Aku merasa, hidupku seperti tanpa warna. Aku berjalan di jalanan setapak menatap senja yang indah di seberang sana. Aku berusaha untuk tidak menangis, mengingat masa sekolahku yang tidak menyenangkan, hingga akhirnya aku menyadari,seorang anak kecil laki-laki mengikuti ku
"Kakak? Kenapa wajah kakak terlihat sedih? Apakah kakak sedang sedih?"
Raut wajah itu, mengingat kan aku dengan raut wajahnya. Wajah yang sudah lama aku nantikan... Wajah yang sangat aku rindukan
"Kakak sedang sedih... Kamu kenapa ada disini? Bukan langsung pulang kerumah? Disini berbahaya.." Aku tersenyum pada anak itu
"Papa menyuruhku untuk menunggu disini, kak!" Anak itu tersenyum.
Seketika aku tersentak, seluruh wajah anak itu sangat mirip dengannya. Aku sempat berpikir, 'apakah anak ini.. Adalah anaknya?'.aku menatap anak kecil itu dengan lama, hingga ada suara yang sudah lama yang ingin aku dengar.
"Anakku! Kemarilah!" Ucap pria yang tidak asing di telingaku. Aku pun segera menatapnya. Tatapan kami bertemu satu sama lain.
"Loh? Kamu..."
Dengan cepat aku membalikkan wajahku dan berlari. Aku berlari menjauhi nya dan anaknya dengan secepat mungkin, aku berusaha untuk tidak menangis di hadapannya.
1
Aku berjalan menuju sekolah dengan semangat, aku menikmati hari-hariku dengan bahagia, hingga suatu hari tanpa sengaja, aku melihat seorang anak cowok yang dimarahi oleh guru karena datang terlambat
"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini!? Kamu tau akibat kamu sering terlambat dan bolos sekolah!? Kamu tau hah???" Guru itu membentak nya dengan suara lantang. Aku pun hanya bisa menatapnya. Hingga tatapan kami bertemu. Dia menatapku dengan tatapan benci dan memalingkan wajah nya dariku. Mungkin dia tidak ingin di lihat siapapun saat dia dimarahi oleh guru.
Aku berjalan dan duduk di kelas sendirian, tak ada seorang pun yang ingin duduk bersama ku karena aku anak perempuan yang pendiam dan tidak terlalu menarik. Semua membenciku, bahkan guruku pun membenciku hanya karena aku yang tidak terlalu aktif berbicara di kelas.
Saat bel berbunyi menandakan masuk kelas, lelaki yang di marahi oleh guru sebelum nya pun masuk ke kelasku. Tanpa banyak bicara, dia duduk di sebelah ku, dan aku menatapnya.
"... " Tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku masih menatap nya dan memalingkan wajahku.
"Kenapa kamu duduk sendirian disini?" Tanya nya
"Tidak ada yang mau berteman denganku"
"..."
Aku merasa canggung saat dia tidak ada jawaban, dan aku dengan cepat mengeluarkan buku tulis ku dan menatap papan tulis untuk mencatat materi pembelajaran.
2
Keesokan harinya, aku bertemu dengannya lagi. Namun, kali ini dia sangat berbeda. Dia memiliki banyak memar di tubuh nya dan diwajahnya.
'Pasti dia hobi berkelahi..' pikirku. Lalu, aku berjalan mengikutinya dari belakang. Aku bersembunyi di balik kelas saat melihat dia duduk di kursi dan menatap mejaku. Aku berpikiran aneh dan berjalan ke arahnya.
"Apakah ada sesuatu di meja ku?"
"Di meja mu ada namamu... Namamu Hana ya?".dia menatap mataku dengan tatapan tajamnya
"Iya" Aku langsung duduk di mejaku dan tidak menatapnya.
Saat itulah, dia tiba-tiba mengulurkan tangannya padaku
"Albert" Dia menatapku dengan tatapan kosong
Aku menyambut tangannya dan berusaha tersenyum. Di saat itulah, aku mulai melihat senyuman kecil nya yang samar. Dia terlihat sedikit bahagia dari sebelumnya.
3
Kami pun akhirnya menjadi dekat, karena perkenalan sebelum nya. Dia menjadi sedikit terbuka padaku dan aku merasa senang bahwa ada lelaki tampan dan baik sepertinya menjadi sahabat ku. Hingga tanpa sadar aku mulai jatuh cinta padanya. Aku selalu mendengarkan kisah cinta nya dengan sahabat nya sendiri, dan dia selalu mengatakan dia mencintai pacarnya. Itu sedikit membuat ku cemburu, namun aku berusaha bahagia demi kebahagiaan nya.
Dia berjalan dengan kekasihnya, disaat aku menatapnya. Kekasihnya menatapku dengan tajam. Aku hanya bisa terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memalingkan wajahku dengan cepat, hingga tiba suatu hari, hari dimana aku sangat membenci diriku sendiri.
"Tolong jangan dekati pacarku".pacarnya menemui ku dan membawa beberapa temannya.
"Jangan hanya karena kamu menjadi sahabat keduanya, kamu merasa sangat dicintai, kamu benar-benar menyedihkan. Berharap dicintai balik oleh orang yang sudah memiliki kekasih" Dia mengejekku.
Disaat itulah, salah satu temannya menyirami ku dengan Air peras lantai, aku terkejut dan ingin menangis. Namun, aku berusaha tegar untuk tidak menangis dan menatapnya. Dan aku berjalan untuk menampar nya.
"Hana!!!"
Suara itu menggema di telingaku, bahkan di toilet itu. Aku menatap ke arah pintu dan menatap Albert yang berdiri dengan wajah marah padaku. Aku terkejut dan berusaha menjelaskannya.
"Albert... Albert ini bukan seperti yang kamu pikirkan... Albert ku mohon..." Aku merengek dan memegang tangannya. Dia langsung menepis tanganku dan menatapku dengan jijik.
"Kupikir kamu berbeda dari yang lain.. Ternyata kamu membenci pacarku hanya karena kamu suka padaku???? Kamu jahat sekali hana.. Kamu kejam!" Dia membentak ku dan membantu pacarnya untuk berdiri. Disaat mereka hendak keluar, pacarnya dan teman-temannya tersenyum puas menatapku. Aku hanya bisa menatap dari jauh dan menangis.
4
Sudah hampir 1 bulan aku tidak berangkat ke sekolah, hingga para guru berdatangan ke rumahku menanyakan kabarku. Namun, aku mengatakan pada ibuku untuk pindah sekolah. Ibuku sangat tidak menyetujui pendapat ku, karena aku tidak memberikan alasan yang jelas pada ibuku.
Paginya, aku berjalan di sekolah, dan aku di lempari pacarnya dengan lumpur bersama teman-teman nya. Pakaian sekolahku menjadi kotor, dan semua orang yang berada di sekolah menertawakan ku dan menatapku dengan jijik. Aku mencoba mencari sosok yang ingin ku cari. Namun, aku pikir dia akan membelaku.. Tapi dia hanya menatapku dari jauh dengan tatapan dinginnya. Aku dan dia saling bertatapan. Dia memalingkan wajahnya dan menggandeng tangan pacarnya berjalan kekelas. Aku merasa hancur, tidak ada lagi seorang pun yang akan mempercayai ku.
Hari demi hari, tahun demi tahun, aku di bully oleh pacarnya setiap hari. Dan seperti biasa, dia tidak akan bereaksi apa-apa. Dia hanya diam dan menatapku disiksa oleh pacarnya. Aku menangis dan aku merasa lelah. Aku berjalan ke atas atap sekolah dan berharap untuk menjatuhkan diriku.
"Menyerah?"
Suara itu terdengar lagi di telinga ku. Aku menatap sosok yang sangat familiar, dan itu adalah dia. Aku menatapnya dan menahan tangisku
"Kamu menyerah sampai disini?".dia menatapku dengan tatapan dinginnya lagi.
Aku berjalan mendekati nya dan menampar nya
" Kau pikir kau siapa bicara seperti itu!? Kau.. Hiks hiks.. Kau bahkan membiarkan aku di bully habis-habisan oleh mereka! Kau jahat! Kau kejam!!! "
Aku menangis di hadapan nya. Dia hanya menatapku dengan tatapan dinginnya dan berjalan menjauh darimu
"Sebenarnya... Kamu menganggap ku apa!? Kamu menganggap ku mainan pacarmu kan? Kamu benar-benar lelaki yang aku benci! Aku tidak akan mau berteman dengan mu selamanya! Hiks hiks hiks"
Dia berhenti dan tidak menatapku
"Matilah"
Dia kembali berjalan menuju pintu keluar. Aku hanya bisa diam dan terduduk di lantai yang dingin. Menangis tak terkontrol. Namun.. Ada satu yang aku tidak ketahui.. Dia menunggu ku di balik pintu dan menatapku sepanjang waktu.
5
Kini , aku sudah beranjak dewasa dan aku mendengar kabar bahwa dia telah menikah. Tetapi, pernikahan mereka tidak berjalan lancar. Istrinya meninggal setelah melahirkan putra sulung mereka, dan dia menjadi sangat sedih dan pendiam.
Di senja yang sangat dingin dan sejuk, aku berjalan dan duduk menghadap ke arah pemandangan indah yang dimiliki oleh waktu senja. Disaat itulah ada anak lelaki kecil yang mendekati ku.
"Kakak? Kenapa wajah kakak terlihat sedih? Apakah kakak sedang sedih?"
Aku menatap ke arah anak kecil itu, wajah yang sangat familiar, wajah dan rambut yang sangat mirip dengan seseorang yang sangat aku kenali. Aku menarik nafas dan tersenyum pada anak kecil itu.
"Kakak sedang sedih... Kamu kenapa ada disini? Kenapa Bukan langsung pulang kerumah? Disini sangat berbahaya.." Aku tersenyum pada anak itu
"Papa menyuruhku untuk menunggu disini, kak!" Anak itu tersenyum.
Seketika aku tersentak, seluruh wajah anak itu sangat mirip dengannya. Aku sempat berpikir, 'apakah anak ini.. Adalah anaknya?'.aku menatap anak kecil itu dengan lama, hingga ada suara yang sudah lama yang ingin aku dengar.
"Anakku! Kemarilah!" Ucap pria yang tidak asing di telingaku. Aku pun segera menatapnya. Tatapan kami bertemu satu sama lain.
"Loh? Kamu..." Pria itu menatapku saat anaknya berlari ke pelukan nya
Dengan cepat aku membalikkan wajahku dan berlari. Aku berlari menjauhi nya dan anaknya dengan secepat mungkin, aku berusaha untuk tidak menangis di hadapannya.
Dia mengejarku sambil menggendong anaknya
"Hana! Hana!" Dia terus meneriakkan namaku setiap kali dia berlari. Anaknya pun merasa heran dan ikut memanggilku. Aku mengabaikan mereka dan terus berlari.
Hingga, sebuah mobil dari arah berlawanan di jalan raya menabrak ku dengan tabrakan yang kuat. Membuat tubuhku terpelanting dan mengeluarkan darah. Dia dan anaknya terkejut melihat ku yang bersimbah darah dan sudah tidak sadarkan diri. Dia menangis dan memelukku dengan erat.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!! Tidak!!!!"
Dia menangis dan tanpa sadar, cincin pernikahan yang dia simpan di dalam sakunya keluar. Dia dengan cepat mengambil cincin itu dan memasangkannya ke jemariku. Saat suhu tubuhku sudah mendingin.
"Kamu tau... Kamu tau aku ingin menikahimu... Hiks hiks.. Aku.. Aku datang terlambat... Maafkan aku.. Maafkan aku hana.. Maafkan.. "
Dia menangis dengan rapuh di samping ku dan anaknya pun memeluk nya dengan erat.
Tamat