Senja itu turun perlahan di kota kecil tempat Anara tinggal, meninggalkan langit jingga yang pecah oleh garis-garis awan. Dari balik jendela toko bukunya, ia melihat hujan mulai menitik, jatuh perlahan seperti sedang menghafal ritme yang tenang. Anara menyukai hujan, tapi lebih tepatnya—ia menyukai seseorang yang selalu datang saat hujan turun.
Rey.
Pemuda berjaket abu, dengan rambut yang selalu sedikit basah karena terlalu malas membuka payung, dan senyum yang entah kenapa membuat jantung Anara ikut berlari. Rey selalu datang tepat di saat hujan turun, seolah langit adalah pengingat yang tidak pernah gagal.
“Boleh numpang nunggu reda?” Rey bertanya sambil tersenyum, seperti biasa.
Anara mengangguk, pura-pura sibuk merapikan buku. “Silakan. Rak belakang ada novel baru.”
“Tapi yang baru bukan novelnya,” Rey membalas cepat. “Yang baru… rasa rindunya.”
Anara membeku sejenak. Rey memang sering bercanda begitu, dan biasanya Anara hanya mengabaikan. Tapi kali ini, ucapannya terasa terlalu jujur—atau mungkin Anara yang mulai ingin berharap.
Hujan semakin deras. Rey berjalan ke dekat jendela, pundaknya sedikit menegang. “Nara,” katanya pelan, “kau tahu kenapa aku selalu datang saat hujan?”
Anara menelan ludah. “Karena kamu malas bawa payung?”
Rey tertawa kecil. “Bukan. Karena pertama kali aku masuk toko ini… hujan juga turun. Dan hari itu, aku lihat gadis yang sedang menulis nama seseorang di bukunya.”
Anara terkejut. Ia masih ingat hari itu—ia menulis nama Rey diam-diam di catatan kecilnya, hanya sekadar latihan menulis nama… atau mungkin lebih dari itu.
“Aku sengaja datang terus saat hujan,” lanjut Rey, suaranya lebih dalam. “Karena aku berharap… suatu saat kau menuliskan namaku bukan karena ‘latihan’, tapi karena aku benar-benar tinggal di hatimu.”
Jantung Anara seakan membentur dinding dadanya.
“Rey… kamu lihat waktu itu?”
“Ya. Dan sejak hari itu, aku jatuh cinta.”
Anara memejamkan mata. Hujan seperti berubah menjadi musik. Semua bunyi seakan memudar kecuali degup jantung mereka.
“Kalau begitu,” Anara berbisik lirih, “mulai sekarang kamu tidak harus menunggu hujan untuk datang.”
Rey mendekat. Sangat dekat. Mata mereka saling menemukan, perlahan, lembut, yakin.
“Jadi… boleh aku datang kapan saja?” Rey bertanya.
“Boleh,” jawab Anara. “Asal kamu tetap datang saat hujan juga.”
Rey tersenyum. “Kenapa?”
“Supaya aku selalu ingat… hari pertama aku jatuh cinta.”
Di luar, hujan tidak lagi terasa dingin. Justru hangat—karena dua hati baru saja bertemu di tengah rinai yang lembut. Toko buku kecil itu menjadi saksi, bahwa beberapa cinta tidak butuh kata-kata panjang; cukup hujan dan keberanian untuk jujur.
Dan sore itu, di antara aroma buku dan suara hujan yang merayap pelan, Anara dan Rey tersenyum pada satu kenyataan:
Mereka akhirnya menemukan rumah pada satu sama lain.