Aku berbaring di kasur sambil scroll sosmed. Waktu libur seperti ini sudah kutunggu-tunggu, apalagi setelah menjalani semester ini yang terasa begitu padat, mulai dari kegiatan akademik, organisasi dan juga kegiatan lain.
Tiba-tiba muncul pesan dari WA
"Sasa ayo ketemuu"
Pesan itu dari Rio sahabat waktu aku di SMA. Sampai sekarang kami tetap bersahabat walaupun kuliah di tempat yang berbeda.
"Kapann ? Dimana ?" Aku membalas
"Hari ini. Bisa gak aku ke kosmu, terus kita cari makan ?"
"Oke bisa. Kamu kok gak kabarin kalau lagi datang kesini ?"
"Mau aja, biar jadi surprise"
"Cielahhh, ngapain kesini ?"
"Mau liat wajahmu"
Aku tersenyum membacanya. Sedetik, 2 detik kemudian chat lain dikirim
"Yang kek monyet". Ini ibaratnya udah diterbangin setinggi langit terus dijatuhin tiba2.
"Yee gak jadi ketemu ah malass"
"Eh jangan dongg, maafin aku, tadi bercanda doang",
"Maaf yaa Sasa sayangg". Seakan2 dia benar2 menyesal, aku yakin pasti dia sedang ketawa terpingkal-pingkal waktu mengetik chat ini. Tidak lupa sayang di akhir kalimat sebagai jurus andalannya untuk dimaafkan.
Kami sudah lama bersahabat tapi karena saking dekatnya kami sering dikira berpacaran oleh teman-temanku yang lain.
Kalimat yg sering aku dengar "cewe dan cowo gak bisa sahabatan". Awalnya aku tidak percaya akan hal itu, tapi sekarang aku sedang mengalaminya.
Huh menyebalkann, dari begitu banyak cowo yg ada di sekolahku kenapa harus suka dengan sahabatku coba ?
Alasan ku menyukainya akupun sendiri masih bingung. Tinggi ? Banyak juga temanku yang tinggi. Ganteng ? Iya sih, tapi menurutku dia ga seganteng itu. Pintar ? Iya pintarr tapi yang lain juga pintar kok. Terus kenapa kamu suka dia ?
Pertanyaan dari otakku yg tidak bisa dijawab. Mungkin karena setiap hari bareng jadi lama-lama nyaman kali ya ?
Padahal dulu sebelum kami bersahabat aku paling gak suka dia, karena dia tuh walaupun pintar suka melawan guru, suka jahilin aku dan teman-temanku yg lain, intinya dia tuh bener2 menyebalkan. Dan entah gimana caranya tiba2 kami dekat dan jadi sahabat.
Akhirnya setelah lama menunggu, dia datang ke kosku, kami bercerita banyak. Setelah lama bercerita, kami keluar untuk mencari makan. Kami memilih makan bakso di pinggir jalan.
Saat hendak membayar tiba2 dia menggenggam tanganku.
"Ishh apaan sih pakai pegang-pegang tangan"
Aku pura-pura kesal padahal sebenarnya senang juga diperlakukan seperti itu.
"Padahal dulu paling seneng kugandeng biar manas-manasin crushmu hahaha"
"Ihh, siapa juga yang kek gitu"
"Huuu pura-pura lupa lagi" jawabnya
"Mas ini berapa totalnya ?"
"36 ribu mas"
"Oke ini ya"
"Kembaliannya ambil aja mas". Rio memberi selembar 50 rbuan.
"Makasih banyak mas,
Sehat2 terus ya mas sama pacarnya"
Sambil tersenyum ke arah kami
Pacar ?
Aku langsung melihat dgn tatapan
"kami gak pacaran wehh"
Dan dengan santainya Rio menjawab
"Oke makasih ya mas". Seperti tidak terjadi apa-apa. Memang sudah biasa juga kami dikira pacaran.
Sekarang kami hendak naik motor. Rio hendak memakaikan helm untukku. "Gimana orang gak baper kalau dibuat kayak gini ?" Kataku dalam hati. Tapi, lain di hati, lain di mulut, jadi aku terima dengan cepat helmnya dan bilang
"Aku bisa sendiri tahu"
"Iya deh yang dah besar, dasar bocil"
Sambil mengacak rambutku pelan.
Yang diacak rambut, yang berantakan hatinya. Dasarr.
"Namaku Sasa ya bukan bocil", aku pura-pura merajuk.
"Iya Sasa hahaha.
"Pegangan yang erat ya"
"Gamau" kataku
"Beneran nih ? Gak takut jatuh ?" Rio memastikan
"Ga akan" jawabku pasti
"Yaudahh"
Dia melajukan motornya, di pertengahan jalan dia menaikan kecepatan motornya sehingga aku yang tadinya enggan memeluknya malah jadi takut dan malah memeluk erat.
"Kok cepat banget ? takut woii"
Teriakku biar didengarnya
"Katanya gak takut tadi"
"Ya itukan tadi, kalau kek gini cari mati tau gak"
"Iya iya gak ngebut lagi nihh" Rio menyerah.
Aku tersenyum di belakangnya.
Tak terasa kami sudah sampai di kosku.
Dia pulang dan aku masuk kembali ke kos. Kami berencana mau jalan-jalan lagi besok
Keesokan harinya
Bunyi telfon yang berdering terus menerus sangat mengganguku.
"Ih siapa sih, pagi2 gini orang masih tidur juga"
Kuangkat telfon tapi masih dengan keadaan setengah sadar.
"Hallo ..." dengan suara khas orang abru bangun.
"Pagi bocill, ayo bangun dah pagi heii"
Suara itu sudah sangat kukenal, siapa lagi kalo bukan Rio
"Apaa ?" aku masih ngantuk
"Kamu lupa ya hari ini kita mau jalan lagi ?"
"Emang ini dah jam berapa ?" Kataku malas
"Jam 10 woi, aduhh kok bisa bisanya lupa, mana tidurnya kek kebo lagi ini bocil satu ditelfon dari tadii"
"Hah jam 10 ?" Aku langsung bangun dan terduduk,
Jam 10 astaga kok bisa sih ? Rutukku
Padahal biasanya selalu bangun jam 6 pagi.
Aku terlambat bangun karena semalam sulit tidur dan memilih menonton drakor biar ngantuk. Bukannya mengantuk malah kebablasan sampai pagi dan baru tertidur jam 4.30 waktu Adzan subuh terdengar.
"Halo Sasa, saaa denger gak sih kubilanggggg ?"
"Iya dengar, bentar ya 10 menit ku siap, kamu datang aja. Aku siapnya cepat kok."
30 menit kemudian
"Maaf ya kelamaan hehehe" sambil nyebir
"Ini 10 menitnya beda ya ternyata, baru tau aku" katanya sambil bersandar di tembok depan pagar
"Maafin gak aku ulangi lagi, plis"
sambil membuat muka memelas
"Hmm maafin gak ya ? Iya dehhh, apa sih yg gak buat kamu" katanya sambil mencubit pipiku
"Sakit tau huu"
Aku selalu bersifat kekanakan didepannya, entah karena ingin melihat reaksinya saja atau karena ini sebagai caraku karena tidak bisa jujur kepadanya. Ah andaikan dia peka dan tau perasaanku. Aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menghindari pikiran aneh saat ini.
Rio yg melihatku, langsung bilang :
"Ayo cepat naik motor, malah melamun lagi"
"Ya yaaa, jangan2 ngebut2 kek kemarin loh ya"
"Yaa bocil, kita cari makan dulu ya laper nih"
"Okdd gas"
Kami makan siang terlebih dahulu di sebuah warung. Tiba2 Rio bertanya: "eh kamu dah ada pacar belum ?"
Aku langsung batuk mendengarnya. Aku menjawab : "gimana mau ada pacar, teman cuma itu" mulu, cewe semua lagi + gak ada yang deketin"
Dia bilang "oalahhh gitu to, ya carilah atau mau kucariin pacar ?"
"Ah gak dulu deh, malass, ribet tau pacaran. Mau fokus kuliah dulu aku" jawabku nyengir
"Yang bener ? Kalau mau kukenalin ke temen cowoku, ganteng-ganteng loh mereka"
Dalam hati aku berkata : huhh dasar, gatau aja kamu yang aku mau hehehe.
"Ah gaklah, dimarahin sama ibu nanti, masih kecil gak boleh pacaran" alasan andalanku
"Hmm iya deh memang bocil"
"Kamu gimana ? Dah ada pacar ?"
"Udahlah" Duh makk sakit atiku, tapi ya gimana selama dia bahagia, aku juga.
"Mana coba kuliat fotonya"
"Nihh, cantik kan, pacarku gitu loh"
"Ihh cantik bangett, kok dia mau sama kamu ?"
"Jangan meragukan ketampanan seorang Rio" katanya sombong.
Gak salah sih, dari SMA dulu juga banyak yg suka sama temenku ini, cuman ya dia kek biasa aja. Katanya sih karena dia ganteng dan pintar, tapi cewek yang mana dulu nih yg bisa jadi pacarnya.
"Iya deh cogan. Kapan kalian jadian ?"
"Baru sebulan" dia menyengir
"Hmm mana nih pjnya, kamu traktir ya makannya hahaha"
"Yaa okd, Biar yg jomblo bahagia"
"Hmmm makasi ya"
"Yoi"
Setelah selesai makan, kami pun jalan-jalan dan kemudian pulang karena jam sudah menunjukan pukul 19.00.
Rio pamit karena besok sudah balik ke tempat kuliahnya.
"Huu sedih banget. Kenapa kami gak sekota aja sih biar tiap hari liat mukanya langsung" lagi-lagi aku berbicara dalam hati.
Sesampainya di kamar aku langsung berbaring dan menghela napas,
"Nangis banget rio dah ada pacar. Aku sama siapa dong ?"
Aku juga harus ada sih biar Rio cemburu ...
Cemburu ? Emang Rio suka sama kamu apa ? Hadeh sadar diri dong, kamu tuh cuma sahabatnya, gak usah ngarep lebih sa.
Seolah-olah ada 2 kubu di dalam diriku.
Aku ingin menangis, tapi prinsipku : masa sih nangis gara-gara cowo. Huh biarin aja deh, kalau ada yg deketin aku mau pacaran tapi kalau gak ada, yaudah tunggu sampai dapat. Semoga ada yg mau sama aku ya Tuhan, aminn
Aneh-aneh saja pikirku, semua ini biar dia "cemburu"
Setelah waktu liburan berakhir, kami masuk kembali dan kini sudah mulai semester 3 perkuliahan.
"Huu cepat banget waktu liburannya" ucapku ke Vino, teman kelompokku akhir2 ini. Kami sedang mengerjakan tugas presentasi bahasa Indonesia.
"Iya ya gak kerasa, padahal 3 bulan loh liburnya" jawabnya
"Bener banget"
Beberapa hari ini aku lagi dekat sama dia. Gak tau ini termasuk dideketin atau gak. Soalnya dari SD-sekarang gak pernah tuh dekat sama teman cowo kecuali Rio.
Jadi sekarang kami lagi banyak tugas dan praktek, dan gak tahu kenapa setiap pembagian kelompok selalu kami berdua sekelompok. Akhirnya setiap apa yang gak dimengerti aku tanya ke dia dan sebaliknya. Awalnya cuma sebatas nanya tugas, lama-lama diajak jalan, makan bareng dan sering diajak belajar bareng. Semua ini kulaporin ke Rio, kata Rio mau pdkt itu. Tapi aku masih belum percaya, masa sih pdkt ? Jangan jangan cuma penasaran atau cuma berteman biasa aja... kan sekarang banyak yang kek gitu.
Kalau vino orangnya pintar, alim, ganteng, perhatian, wah pokoknya 10 deh dari semua sisi. Kriteria idaman pacarku nih....
Vino lalu berbisik ke telingaku,
"Sore jalan yuk cari makan, mau gakk ?"
Aku yg sedang mencari materi langsung berbalik
"Hahh ??" Kebiasaan deh setiap ditanya selalu hah dulu. Apa jangan-jangan aku kena sindrom hah.
Vino terkekeh dan mengulangi "mau gakk
kujemput nanti sore, jalan sama cari makan ?"
"Jamber ?"
"Jam 4-an"
"Oke oke bisaa"
"Okedeh" jawabnya
"Sore Vino, maaf lama siapnya"
Kebiasaan deh cewe kalau siap-siap.
"Gak, gak lama kok sa" katanya
"Cantik banget hari ini" gumamnya pelan
"Bilang apa tadi ?"
"Gakkk, ayo jalan"
"Yuk"
Kami berjalan2 ke taman, dan beberapa tempat. Setelahnya kami makan malam
Saat makan, Vino bilang : "Sa kamu dah ada pacar belum ?"
Aku terbatuk.... hening
"Antara ada dan gak sih hahaha"
"Yang bener, aku serius nanya."
"Hmm, mau tau aja atau mau tau banget nih ?" Tanyaku
"Mau tau banget"
"Belum ada sih, kenapa nanya gitu ?"
"Hmm aku mau ngomong sesuatu boleh ?"
"Boleh ngomong aja, santai aja"
"Tapi jangan marah ya ?" Katanya
"Ya ngomong dulu, ngomong apa ? Kepo tau" kataku. Wah takut nih maklum baru 1 kali...
"Kamu mau gak jadi pacarku ?"
Deg, kek hahhh apa ??? Aku gak mimpi kan ini ?
Wajahku sudah pasti merah sekarang kek kepiting rebus. Malu banget, kaget dan gak percaya. Gak tau mau jawab apa.
Aku diam sejenak dan berpikir apa jawaban yg cocok ...
"Hmm ... kalau kujawab nanti bisa gak ? tanyaku ke Vino
"Iya Sa, gak harus sekarang kok"
"Kasi waktu aku 3 hari ya, nanti kukasi tau jawabanku"
"Oke sipp"
Kami pun melanjutkan makan dan pulang.
Sesampainya di kos...
Ahh gara-gara Vino nih kepikiran jadi aku gak bisa tidur. Untungnya besok Sabtu jadi tidak ada kelas.
Aku memutuskan untuk nonton drakor sampai tertidur entah jam berapa.
Dering telfon hp terdengar sayup-sayup.
Sekali, 2 kali, yang ketiga mulai terasa mengganggu. Akhirnya kuangkat.
"Hallo" jawabku
"Halo pagi Sa, dah bangun ?"
"Hmm ini siapa ?"
"Masa gak kenal suaranya ?"
"Kudengar baik-baik, ohh Vino yaa"
"Iyaa hehehe, aku lagi di depan kosmu, keluar sebentar bisa gak ?"
"Dah daritadi kah ?"
"Hmm kira-kira setengah jam"
"Astaga Vino, maaf, bentar ya"
"Okee"
Aku buru-buru mencuci muka, sikat gigi dan keluar.
"Duh maaf banget nunggu lama, perlu apa pagi-pagi datang sini ?
Kubuatin minum ya ? Mau minum apa ?"
"Gak, gausah aku langsung pergi, ini cuma mau nganter ini dari ibu.
Dibukanya nanti aja ya" katanya sambil tersenyum.
"Aduh apa ini" dalam hati
"Duh makasih yaaa vino, maaf repotin"
"Gak papa, aku langsung balik yaa
Daah"
"Dah makasih ya ini, hati-hati ya. Salam buat ibumu bilang makasih banyak yaa"
"Oke Sa, dah cantik" katanya
"Hah cantik ? masa sih dia bilang gitu, aku baru mau bertanya tapi Vino sudah pergi. Ah paling salah denger...
2 hari kemudian Vino menagih janjiku
"Gimana sa ?" Tanya Vino kepadaku. Kami sedang mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan
"Sa saaaa" katanya sambil melambaikan tangan. "Mau gak ?"
"Apanya yang mau gak Vino ?"
"Masa lupa sih Sa ? Mau gak jadi
pacarku ? Jawabannya sambil tersenyum manis.
Deg, setelah dilihat dari dekat ternyata Vino lebih ganteng.
"Ehmm iya mau ...."
"Beneran nih ? Jadi sekarang kita pacaran ?"
"Iyaa vinoo". Dalam hatiku : "malu bet woilah"
"Yess, makash Sasa sayang" Suaranya hampir berteriak.
"Sttt pelan-pelan ini di perpus Vinoo"
"Oke oke hehehe"
"Jalan yuk malam" katanya kemudian
"Kemana ?"
"Kemana aja asal sama kamu"
"Huu dasar gombal" kataku
"Biarin, kan sama pacar sendiri.
Kujemput ya nanti jam 7, dandan yang cantik ya pacar" katanya mengacak rambutku pelan
"Hmm jadi sekarang aku gak cantik gitu ?" Aku pura-pura merajuk
"Bukan gitu.. kamu selalu cantik kokk,
makanya aku suka"
Gombal lagi gombal lagi, malu anjay
"Hmmm, yukk dah jam pulang nih"
Di jalan dia menggenggam tanganku. "Gila malu banget woii" teriakku dalam hati.
Mana diliat yang lain lagi. Sebenarnya mungkin mereka gak peduli. Tapi aku termasuk kaum overthingking jadi diliatin dikit udah mikir yang tidak-tidak.
Aku berbisik ke arah vino,
"Vinoo" Vino lebih tinggi jadi aku harus jinjit untuk berbicara dengannya.
Vino pura-pura gak dengar.
Dia semakin mengeratkan genggamannya.
"Vinoo"
"Vinooo"
"Vino sayangg"
Akhirnya dia berbalik dan menatap ke arahku
"Hmm, tadi bilang apa barusan ?"
"Vino sayangg" kupastikan wajahku sudah merah lagi.
"Nah gitu dong manggil sayang
Kenapa hm ?"
"Diliatin banyak orang, maluu"
"Gapapa kan sama pacar, cuek aja sayang"
" Hmm iya dehh, tapi jangan bilang-bilang ke yg lain dulu ya"
"Iyaaa sayang" katanya sambil mencubit pipiku
Kami sampai di kosku
"Dah sayang, sampai jumpa sebentar
malam"
"Daa sayang, hati-hati yaa"