Hujan datang tidak membashi bumi begitu saja, rintik kan turun lebih dulu tuk memberi pertanda bahwa sudah waktunya untuk berteduh, jika terburu-buru gunakan pelindung untuk melanjutkan. Rintik adalah peringatan yang sering kali diabaikan, padahal kedatangannya jelas tuk memberi kabar.
Rintik adalah peringatan untuk datangnya hujan sedangkan kamu adalah peringatan untuk aku agar tidak begitu saja percaya. Jika saat itu aku berbalik dan tidak membiarkan kamu pergi akankah akhir cerita ini kan berbeda? Tidak ada yang tahu, karena pada akhirnya itu hanya angan yang tidak bisa terlaksanakan.
"Apakah kamu suka hujan?" pertanyaan biasa saja dari sosokmu yang mengulurkan tangan dibawah derasnya hujan.
"Tidak" jawabku dengan pelan.
"Kenapa?"
"Hanya tidak saja, membuat basah, kotor juga" seharusnya saat itu aku mengangkat kepalaku dan menoleh kearah mu, sialnya aku tidak.
"Begitu, aku suka hujan" ucapmu dengan senyum yang tidak ku sadari.
"Kenapa?" kali ini aku yang bertanya dengan mata yang masih melihat ke benda pipih ditanganku.
Kamu menoleh dan tersenyum diam-diam saat melihatku, seharusnya aku menoleh saat itu dan bertanya mengapa menatapku begitu. Aku terlalu percaya diri bahwa masih ada esok untuk bertanya.
"Sama seperti kamu, aku hanya suka saja" jawabannya dengan suara ceria.
"Begitu"
"Iya begitu"
Hening, tidak ada percakapan lagi saat itu. Kamu yang bermain dengan hujan dan aku yang sibuk dengan ponsel ku. Aku tahu ada yang tidak beres tapi aku memutuskan tidak bertanya, menunggu kamu yang akan memberitahu.
Seandainya kala itu aku bertanya mengapa sikapmu aneh, apakah akan berubah?
"Aku duluan ya" ucapmu sambil menepuk bahuku.
"Tapi masih deras?" kali ini aku mengangkat kepalaku, apa guna? Jika aku tidak dapat menangkap sinyal darimu.
"Sengaja, aku mau hujan-hujanan" senyum mu sangat indah saat kamu berdiri diantara hujan yang turun. Seperti fatamorgana, kamu tampak tidak nyata. Aku terpaku, terpesona senyum mu yang seolah memilik dunia. Tapi apa guna? Jika itu menjadi saat terakhir aku melihat senyum mu.
Jangan merasa bersalah.
Adalah satu-satunya hal yang kamu tuliskan dalam surat terakhir yang kamu tuliskan untukku. Bagaimana bisa? Rasanya sangat menyakitkan bahwa aku gagal mengenali luka mu yang selalu menyadari penderitaanku.
Hari itu hujan turun dengan deras dan aku hanya dia terpaku dibawah guyurannya.
Mungkin mulai sekarang aku suka hujan mungkin dengan alasan yang sama sepertimu.
Selamat tinggal matahariku, Selamat bermimpi indah.