Masih kuingat betul memori dimana aku menjadi siswa pindahan saat masuk ke sekolah baru di sebuah kota. Walaupun sekolah swasta namun murid-murid disana cukup baik dan sangat welcome dengan keberadaan atau kedatang murid baru.
Dan aku adalah salah satunya murid baru di semester dua saat itu. Aku ingat betul bagaimana tatapan hingga rasa penasaran dari beberapa teman ataupun kakak kelas yang ingin mencoba menanyakan nama atau sekedar duduk di bangku depanku.
Saat itu aku hanya fokus untuk mengikuti atau mengejar ketertinggalan ku dalam beberapa mata pelajaran, dan berharap ada seseorang yang bisa membantuku dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Hingga pada suatu waktu dimana kau datang menawarkan beberapa catatan kepadaku.
Awalnya aku hanya melihat buku yang kau pegang namun sesekali aku juga mencuri pandang kearah wajahmu yang sedang tersenyum tulus.
"Mau pinjam catatan ku?" ujarku kala itu dengan diselingi beberapa siulan dari teman-teman sekelas yang mengejekmu.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban dan mengambil beberapa buku yang kau pegang, kemudian tak lama kau pun memilih duduk di bangku depan sambil menghadap kearahku yang sudah mulai menyalin catatan.
"Aku bisa membantumu." ujarku kala itu masih dengan senyuman.
"Makasih." jawabku yang engga merepotkan.
Kukira dari situ kita tak lagi bertutur sapa, namun aku salah besar. Karena kita memang sekelas dan hanya dibedakan oleh pembagian kelas saja.
Hingga kenaikan kelas pun tiba dan kita menjadi sahabat karena mulai dekat satu sama lain.
Tanpa aku sadari kebaikanmu telah meluluhkan hatiku.
Awalnya aku menolak untuk jatuh cinta saat itu, namun pemikiran konyol anak remaja hanyalah bualan belaka.
Aku benar-benar mengenai syndrom cinta monyet. Dimana aku menyukaimu dalam imajinasi saja tanpa berucap ataupun meluapkan emosi cintaku dalam gerak tubuh ataupun lainnya.
Hingga aku tersadar kita sudah memasuki ujian Nasional, dimana sebentar lagi kita akan terpisah oleh kesibukan masing-masing.
Hingga pada akhirnya tebakanmu benar saja.
Waktu itu tiga hari setelah menerima surat kelulusan, aku masih uring-uringan di atas tempat tidur karena sudah menjadi pengangguran setelah lulus sekolah.
Sebuah notif SMS pun masuk.
"Aku minta maaf selama ini sudah membuatmu susah dalam meladeni sikapku. Aku juga minta maaf jika ada salah kata dalam tutur bicara ku. Aku juga meminta maaf karena suasana hatiku yang selalu tantrum hingga membuatmu tiba-tiba tidak menyukaiku. Tapi dari semua permintaan maafku, aku hanya ingin mengatakan Terima kasih yang teramat dalam untukmu yang sudah menerimaku sebagai sahabat, teman hingga kita bisa mengenang banyak kisah saat ini."
Aku menghela nafas membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Kembali kubuka pesan berikutnya.
"Terima kasih, sahabatku karena sudah mengajarkan begitu banyak pengalaman dalam tiga tahun terakhir aku bersama kalian. Terima kasih karena pernah ada dalam suka maupun duka selama masa sekolah. Dan Terima kasih karena masih memercayai ku hingga kini dengan ketulusan kalian."
Kembali kubuka pesan ketiga denga cepat.
"Aku cinta kalian semua. Selamat tinggal."
Setelah membaca pesan terakhir dengan segera aku meneman tombol hijau di layar.
Menunggu operator yang masih tersambung dengan hati gundah dan gelisah, namun airmata mulai bercucuran dengan pelan di wajahmu saat ini.
"Siapakah gerangan yang telah menulis pesan hari seperti ini?" batinku dalam hati.
Tiba-tiba telepon terhubung, terdengar suara deburan ombak.
"Halo," sapamu di seberang sana.
"Siapa? Astaga Devan," pekik ku kuat seakan tak percaya dengan pengiriman pesan tersebut. Karena awalnya aku mengira jika yang mengirim pesan itu adalah sahabat karibku. Ternyata feeling ku salah.
Pengirim pesan itu adalah kau. Ya, Kau yang telah kutaksir hanya dalam anganku yang saat ini hendak merantau menjalani kehidupan.
Kau adalah angan yang hingga kini tak bisa kutaksir lagi dan tak mungkin bisa bertemu kembali.
Selamat tinggal anganku yang bersemayam bersama kenangan.