Sudah hampir satu tahun sejak senyum itu menjauh dari hidup Arlena, namun anehnya—jejaknya tetap tinggal seperti embun yang tak mau hilang di ujung daun.
Setiap pagi, gadis itu duduk di dekat jendela kamarnya, ditemani secangkir teh chamomile yang uapnya naik perlahan, lembut seperti bisikan masa lalu. Di luar, langit biasanya masih biru pucat, dan angin pagi berhembus pelan, seolah mencoba menenangkan hatinya yang tak pernah benar-benar reda.
Nama itu—Rayan.
Lelaki yang dulu selalu hadir dengan cerita kecil, percakapan pendek, dan perhatian yang tidak pernah ia minta. Dekat, tapi tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Hangat, tapi tak pernah cukup untuk disebut rumah.
Sekarang, mereka asing. Bahkan terlalu asing.
Terkadang, ketika Arlena menelusuri galeri foto lamanya—bukan untuk mencari dia, tapi untuk memastikan ia benar-benar hilang—ia masih menemukan jejak yang tak sengaja terselip: foto langit senja yang pernah dikirimnya, selingan percakapan yang sudah dipotong, atau pesan suara yang ia simpan tanpa sadar.
Ia sudah menghapus semuanya, tapi anehnya… bukan itu yang menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah yang tertinggal di hati, bukan di ponsel.
“Kenapa kamu masih muncul di pikiranku?” gumam Arlena suatu malam, ketika angin lewat di sela gorden, menggerakkannya seperti napas panjang dari langit.
Ia mencoba banyak hal untuk melupakan—menulis jurnal, mengganti playlist, berjalan sore di taman, bahkan menata ulang kamarnya berkali-kali. Namun tetap saja, setiap ia merasa sudah baik-baik saja, bayangan Rayan kembali hadir seperti aroma hujan yang tiba-tiba muncul tanpa tanda.
Bukan karena ia belum move on.
Tapi karena cinta kadang mengendap lama, seperti lagu lembut yang tak pernah benar-benar habis meski sudah tidak diputar.
Suatu sore, Arlena duduk di kafe kecil favoritnya. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, memantul di permukaan meja kayu, membentuk garis-garis emas yang menenangkan. Ia membuka buku puisinya, berharap kata-kata bisa menenangkan kekosongan yang belum sembuh.
Saat itu, ia menyadari sesuatu.
Bahwa selama ini ia bukan menunggu Rayan kembali.
Ia sedang menunggu dirinya yang dulu—yang pernah mencintai begitu polos, dan patah begitu diam-diam.
Mungkin yang perlu ia pulihkan bukan kenangan.
Tapi dirinya sendiri.
Arlena menutup buku, menarik napas panjang. Angin senja berembus lembut, memainkan rambutnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa tidak berat. Tidak sepenuhnya lepas, tapi jauh lebih ringan.
Ia tahu, ia masih mengingat Rayan—dan mungkin akan selalu begitu.
Tapi ia juga tahu, mengingat bukan berarti tidak bisa melangkah.
Cinta yang dulu pernah tumbuh, meski kini tinggal bayangan, tidak harus dibuang.
Cukup disimpan. Dengan lembut. Dengan ikhlas. Dengan pelan-pelan.
Seperti daun kering yang jatuh dari pohon—bukan tragedi, hanya bagian dari perjalanan.
Arlena tersenyum kecil.
Tidak besar, tapi tulus.
Karena akhirnya ia mengerti:
Beberapa orang hadir untuk singgah, bukan untuk tinggal.
Dan beberapa rasa memang tidak diciptakan untuk hilang—melainkan untuk menenangkan hati bahwa ia pernah mampu mencintai sedalam itu.
Dan sore itu, di bawah cahaya lembut yang memeluk dunia, Arlena merasa sedikit lebih pulih.
Tidak sepenuhnya.
Tidak tiba-tiba.
Tapi cukup.