Pernahkah kamu masuk ke sebuah desa yang tidak ada di dalam maps milikmu. Tempat terpencil dan terpisah dari kehidupan kota yang ramai. Hal ini dialami oleh tiga sekawan. Rudi, Yani dan Tias. Mereka yang hobi berpetualang dan menyukai hal berbau horor dan mistis dengan sengaja masuk ke desa yang dipenuhi oleh mayat-mayat busuk.
Mayat perempuan dan laki-laki, orang tua maupun anak-anak kecil.
Apa sebenarnya yang terjadi di desa itu? Mengapa ada banyak mayat di sana?
Namanya Rudi Adianto. Dia adalah anak pemberani yang suka melakukan streaming ke desa-desa terkutuk, ke hutan atau di gudang sekolah kosong yang memiliki cerita kelam di masa lalu. Rudi mengajak dia temannya untuk uji nyali dengan melakukan streaming ke desa terkutuk satu. Katakan saja desa satu.
Siang itu mereka sudah berangkat, tetapi hanya berdua. Salah satu temannya tidak bisa ikut. Berangkatlah Rudi dan Tias ke desa satu.
Baru dua kilometer, motor mereka berjalan tiba-tiba saja motornya mogok di jalan yang cukup sepi. Rudi dan Tias pun turun dan mendorong motornya sampai ke sebuah rumah kecil. Boleh dikatakan sebuah gubuk tua. Tias melihat seperti tidak ada tanda-tanda orang yang hidup di situ.
"Rud, jangan ke situ deh, rumahnya mengerikan!"
"Tapi kita harus berteduh karena sebentar lagi hujan," sahutnya. Rudi pun memarkirkan motornya di sisi gubuk. Matanya memerhatikan sekitar gubuk, memang sepi gumamnya.
"Kamu mau masuk ke dalam?" tanya Tias dengan muka pucat.
"Kenapa memangnya, gubuk ini kelihatannya tidak ada orang, jadi kita aman di sini. untuk sementara ..." Rudi mendorong pintu gubuk ini, karena tidak ada gagangnya dia menarik tali pengait di ujung pintu. Cukup keras! Derit kasar pintu mulai berderit terbuka.
Krieettt!
Tias dan Rudi pun masuk ke dalam. Mereka terbelalak melihat isi ruangan itu. Hanya ada satu kursi dengan lantai tanah yang kotor, bau dan tidak ada alas yang bisa dipakai untuk duduk. Semuanya tampak kotor sekali, banyak nyamuk dan tidak ada penerangan di dalam gubuk.
Tiba-tiba saja pintu gubuk tertutup dengan kencang seperti ada orang yang menendang pintunya.
BAM!
"Hei, kurang ajar!" maki Rudi. Dia mengira ada yang iseng dengan menendang pintu.
Rudi berlari membuka pintu gubuk, Tias juga ikut membantunya. Namun, sial mereka terkurung di situ. Pintu gubuk tak mau terbuka.
"Sudah kubilang aku tidak suka tempat ini. Aku tidak mau masuk kamu malah masuk ke sini!" Kesal Tias.
"Jangan menyalahkan aku dong. Kita sudah lelah, apa salahnya kan kita berteduh dan istirahat. Kau dengar...?" Rudi memasang telinga baik-baik mendengar suara. Suara langkah kaki seseorang di belakang gubuk reyot.
"Si-Siapa itu, Rudi?" tanya Tias ketakutan.
"Sssst diam!" bisik Rudi. Dia mengintip di celah papan lapuk dinding gubuk. Matanya membulat sempurna. Apa yang dia lihat?
"Tias! Kita harus keluar dari sini!" paniknya dengan dada bergemuruh. Dia melihat seseorang yang sedang menyeret bungkus besar. Sepotong tangan mencuat keluar dari kresek hitam itu.
Tangan orang!
"Kenapa, Rud. Apa yang kau lihat?" Tias ikut mengintip tetapi tidak lihat apa-apa.
Rudi mencari kawat kecil, pisau dan tali yang memang sudah dia persiapkan.
"Ayo bantu aku!"
Mereka melakukan simpul, mengikat ke pinggang lalu dengan cepat menaruh kawat di ujung tali dan mengikat lagi ujungnya.
Mereka melakukan itu untuk berjaga-jaga jika ada orang yang masuk dan membunuh salah satu dari mereka.
"Rudi apa ini, kenapa kita melakukan ini?" Tias masih belum mengerti.
"Nanti kau akan tahu, diamlah!" Budi menyuruh Tias menurut saja apa yang dia lakukan.
"Anak kecil!" Suara seseorang dari luar. Suara berat seorang laki-laki.
"Sekarang giliran kalian!"
Seorang berbadan bungkuk datang tiba-tiba membuka pintu. Pintu di gubuk rupanya hanya satu yaitu pintu depan. Dengan langkah cepat, Rudi yang sudah siap, bersembunyi di pintu gubuk memakai talinya dengan ujung berkawat ke leher si bungkuk lalu melilitkan dengan erat. Orang itu tidak bisa melawan karena Tias sudah memasang perangkap babi di bawah kakinya, sesuai permintaan Rudi.
BRAK!
"Aaaik setan!" makinya. Kakinya tertusuk duri perangkap babi dan mengeluarkan darah. Itu menyakitkan.
Rudi juga langsung menangkapnya dan mengikat tubuhnya.
"Lari, Tias!" Rudi menarik lengan Tias lalu lari keluar dari gubuk.
"Setan kalian tunggu pembalasanku!" teriaknya marah. orang itu berusaha melepaskan diri, tetapi dia tidak bisa mengejar abg itu karena mereka sudah lari ke sisi gubuk dan menyarter motornya.
Rudi dan Tias pun berhasil meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan mereka saling diam. Tias yang memecahkan hening bersuara. "Rudi, kamu lihat apa sih tadi dan siapa orang itu?"
"Nanti saja kalau sampai akan ku ceritakan apa yang ku lihat tadi. Orang itu berbahaya!"
Tias jadi penasaran.
Sebenarnya apa sih yang dilihat Rudi?