Malam itu, nyai fitri tergepoh-gepoh berlari bersama seorang lelaki, membawa beberapa selimut dan barang menuju sebuah rumah yang agak ribut.
"Nang, ikat tali rumbia ini dibawah tangga, letakkan kepala nanas ini dibawah rumah. Aku naik dulu membantu istrimu melahirkan. Cepat!"
Ucap nyai fitri sambil bergegas membawa tapih(selendang) naik ke atas rumah banjar berbubungan teras tinggi itu.
"Aaah! Nyai sakit sekali perutku ini!" Teriak seorang perempuan dengsn perut yg besar, dia adalah ningsih yg akan melahirkan.
"Nyai! Air ketuban anakku sudah pecah!" Teriak ibu ningsih yg sedang dampingi anaknya itu.
Nyai fitri pun segera ke depan selangka ningsih, dan mulai memeriksa.
"Sudah mulai pembukaan, dorong perlahan dari atas, ndu nafas perlahan dan hajan" ujar nyai memberikan arahan. Sambil dibantu oleh ibunya ningsih dan beberapa warga wanita lainnya.
Teriakan kesakitan ningsih terdengar hingga keluar. Anang yg berada di luar bersama beberapa warga pria lainnya berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya anang. Seiring jalan waktu berlalu, teriakan keras terdengar. Disusul dengan tangisan kencang dari seorang bayi.
"Alhamdulillah! Selamat nang! Kamu jadi seorang bapak sekarang!" Ucap salah satu warga memberikan selamat.
"Alhamdulillah! Anakku!" Ucap anang sambil berlari naik tangga, tak sengaja kaki nya menghayut tali rumbia yg sudah diikat. Saking senang nya anang lari ke atas dan melihat istrinya yg kelelahan tetapi sambil menggendong anaknya di dada yg bertutupkan tapih.
"Selamat nang, anaknya perempuan" ucap nyai fitri.
Angin tiba-tiba menjadi dingin, dan wajah ningsih mulai memucat. Anang mengambil bayi kecil itu dan mengumandangkan adzan ditelinga nya.
"Ningsih kamu kenapa? Ningsih!?" Teriak ibu ningsih khawatir anaknya mulai pucat dan mulai kehilangan kesadaran.
Nyai mulai merasakan suatu kejanggalan.
"Nang, benar kamu sudah ikat tali rumbia yg kuberikan dibawah tangga?" Tanya nyai memastikan.
"S-sudah nyai.." ucap anang memandang heran dan khawatir juga kepada istrinya.
"Aku keluar dulu, ada tamu tak diundang datang!" Ucap nyai mengeluarkan parang yg dililit tali tasbih.
Keluarga Anang hanya memandang heran sekaligus takut. Siapa kah tamu tsk diundang yang disebutkan oleh nyai?
Nyai turun dari teras bubungan tinggi eumah banjar tersebut, dan melihat tali rumbia yg diikat sudah putus karena tidak sengaja tersandung anang tadi.
Para warga yg melihat nyai fitri turun dengan parang pun bertanya-tanya.
"Nyai ada apa ini? Mengapa kamu mengeluarkan parang ditengah malam begini?" Tanya seorang warga.
"Ada tamu tidak diundang datang kemari. Dia bukan warga disini. Berani sekali menantang ku. Wahai makhluk durjana yg bersekutu dengan syoiton!" Teriak nyai sambil berjalan dan menunjuk ke bawah sangkar ayam.
Terlihat dibawah sangkar ayam itu, sebuah benda bergerak gerak, rambut hitam gimbal, berbau amis dan berbau kotoran ayam. Wajah itu mendongak dan melotot tajam ke arah nyai. Dengan wajah dan mulut berlumuran darah, mahluk itu menggertakkan gigi nya mengajarkan kebencian Karena telah diganggu.
Dia adalah kuyang. Hantu jadi-jadian yang sering menganggu orang hamil dan melahirkan.
"Pergi kau dari desa ini, atau ku cari kau dan ku bunuh kau bersama dengan tubuhmu itu!" Ujar nyai sambil menodongkan parang ke makhluk itu.
Makhluk itu menggertakkan gigi lagi, dan menatap dengsn benci. Mengeluarkan suara bergresik dan dengusan layaknya anjing.
"Kau menantang ku!" Ujar nyai, kemudian berlari kearahnya smbil mengangkat parang itu. Membacakan doa-doa. Kemudian menebas makhluk itu. Terdengar suara ringkikkan seperti babi yg di sembelih. Setelahnya makhluk itu menghilang dengan bau amisnya.
"Nyai, apa yang sebenarnya terjadi!?" Tanya warga.
"Ada perusuh datang mencoba menganggu desa ini. Ada baiknya kita adakan acara selamatan Jum'at nanti." Ucap nyai sambil memasukkan kembali parang ke sarungnya.
Nyai kembali naik ke rumah banjar tempat anang dan ningsih berada.
"Nang, ambilkan janar kuning, bawang merah, dan benang hitam" ucap nyai kepada Anang.
Anang segera mengambilkan barang yg disuruh nyai dan menyerahkan nya.
Nyai mulai meracik janar kuning dan bawang merah, menyapukannya ke kening leher, dada, pusar, dan telapak kaki, ningsih dan anak bayinya sembari membacakan doa-doa.
Kemudian nyai membuat gelang daru benang hitam, mengikatkan gelang tersebut di tangan dan kaki ningsih juga bayi nya.
"Nang, nanti adakan pengajian sekaligus doa selamatan, buatkan juga bubur merah dan putih. Kubur tembuni bayi mu, masukkan helaian daun jeruk nipis, dsn juga daun nanas kedalam. Kamu mengerti?" Ucap nyai.
"Baik nyai, akan saya lakukkan" ucap anang.
"Nyai bagaimana kondisi Ningsih? Apakah kita bawa dia ke rumah sakit?" Tanya ibu ningsih.
"Kondisinya lebih baik sekarang. Tetapi jika kalian khawatir. Kalian bisa bawa dia nanti untuk diperiksa dan dirawat. Ingat jangan dilepas gelangnya, ini janar kuning oleskan terus ke ibu dan si bayi di tempat-tempat yg aku oleskan tadi. Sudah selesai sekarang, aku harus pulang juga" ucap nyai sambil membenahi barang bawaannya.
"Itu tapihku di anakmu, kembalikan nanti kalau sudah di cuci bersih, ya sudah aku pamit dulu, ingat pesan pesanku" ucap nyai menuruni tangga.
"Nyai! Terima kasih banyak!" Ucap anang sambil menyalami nyai.
"Iya sama-sama"
-selesai-