friz tolong jangan lakukan itu kepada saya" Nina mengiba.
baju yang Nina kenakan aku tarik paksa, dengan terkejutnya aku melihat keindahan surgawi milik Nina. Untuk pertama kalinya aku melakukan hal Se breng sek ini kepada seseorang wanita. Bahkan dengan pacarku saja hanya sebatas melumat bibir dan meremas gunung kembarnya atas dasar sama sama menikmati. Tetapi untuk Nina,justru aku yang telah melakukan lebih segalanya dari pacarku. Aku telah menodainya dengan paksa.
"Tidak Nina, tolong aku sebentar. Ini akan terasa nikmat" Aku terus memaksa.
dengan keadaan berseragam SMA Aku menggunakan dasiku untuk mengikat tangan Nina.lalu mengikat kakinya dengan gesper. Aliran bening dari ujung mata gadis itu terus mengalir.
Aku menyusup ke kamar adikku yang juga tempat tidur Nina, langsung secara paksa Melu mat bibir dan menindih Nina. Aku di rasuki oleh nafsu . Tak butuh waktu lama, Aku mengerang panjang dan tertidur lelap disamping Nina.Lalu Nina beranjak meninggalkanku dengan tubuh terhuyung, mungkin betapa sakit jiwa raga Nina saat itu.
Noda darah di spreiku. Bukti nyata bahwa Aku telah merenggut keperawanan seorang gadis.tampaknya aku lengah tak menyadari ada bercak merah disana.
Nina juga tidak pernah berani bercerita kepada siapapun bahwa ia di per kosa oleh anak majikannya tersebut. Sebab Aku selalu mengancamnya untuk tidak mengadu kepada siapapun dirumahku.
***
Tiga hari berlalu...
Keluargaku telah pulang, mamaku tertuju di kamarku . wanita 45 tahun tersebut mencari cari putra kesayangannya namun tidak ada tampak batang hidungnya. tak sengaja mama menyibak sprei yang tampak berantakan.
"Ya tuhan Friz, berantakan sekali kamarmu nak?" Rutuk mamaku.
"Rina!.. Nina!.. dimana Friz!.." teriaknya mama memanggil kedua pembantunya.
"Mengapa ini be- ran- Takan?" Mama memelankan teriakannya, begitu keterkejutannya tampak ia melihat bercak darah segar di sprei puteranya.
"Kalian gak usah kemari Rin, nin! Ibu saja yang bereskan!" Teriak mama dari lantai atas kepada kedua pembantunya yang ada di bawah.
'Ya tu-haan puteraku? Siapa gadis itu'. Mama terus membatin dengan penuh curiga ia tetap berusaha tenang.
***
Sesampainya Aku dirumah..
"Friz mama tanya serius sama kamu" mama menarikku kekamar dan menunjukkan bercak merah tersebut kepadaku agar mau menjelaskannya.
"Siapa gadis itu Friz, apa dia Cantika pacar kamu? Tolong jawab jujur! Mama tidak akan mengadu kepada ayahmu terlebih dulu jika kamu jujur" tegur Tania.
"argh.. bo doh sekali kamu Friz.. sangat ceroboh!" Aku berteriak dalam batin melihat ada tanda merah disana. Lalu Aku mengacak rambutku yang tidak bisa mengelak lagi.
"Nggak mah, itu aku batuk keluar darah kemarin demam, serius" Aku mengelak dan terus berbohong.
"Baiklah mama mau tanya Bi Rina dan Nina siapa gadis yang berani masuk kamarmu. Jangan jadi pria breng sek kamu Friz, jika dia menuntutmu nanti bagaimana?"
"Serius mam, Friz gak mungkin lah berbuat nakal dengan anak gadis orang"
"Mama nggak bo doh ya Friz, mama tau itu darah apa"
"A---rghhh.. sudahlah terserah mama" aku begitu saja meninggalkan mama yang masih terus mencecarku.
___________
Namaku Frizz, saat itu usiaku 17 tahun tepatnya kelas 3 SMA. Aku memiliki seorang pembantu rumah tangga yang masih terbilang di bawah umur, dia adalah Nina usianya baru 16 tahun sama dengan adik Perempuanku Nesia. Aku juga memiliki adik perempuan setelah Nesia yang bernama Sakina. Ia berusia 6 tahun, Nina lah yang sehari - hari menemani disaat ibuku bekerja.
Aku telah membuat hamil Nina, namun aku tidak ingin mengakuinya. Aku terus mengelak dan terus berusaha agar Nina pergi dari kehidupanku dengan sendirinya.
"Aku bersumpah demi nama Tuhanku, aku tidak rela dunia akhirat diperlakukan seperti ini!" Dengan lantang Nina berteriak nyaring ke arahku. Ia terkejut saat menyadari pelipis matanya berda rah akibat kudo rong keras hingga terjatuh, terbentur pinggiran sudut meja.
Aku bergeming melihatnya tanpa rasa bersalah. Kutegakkan kepala dengan wajah datar. Takkan ingin menunjukkan rasa ibaku.
"Seumur hidup kamu tidak akan pernah bahagia, hidupmu takkan tenang, Friz!" Untuk pertama kalinya wanita di depanku ini tak memanggilku mas Friz lagi, tapi nama. Aku tahu betapa marahnya dia saat ini. Namun aku tetap diam, seolah tak terusik dengan perkataannya barusan. Sudut hatiku malah meremehkan.
"Kamu tidak menginginkan anak ini bukan?" Tangannya menunjuk ke arah perut. "Aku harap selamanya kamu tidak akan pernah punya anak!"
Duaar!!!
Aku terkejut, refleks menatap ke arah jendela, menatap langit yang telah menghitam sejak tadi.
Entah kenapa saat kalimat itu terucap, langit tiba-tiba seolah berteriak seakan ikut memakiku. Bunyi guntur dan kilatan petir datang bersamaan disertai gemericik suara hujan yang turun setelahnya membasahi bumi dengan deras.
Aku tercengang dibuatnya. Menatap ke atas dengan hati penuh tanya.
Duarrrr..
Apa ini? Apa Tuhan baru saja merestui ancamannya?.