Biarkan Senja merindukan malam
Sebagaimana hujan merindukan pelangi
Dua keindahan yang terpendam
menyatu menjadi Cinta yang abadi
aku adalah senja yang tenggelam di kala malam,
Engkau adalah pelangi yang datang setelah badai.
kehidupan memang aneh, saat merasakan cinta, saat itu juga harus merasakan sakit.
aku di sini, menatap sore yang jingga, dari balik jendela bening.
daun-daun berguguran, terbang kemana angin membawanya.
seperti diriku yang merasakan sepi tanpa melihat senyumannya.
aku mengenalnya lima tahun yang lalu, Gadis cantik yang membuat jantungku berdebar,
sejak pertama melihatnya, aku sudah menyerahkan hati ini padanya "RANIA"
nama gadis itu.
Aku berjalan di lorong menuju kelas, tak sengaja mendengar suara tawa yang ceria, dua orang gadis sedang bercengkerama, satu diantaranya, membuat jantungku berdebar, bagaimana tidak senyumnya sangat cantik, wajahnya ceria penuh pesona.
temannya menghampiriku, meski mata ini tak bisa lepas darinya, aku hampir mengetahui namanya, namun tiba-tiba bel berbunyi.
untuk yang kedua kalinya aku melihatnya lagi, bahkan mungkin setiap hari bisa melihatnya, kecuali hari libur, kami berada di kelas yang sama, bahkan aku duduk tepat di belakangnya, aku bisa merasakan aroma harum dari rambutnya.
akhirnya kami berkenalan dan aku mengetahui namanya Rania.
Mengapa aku selalu memikirkannya, bahkan aku memimpikannya, sejak aku merasakan perasaan yang aneh ini, jantungku berdebar.
hari itu hari ketiga...
aku mendengar percakapan seseorang di kantin sekolah, namanya di sebut, aku penasaran!
seorang Pemuda yang sepertinya tak asing bagiku, kak Fandy.
dia sedang bertanya kepada teman wanitanya, bagaimana cara mendekati seorang gadis.
saran yang menurutku lucu, memberikan sepucuk surat, mengungkapkan isi hati melalui surat.
perasaanku saat itu marah dan sedikit cemburu.
semua terjadi begitu saja, aku bahkan melampiaskan kekesalan pada mereka,
mereka yang sengaja mengganggu ku.
peristiwa yang berdarah terjadi padaku, aku berkelahi dengan kakak kelas yang sengaja menindas.
akibatnya aku di seret ke ruang interogasi, oleh seorang guru pembimbing aku banyak di nasehati.
keadaanku yang seperti ini, tak layak di lihat olehnya, sangat memalukan.
aku mencarinya, saat mendapatinya bersama kak Fandy, aku terus mengikutinya dari belakang, mereka terlihat sangat dekat, itu membuatku sedikit marah dan cemburu.
aku mengikutinya, bahkan menaiki angkutan umum yang sama dengannya meski tujuan kami berbeda.
aku hanya ingin melihatnya dari dekat.
8 tahun yang lalu....
Adrian....!!!
suara teriakan Ayah saat menyelamatkanku yang hampir saja di tabrak mobil saat menjemputku pulang sekolah.
aku melihat Ayah terbaring di jalan raya di kerumuni orang-orang, sedangkan aku terbaring cukup jauh dari posisinya, setengah sadar masih mendengar suara riuh orang-orang meminta pertolongan.
saat sadar, aku berada di sebuah ruangan bernuansa hijau.
mendapati, kak Adam sedang menungguku sepenuhnya sadar.
kak Adam memberikan kabar yang membuatku merasakan sakit yang teramat, sampai-sampai aku ingin mati saat itu.
"Ayah udah pergi untuk selama-lamanya"
terlihat dari raut wajah kesedihan kak Adam, ucapannya bukanlah candaan.
sejak saat itu jantungku sering sakit, sampai aku di diagnosa memiliki trauma jantung.
aku menjalani terapi untuk mengobati penyakit ini, di sebuah rumah sakit yang cukup terkenal.
orang yang menanganiku adalah Dokter Anita beliau adalah Mamanya dari kak Fandy.
setelah pengobatan akhirnya aku dinyatakan baik-baik saja.
hingga beberapa tahun berlalu tepatnya saat perpisahan kelas tiga SMP, tiba-tiba saja jantungku terasa sangat sakit, aku pingsan di ruang kelas, Anisa yang menemukanku dan membawaku ke rumah sakit.
saat dia menjenguk ku di rumah sakit dia berkata padaku.
"kamu berhutang padaku, suatu hari kamu juga harus membantuku saat aku membutuhkanmu"
ucapannya saat itu terdengar seperti candaan, tapi aku berjanji akan membantunya saat ada masalah.
Aku di beri kesempatan untuk merasakan hidup, itu adalah sebuah anugrah.
Aku tak bisa berhenti menatapnya, menyukainya membuat jantungku berdebar sekaligus sakit.
setiap malam aku berpikir bagaimana cara menyatakan perasaanku padanya, aku teringat ucapan kak Fandy dan temannya, mengungkapkan perasaan melalui surat.
tapi aku bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata.
tapi aku berpikir untuk memberitahukan tentang apa artinya dia bagiku.
"Hai...saya ingin menemui kamu, ada yang ingin saya beritahukan, tapi jangan beri tahu siapa-siapa, ini rahasia.
tapi saya akan kasih tau kamu kisi-kisi dari apa yang ingin saya sampaikan.
pertama: saya sering memikirkan kamu
kedua : saya sering merindukan kamu
ketiga : saya ingin dekat dengan kamu
menurut kamu saya sadang merasakan apa?
dari Adrian😆😆😆
sialnya susah payah merangkai kata-kata, aku di seret kembali ke ruang interogasi, akibat kakak kelas yang sengaja menjebak ku, mereka yang ketahuan merokok, sengaja memasukkan bungkusan rokok mereka ke dalam tas ku.
saat di geledah, guru menemukan surat cintaku.
mereka menertawakanku!
gadis itu juga seperti menahan senyumnya, aku memang bukan Pemuda yang romantis, setidaknya aku ingin jujur dengan perasaanku.
"Aku mencari setitik harapan,
seberkas cahaya yang menyinari ruang gelap hatiku"
Beruntungnya aku, gayung bersambut jalinan cinta terajut.
sejak dia membalas genggaman tanganku, saat itu ku anggap dia setuju.
aku perkenalkan dia kepada keluargaku, hari itu merupakan hari yang paling bahagia dalam hidupku.
Namun kebahagian tak mungkin abadi,
keesokan harinya, aku kembali merasakan hal yang aneh, tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang menyiksa.
saat aku akan berangkat ke sekolah, tiba-tiba tubuhku lemah, dadaku terasa sesak dan seperti ada sesuatu yang akan meledak di dalam dadaku, aku takut ini hari terakhirku.
aku bertahan sekuat tenaga, agar kembali menemukan kesadaranku, selama tiga hari aku menemui Dokter Anita tanpa sepengetahuan keluarga, untungnya Dokter Anita merawatku dengan baik, sehingga aku bisa pulih lebih cepat.
Dokter Anita kembali memeriksa penyakitku, ada sesuatu yang tidak beres sehingga penyakit itu muncul lagi.
aku takut mengetahui hasilnya, tapi aku harus menghadapinya.
saat aku melihatnya mengunjungiku, aku buru-buru meraih tangannya, aku tak ingin mereka tahu apa yang terjadi padaku.
dari hati yang paling dalam, ada kesedihan yang teramat dalam, gadis ku begitu mengkhawatirkan ku, sedangkan aku hanya bisa diam dan berbohong.
sedikit menghibur dan bercanda, agar menutupi kegundahan di hati, untuk pertama kalinya merasakan lembut pipinya.
belaian lembut tangannya melenyapkan kesedihan di hati.
apa yang terjadi?
hari-hari bersamanya terasa singkat, kekurangan ini membuatku menyadari tak ada yang bisa ku beri selain kesedihan,
aku ingin bersamanya, tapi aku membuatnya menangis.
dalam keadaan yang kritis, dia berusaha menyelamatkanku, aku bahkan tak bisa merasakan apa pun, selain rasa sakit.
peristiwa itu membuatku sadar, betapa lemahnya diriku, sejak saat itu aku memutuskan menjauh meski secara tak langsung.
"Seperti apa aku di matamu?
cuek, jahat dan tak perhatian?
sakit yang kamu rasakan, seribu kali lipat ku rasakan.
rasanya ingin mati detik itu juga.
puncak kesedihan ku adalah saat dia ingin mengakhiri hubungan diantara kami, aku tahu dia marah padaku, mungkin dia cemburu padaku, aku memang sengaja agar dia pergi dariku dengan kenangan buruk tentangku.
mungkin cara terbaik melupakan seseorang adalah dengan membenci.
"Aku ingin melihatnya meski dari jarak yang jauh,
aku ingin melihat senyumnya meski bukan tertuju untukku.
Dia tertawa, mungkin dia melupakanmu
Dia bersama orang yang benar-benar menyayanginya"
"Kak tolong jaga, Rania"
ucapan terpahit yang pernah ku ucapkan pada orang yang kini berada disisinya.
Untuk terakhir kalinya aku ingin mendengar suaranya.
aku menghubunginya,
suaranya masih sama, terdengar lembut di telingaku.
ucapan selamat terucap dari bibirku yang bergetar, sedangkan mata ini tak henti membayangkan wajah bahagianya.
dari sudut mataku mengalir air mata kebahagiaan.
aku berharap suatu hari nanti aku bisa bersamanya dalam waktu dan keadaan yang berpihak.
aku belum pergi, dari dunia.
aku masih di sini mengawasinya.
aku duduk memandangi langit yang cerah, setelah hujan membasahi jalanan yang sepi,
hatiku terenyuh, ada rasa sakit di dalamnya.
tapi saat aku memandang langit aku tersenyum, melihat indahnya warna pelangi.
Aku Senja mu yang bisa kau kenang saat sore menjelang, lupakan aku bila malam telah datang.
kamu Pelangi ku, yang selalu ku kenang,
sampai gelapku menghilang.
Terimakasih untuk pembaca yang aku sayangi,
semoga tulisan ini meninggalkan kesan yang baik.
I LOVE YOU ALL😘😘😘
SAMPAI JUMPA LAGI DI WAKTU YANG TEPAT DALAM KEADAAN YANG BAIK....