Panas menyala-nyala, kepalaku seakan terbakar teriknya matahari siang. Harus kuakui panasnya Ibukota Jakarta memang sering menggila. Padahal di kampus, tepatnya di setiap ruangan, AC selalu menyala selama jam aktif mahasiswa berlangsung, tetapi begitu keluar, angin panas langsung menyapu wajah beserta debu jalanan.
Namaku Marwa Izzatunnisa, mahasiswi tingkat akhir fakultas bisnis. Tepat sekali, aku sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirku. Sejam yang lalu, aku baru saja menyelesaikan bimbingan skripsi dengan Pak Abdul Karim, dosen pembimbingku. Tinggal sedikit lagi, maka aku sudah bisa dinyatakan lulus.
"Hei, Marwa!"
Aku menoleh ke asal suara. Seorang pria tinggi tegap tersenyum menyapaku hangat. Dia adalah teman satu angkatanku, namanya Al-Fatih Mahendra. Bukan, dia bukan pacarku tapi kami memang dekat, Al selalu bilang bahwa aku adalah sahabat baiknya. Kami berada di fakultas yang sama, hanya jurusan saja yang berbeda.
Al-Fatih pria yang baik, humoris juga cerdas. Serta tampan menurutku, dengan hidung mancung dan alis tebal miliknya, aku hampir tak bisa berpaling saat menatapnya. "Kamu free gak nanti sore?" tanyanya seraya mengunyah permen karet. Itu kebiasaannya dan aku sudah sangat hafal.
Aku menggeleng sebagai jawaban, "Enggak, Al, kenapa? Mau minta antar ke toko buku lagi?" tanyaku langsung. Kulihat Al memberiku senyuman manisnya. Senyum yang selalu membuatku merasa istimewa.
"Yoi, aku jemput ya nanti?" tanyanya lagi.
"Gak usah, deh, aku pergi sendiri aja. Nanti kita ketemuan langsung di toko buku aja," tolakku secara halus. Sebenarnya bukan tak ingin pergi dengannya, tetapi aku sedang belajar membatasi interaksiku dengan Al. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini, ada gejolak rasa yang bahkan tak bisa kuterka apakah itu cinta atau rasa semu yang timbul semata interaksi kita yang tak biasa.
Yang pasti ada perasaan nyaman saat bersama Al dan aku benar-benar takut perasaan nyaman itu berubah jadi cinta. Aku takut pada cinta yang tak seharusnya tumbuh ada kecewa yang mesti kutabuh. Al tampak menghela napas kemudian mengangguk, "Oke, deh."
Sorenya, setelah berpakaian rapi dengan abaya biru dan hijab putih, dengan motor kesayangan, aku meluncur dengan kecepatan sedang menuju toko buku tempat di mana aku sudah berjanji pada Al untuk menemaninya mencari buku referensi. Toko buku itu tidak jauh letaknya dari rumahku, hanya 20 menit berkendara.
Baru saja hendak menyalakan motor tiba-tiba ponselku bergetar, tanda pesan masuk. Kubaca, pesan dari Al. Dia mengatakan bahwa ia sudah sampai dan akan menungguku di depan gerbang pintu masuk perpustakaan. Kubalas pesan itu dengan singkat lalu melajukan motorku menuju tempat di mana Al berada.
Sesampainya di sana, kutemukan Al tengah berdiri bersama seorang perempuan sambil bercengkrama ria. Tampak bahagia sekali. Setelah kuparkir motorku di tempat parkir dan menerima tiket parkir, aku memanggil Al, dia langsung menoleh dan tersenyum manis. Senyum yang lagi-lagu selalu bisa membuat denyut jantungku berdebar.
Sedangkan perempuan yang tadi bersama Al juga menghampiri, satu tangannya kulihat mengusap jemari Al lembut. "Al, ini sahabat yang kamu bilang itu, ya?" tanyanya yang langsung diangguki Al.
"Iya, dia namanya Marwa ... Marwa, ini pacarku, Kalisha." Dia memperkenalkan pacarnya padaku. Entah mengapa, begitu dia mengatakan bahwa perempuan yang bergelayut manja di sampingnya itu adalah pacarnya, hatiku berdenyut sakit. Dadaku jadi sebah, tapi sebisa mungkin kututupi dengan senyum paksa merekah.
Kemudian, kami bertiga memasuki toko buku itu. Sesak rasanya melihat kebersamaan mereka. Biasanya, aku dan Al yang akan berkeliling, menjamah satu rak display ke rak display lainnya, mencari-cari buku dengan cover menarik memikat mata. Atau kadang, kami akan berdebat tentang buku satu dengan buku lainnya, pernah juga kami duduk bersila di lantai dan mendiskusikan buku yang pernah kami baca.
Tapi kali ini berbeda, Al tampaknya sudah menemukan teman berbaginya sendiri. Entah kapan pastinya dia menemukannya, ia tak sekalipun mengatakannya padaku. Ah, aku jadi menyesali keputusanku datang ke mari.
Jika boleh jujur, ada sebagian dari diriku yang tak rela melihat Al bersama dengan perempuan lain. Aku seperti tak ingin melihat Al dekat dengan yang lain, apalagi sampai sedekat itu! Perasaan macam apa ini? Kenapa aku jadi begini?
"Marwa, menurut kamu buku ini gimana? Bagus atau enggak?" Al bersuara seraya menunjukkan sebuah buku padaku. Perempuan bernama Kalisha itu juga menatapku sedikit sinis, barangkali ia tak suka Al menyebut namaku.
Aku meraih buku itu dan membuka segelnya, membaca sekilas isinya kemudian kembali memberikannya pada Al.
"Bagus, cocok juga kalau dibaca sebagai referensi, tapi kalau aku boleh sarankan, kamu sebaiknya baca buku ini, Al." Aku memberikan sebuah buku yang tadi kuambil. Al tampak berbinar saat menerimanya, dan, ya, perempuan itu bergelayut manja lagi pada Al. Menyebalkan!
Setelah dari toko buku itu, aku memilih pulang dan menolak ajakan Al untuk mengunjungi Pete Kafe dan minum kopi barang sejenak. Jika saja tak ada perempuan bernama Kalisha itu, aku pasti tak akan ragu untuk menemani Al lebih lama dan berdiskusi dengannya.
Senja kian kentara, mendung yang mengganggu langit menambah suasana kian gelap padahal jam baru menunjuk ke angka lima seperempat. Sama seperti perasaanku sore ini, kalut bertaburan sesak mengisi rongga dada. Ada sebah yang tak dapat kuurai dengan tanya kenapa.
Saat sampai di rumah, langit telah menggelap sempurna. Maghrib berkumandang, kubentangkan sajadah usai membersihkan diri di sisi peraduan-Nya. Memintal harapan beserta doa-doa kebaikan untuk ayah dan ibu, meminta-Nya menjaga kedua permata hatiku dalam naungan ridha-Nya.
Kuangkat kedua tanganku haru, merajut ampunan atas dosa-dosa yang entah sadar dan tidak sadar kulakukan. Dalam syahdu yang sunyi kurenda nama Al-Fatih dengan lirih. "Ya Allah, jagalah dia untukku, jaga hatinya hanya untukku, berilah ia kebahagiaan, sertai ia dalam kebaikan-kebaikan," munajatku panjang. Bahkan kurasakan mataku basah seiring dengan selesainya munajat lirih itu.
Sajadah itu jadi saksi betapa seringnya nama Al-Fatih kusebut dengan berderai air mata. Jika benar yang hadir di hatiku adalah cinta, maka dapat kupastikan cintaku adalah yang paling murni dan tulus. Tetapi, aku jadi bertanya-tanya, cinta yang tulus dapatkah berbalas ketulusan juga?
Hari-hari berikutnya terasa amat berat bagiku, bahkan skripsiku sempat terlupakan selama beberapa waktu. Al menghubungiku beberapa kali, tapi tak ada satu pun pesannya yang kubalas, bahkan saat ia meneleponku, cepat-cepat kumatikan ponsel. Di satu hari, ia bahkan sempat mendatangi rumahku dan bertanya pada Ibu tentangku. Syukur Ibu hanya menjawab bahwa aku tengah sakit.
Sungguh, aku tak ingin Al tahu bahwa aku menjadi seorang nelangsa karenanya. Berhari-hari aku mengungkung diri dalam munajat-munajat panjang demi menemukan apa arti rasa yang muncul di hati. Berdosakah aku bila jatuh cinta?
Jika jatuh cinta padanya adalah sebuah dosa, maka aku pastilah orang yang paling berdosa sebab terus memintal doa atas namanya. Bisakah Al percaya bahwa aku menjadi pendosa karena mencintainya?
Tiga bulan kuhabiskan dengan susah payah untuk menyusun skripsiku. Saat waktu kelulusan tiba, kulihat Al menggandeng perempuan itu juga. Dadaku kian sesak saat melihat Al berjongkok di hadapannya dan menunjukkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Al tersenyum bahkan perempuan bernama Kalisha tak kalah lebar senyumnya.
Di saat kupinang ia dalam doa, kenapa ia justru meminang perempuan lain penuh rasa?
Ingin rasanya aku berlari dan berteriak tepat di telinganya, mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Aku bahkan sanggup bersimpuh luruh di malam yang sepertiga untuknya. Apakah lisanku yang merapal doa untuknya tak cukup nyata?
Ingin sekali kukatakan padanya bahwa ia bagian dari cinta yang kusemoga pada semesta. Ia merupa syukur yang kudapati dalam wujud seorang hamba. Bersamaku mungkin tak akan ia dapati kata sempurna.
Tapi dapat kupastikan bahwa hanya akulah yang mencintainya bahkan saat malam hendak tiada. Hanya akulah yang jatuh cinta padanya hingga pagi menampakkan sinarnya. Hanya aku, hanya aku yang mencintainya. Tapi, bisakah aku menyatakannya?
Tidak. Aku tidak bisa.
Biarlah Al bersama cintanya. Tak apa jika ia tak bersamaku, setidaknya, aku pernah memiliki cinta paling rela untuknya.
Cukup Sang Maha Cinta saja yang tahu, bahwa aku yang kerap meminangnya lewat doa justru tak bisa mengungkap cinta di hadapannya.
Biarlah cintaku hanya mewujud pada munajat cinta tak tersentuh kata. Karena sesungguhnya, sebaik-baiknya cinta adalah dengan mendoakannya.
***
Hai, terimakasih sudah membaca kisah singkat ini.
Aku HK, sang pecinta yang kerap terluka karena cinta. Aku suka menulis, berpuisi, buku, kopi, langit, awan dan bahkan aku juga suka kamu.
Menurutku, seharusnya, kamu memberiku mangga usai membaca cerpen ini. Agar usahaku tak sia-sia, bolehlah kau tinggalkan sebaris kata di bawah komentar agar aku bisa membaca seberapa suka engkau dengan kisah Munajat Cinta seorang Marwa.
Akhir kata, aku mendedikasikan cerpen ini untuk event Challenge Menulis Cerpen Bebas bersama Ruang Author.
With Love,
— HK