Hari ini tetap sama matahari bersinar begitu terang tapi matahari yang menyilaukan itu tidak menghentikan Aira dalam beraktivitas malah membuatnya semakin bersemangat untuk menaklukkan hari ini, Aira Aulia gadis berusia 18 tahun itu sekarang sedang fokus mengisi ujian akhirnya tanpa ragu sedikit pun.
****
Waktu menunjukkan pukul 12.45 dan Ujian pun telah selesai di lalui oleh Aira, matanya berbinar karena senang telah menyelesaikan tugas nya dengan baik sesuai yang dia inginkan. Tapi, ekspresi nya itu berubah seketika menjadi tegang setelah ia ingat kalau belum melaksanakan sholat zhuhur karena terlena berceloteh ria dengan teman-temannya sampai lupa waktu.
"Kenapa Ai?" Tanya Rima sembari menatap bingung temannya itu yang tegang seketika.
"Iya, anda kenapa wahai teman ku" tambah Yuna
"A-a aku, aku lupa sholat zhuhur. Izin bentar mau ke masjid atau musholla terdekat." Jelas Aira kepada kedua sahabatnya itu.
"Lah, aku kira kamu lagi enggak sama kayak aku.. kan biasanya kita sama-sama kedatangan tamu"
"Yah biasalah, lagi gak teratur Rim"
Rima hanya mengangguk tanpa membalas kembali perkataan Aira, berbeda dengan Yuna yang seperti kambing congek.
"Apa gw harus login dulu biar ngerti pembahasan kalian?"
"Iya, ayok sini ashadu-"
"Gak ah, gak mau"
"Lah tadi katanya mau"
"Cuma nanya ya"
"Ya kan udah di jawab iya, ayok sini ikutin ashadu-"
"No no no no!"
Aira hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya ini dan bergegas meninggalkan mereka untuk mencari masjid terdekat.
***
Walaupun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Aira pun menemukan tujuannya. Dengan hikmat Aira menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Setelah selesai menjalankan kewajiban nya, Aira kembali merapikan mukenah yang di pakainya dan keluar dari masjid. hendak kembali untuk menemui sahabat-sahabat nya lagi. Tapi sayangnya Aira tidak tau saat ia keluar dari masjid sebuah musibah sedang menanti gadis malang itu.
Masih dengan menenteng mukenah nya Aira berjalan ke tempat bik Inah warung langganan Aira dan teman-temannya, sambil berbicara sendiri mengobati rasa sepi.
"Kira-kira Rima sama Yuna lagi ngapain ya, gak mungkin kan mereka berantem gara-gara log-in sama log-out lagi?"
"Eh, bentar. Aku lupa ngabarin ibu pulang terlambat hari ini." Jalan Aira terhenti sebentar, hendak mengambil Handphone nya di tas tapi tiba-tiba ada tangan yang membekap mulutnya.
"Emph..phm..emph!!" Aira mencoba memberontak dan melawan tapi sayang usaha nya gagal karena lawannya ini terlalu kuat.
"Susst, diem. Nurut aja sekarang, kamu gak bakal saya apa-apain tapi kalo kamu gak diem saya gak bisa janji apa yang bisa saya lakukan" jelas pria tak dikenal itu, dan karena tau dirinya tersudut Aira hanya menurut di seret dengan paksa oleh pria asing itu sampai di sebuah gudang tua.
'Ya Allah, lindungi lah hamba mu ini ya Allah'
Mata Aira memerah, air matanya sudah akan tumpah. jujur saja pikiran nya benar-benar kacau sekarang, sedangkan pria itu sedang sibuk membuka pintu gudang dan saat pintu itu terbuka Aira langsung di lempar masuk ke dalam lalu pintu pun dengan cepat langsung tertutup dan kembali di kunci.
"Hufh.."
"Alhamdulillah, seenggaknya dia udah pergi. Sekarang aku tinggal mikir cara buat keluar tanpa teriak-teriak karena gudang ini jauh dari pemukiman." Aira mencoba berpikir cepat, sebelum orang itu datang kembali.
"Ugh.."
"K-kamu, siapa?"
/Degg
Jantung Aira seakan berhenti berdetak, ternyata ada orang lain di dalam tempat ini dan.. suara itu terdengar seperti suara laki-laki.
"Shh.., kamu siapa?" Tanya nya kembali
Aira memberanikan diri menoleh kebelakang, "astaghfirullahhaladzim" begitu kagetnya Aira saat melihat penampakan yang ada di depannya ini. Bagaimana tidak, ada seorang laki-laki tampan di depannya yang bersimbah darah dan darah segar itu terus-menerus mengalir di kepalanya.
Beberapa saat mata mereka saling bertemu, tapi langsung di tepis oleh kedua nya dengan saling memalingkan wajah mereka.
"Maaf.." cicit laki-laki itu
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanyanya lagi
"S-saya di culik dan di paksa ke tempat ini" jawab Aira gugup
"..."
"Kamu sendiri?"
"Saya di pukul, di bawa ke sini"
Aira hanya terdiam tak menggubris perkataan laki-laki itu dan malah fokus ke tempat lain, darah.. sungguh Aira tak bisa diam melihat darah apalagi setelah tau mereka senasib. Di hatinya sangat ingin sekali menolong laki-laki di depannya ini.
"Anu itu, darahnya"
"Gpp"
"Boleh saya obati?"
"Hmm?"
"Saya selalu bawa p3k kemana-mana buat jaga-jaga" Aira mengeluarkan kota p3knya
"Kamu ada bawa pisau atau gunting?"
"Ada gunting kecil buat ngegunting kain perban"
Laki-laki itu mengangguk, "gunting kecil juga udah cukup, boleh saya pinjam buat orang yang tadi udah buat kita gini?"
"Boleh aja, tapi gunting nya mau saya pakek dulu buat ini" Aira menunjuk kepala laki-laki itu.
"Terimakasih, tapi kamu gak usah repot-repot saya bisa sendiri" laki-laki itu mengambil kota p3k Aira "saya pinjam sebentar ya" Aira mengangguk mengiyakan.
Sembari mengobati lukanya sendiri pria itu memecahkan keheningan dengan memulai percakapan dengan Aira.
"Hmm? Maaf?"
"Saya boleh tau nama kamu?"
"Aira.., Aira Aulia"
"Masya Allah, nama yang indah"
(/////////) Aira sedikit tersipu tapi mencoba untuk tetap terlihat biasa saja. 'nama' 'namanya Aira' 'namaa' 'cuma nama Aira, ya Allah' 'Astaghfirullahhaladzim'
"Makasih.."
"Kalo kamu sendiri?"
"Nama saya Muhammad Arzan Al-Fatih"
Aira lagi-lagi hanya mengangguk, "ini, terimakasih buat p3k nya" Arzan menyodorkan kotak itu ke Aira lagi.
'yang bener aja, masa gitu sih ngobatin nya.'
"Maaf tapi saya gak bisa liat yang kayak gini!"
"Huh? A-"
Aira dengan implusif mendekati Arzan dan mengobati Arzan dengan telaten, sedangkan Arzan hanya terkaku diam sambil memejamkan matanya.
"Maaf ya, aku sebagai mantan anak PMR gak bisa liat kamu perban kayak gitu"
Arzan mengangguk
"Dah.., sekarang udah selesai"
"M-makasih"
"Sama-sama" balas Aira.
/BRAKK
Saat hendak ingin berdiri sayang sekali Aira tiba-tiba kehilangan keseimbangannya jatuh tepat ke pelukan Arzan.
"AAAAAA!!!!"
"M-maaf, aku gak sengaja!" Dengan cepat Aira melepaskan tautannya dari Arzan, namun sedangkan Arzan ia masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi dan terus mematung layaknya google yang di gunakan saat kehabisan kuota.
"S-sekali lagi aku minta maaf, tadi tiba-tiba keseimbangan aku hilang."
"Ah.., iya. Gpp" jawab Arzan singkat
****
1jam kemudian..
Masih tidak ada lagi percakapan di antara mereka sampai dengan berani Arzan membuka kembali percakapan.
"Em.. Maaf ya Aira, sepertinya karena saya kamu jadi terseret ke dalam masalah ini"
Aira mengenyitkan kening nya, "maksud nya gimana ya?"
"Ada seseorang yang ingin menzolimi saya, dan hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi"
Aira tertegun sejenak kemudian duduk meringkuk menyembunyikan wajahnya.
"Maaf..."
"Gpp, ini bukan salah kamu. Aku cuma agak pesimis karena kita bener-bener gak ada peluang atau kesempatan buat bisa keluar dari sini. Mana hp aku di ambil juga lagi"
"Hp?.."
Mendengar itu Arzan teringat dengan handphonenya yang low bat
"Kamu punya power bank?"
"Ada!!"
Begitulah kira-kira keajaiban yang terjadi, mereka berdua di selamatkan oleh power bank usang yang bahkan sudah waktunya untuk di ganti. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Arzan dan Airapun menelpon masing-masing dari teman nya, walaupun butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan mereka akhirnya Arzan dan Aira dapat terbebas dari gudang yang menjengkelkan itu.