Aku menatap langit malam ini, sungguh indah. Tampak bintang bintang bertaburan disana, tapi ada satu bintang yang menarik perhatian ku, karena ia paling terang diantara yang lain. Lalu aku menutup mataku.
Hari ini aku kabur dari rumah, orang tuaku terus mendesakku untuk belajar, belajar, dan belajar. Mereka ingin aku masuk universitas ternama di kota kami,tentunya dengan jurusan yang mereka inginkan. Bukan aku tidak mau, tapi desakan mereka justru membuat aku seperti enggan dan ingin menjauh dari universitas itu.
Sejenak aku tak tau harus kemana, tapi kakiku menuntunku masuk ke pekarangan rumah seseorang, tanganku mengetuk pintunya. Tak lama berselang, seorang pria berpostur tubuh tinggi, besar dan tegap membukakan pintu, aku menatapnya dengan pelupuk mataku yang penuh air mata.
Ia menarikku menabrak tubuhnya, kehangatan tubuhnya dapat kurasakan. Dia mendekap dan memeluk ku begitu erat. Baju depannya basah karena air mataku yang sudah tak dapat kubendung. Dia Ken, kekasihku. Dia membawaku duduk disofa ruang tamu rumahnya sedangkan dia duduk berlutut didepanku, memegang dan mencium tanganku.
"Kau bertengkar lagi dengan mereka ya?." Tanyanya yang membuat air mataku menetes lagi, lihat! bahkan tanpa aku mengatakan pun dia sudah paham apa yang terjadi, ia mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti.
"Kau cantik kalau menangis, tapi jauh lebih cantik kalau tersenyum." Dasar buaya darat, pikirku. Aku tersenyum, sejenak suasana sepi dan tenang.
Aku menatapnya begitu lekat, "apa dia masih marah?" tanyaku pada diriku sendiri, seminggu yang lalu kami baru saja bertengkar hebat, tidak ada komunikasi sama sekali sampai hari ini, aku tau aku yang salah, aku ketahuan berbohong padanya saat aku tidur dirumah temanku. Sebenarnya itu dirumah teman perempuanku, tapi aku tidak mengatakan padanya banyak teman laki-laki ku yang juga ikut menginap, perbandingannya 1:3.
"Maaf" ucapku sembari menundukkan kepalaku. Dia mencium jidatku, yang tentu saja membuat aku tertegun.
"Apa kau masih marah?" tanyaku menatap matanya.
"Apakah aku bisa marah padamu?" manik matanya menatap balik kearahku. Aku diam sebentar lalu menepuk pundaknya.
"Kau bisa memarahi ku, Ken. Jangan seperti ini.. ini sangat tidak adil untukmu" ucapku yang hanya di jawab dengan gelengan kepalanya.
Saat kami bertengkar, dia terus menjadi pihak yang mengalah. Terkadang aku berpikir, bagaimana bisa ada orang seperti itu. Apakah ia tidak memiliki ego? atau memang ia tidak memiliki perasaan?.
Mata kami masih dan terus bertatapan, ia seperti membaca apa yang kurasakan. Sedetik kemudian, ia meneteskan air dari kelopak matanya, ini pertama kalinya aku melihat Ken menangis.
"Hey?, kenapa?"tanyaku yang tidak dijawab sama sekali olehnya, dia menundukkan kepalanya, aku spontan menyamakan posisi dengannya, memeluknya dalam duduk kami. Mengelus dan mengusap rambutnya, hanya itu yang aku lakukan.
Sekitar setengah jam kemudian, dia mengangkat kepalanya dan menatapku.
"Selama 2 tahun ini aku bersamamu, aku selalu merasa bahwa aku tidak cukup baik untuk mendampingimu, tapi aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku" ucapnya.
Aku menangkup kedua pipinya ditanganku.
"Kau selalu mengantar dan menemani ku kemana pun aku pergi, merawatku saat aku sakit, menyuapiku saat aku tidak nafsu makan, mengerjakan prku, menghibur dan memeluk ku saat aku sedang badmood, kau selalu ada untukku, Ken. Bahkan kau tidak perlu bertanya untuk sekedar tahu bagaimana keadaan ku. Tidak ada hal yang membuat mu tidak pantas atau tidak cukup baik untukku."
Dia terdiam sejenak, lalu mencium pipiku.
"Baiklah, kalau begitu mari makan." Dia berdiri dan menarikku untuk berdiri juga.
"Tiba tiba?" aku sedikit heran dengan perubahan emosinya yang begitu cepat.
"Aku tau kau lapar, mari princess ku.."
Ia menggandengku menuju meja makan, dan melayaniku layaknya benar benar seorang putri.
"Ken, dimana aku bisa menemukan laki laki seperti mu lagi, jika kau meninggalkan aku seperti saat ini, apa kau bahagia disana? apa kau juga sudah menemukan bidadari yang melayani mu disana sayang?. Aku merindukanmu, Ken."