Sejak lahir, Sampai usia 17 tahun kini, Jisung tak pernah melihat setitik pun cahaya dalam hidupnya. Semua selalu gelap, hitam, sepi dan sesak.
Dia hanya bisa mendengar suara, suara orang yang selalu ada untuknya. Na Jaemin. Tapi sayang, Jisung orang yang merasa tak berguna saat dirinya dikasihani, dia tak mau dipandang lemah oleh siapapun, termasuk perawatnya ini.
"Jaem, kenapa sih Lo mau urus orang buta kaya gue?" tanya Jisung pada saat dirinya sedang di suapi Jaemin. "Lo gak dibayar padahal" lanjutnya.
"Karna cinta" jawab Jaemin singkat namun bermakna dalam.
"Cinta? sama orang cacat kaya gue? bodoh lu" umpat Jisung merasa hina.
Jaemin tersenyum tipis,dia sendiri tidak tahu mengapa perasaannya bisa sebesar itu pada Jisung, dia hanya punya keinginan untuk menjaganya, itu saja.
"Mending Lo pergi, cari pacar sana, tinggalin gue yang gak berguna ini, biarin gue mati!" ucap Jisung lagi, terdengar lelah dan menyerah.
"Ji, jangan ngeluh terus dong, tuhan cuman ambil mata kamu, fisik kamu yang lain itu sempurna, kamu tau gak? kamu itu tampan, kamu punya hidung mancung, bibir kecil yang berisi, dan kamu tinggi, aku jadi iri deh"
"Gak, gue gak sempurna, gue juga pengen liat dunia kaya orang-orang, gue gak mau terus ada dalam kegelapan kaya gini"
Jaemin menghela napas berat, kemudian dia mendekatkan dirinya dan mencium bibir Jisung dengan lembut.
Nampak lelaki itu mengerjap, sangat terkejut. Tapi memilih untuk diam dan menerima sentuhan jaemin.
"Sabar ya Ji, Ayah kamu lagi cari pendonor mata buat kamu, nanti kamu bisa liat dunia ini"
"Beneran?"
"Iya, nanti aku bakal kenalin banyak hal sama kamu,kamu mau liat apa dulu nanti?"
"Gue mau liat Lo"
Jaemin tertegun. "kenapa?"
"Pengen liat tampang orang bodoh itu kaya gimana"
Lagi, Jaemin hanya bisa menghela napasnya.
"Udah sana pergi, gue muak tiap kali denger Lo bilang kaya gitu, dari dulu selalu ngejanjiin ada orang yang mau donor matanya buat gue, nyatanya sampe sekarang gak ada!"
Jaemin masih diam di tempatnya.
"PERGI JAEMIN...LO GAK USAH DATENG KE SINI LAGI..LO GAK USAH PEDULIIN GUE LAGI, GUE BENCI SAMA LO" Jisung berteriak, melempar semua hal random yang bisa di raihnya.
Dengan berat hati, Jaemin melangkah mundur, tanpa di sadari air matanya sudah luruh membasahi pipi.
Sudah lama, lama sekali Jaemin menemani Jisung, dia mencintainya, tulus. Tapi kenapa Jisung tak pernah mau menerima takdirnya ini? Bahkan ketika Jaemin bersumpah kalau dia akan menjadi mata untuknya, tapi Jisung tak pernah mengerti.
Jaemin menyerah!
Mungkin dalam beberapa waktu, dia tidak akan menemui Jisung.
Sampai seminggu kemudian!
Jisung menganggap kalau yang dia katakan pada Jaemin waktu itu hanya bentuk kekesalannya. Jisung butuh Jaemin. sangat butuh.
Tapi sudah lebih dari seminggu, Jaemin hilang. Tak pernah muncul lagi sekalipun ia menghembuskan napas di telinganya.
"Ayah, Kemana Jaemin? kenapa dia gak pernah nemuin aku lagi?" tanya Jisung pada sang ayah yang kini menggantikan tugas Jaemin untuk mengurusnya.
"Bukannya kamu sendiri yang udah usir dia dan kamu gak mau dia dateng kesini lagi?" Ayah balik bertanya.
"Aku gak serius yah, aku cuman marah waktu itu"
"Seharusnya kamu gak sia siain orang sebaik dia"
"Aku nyesel yah"
"Nyesel udah terlambat, Jaemin udah pergi dan gak sayang kamu lagi!"
Semakin hancur hati Jisung mendengarnya, dia yang bodoh, mengusir orang sebaik Jaemin.
Karna itu, Jisung menghukum dirinya sendiri. Membiarkan hidupnya kesepian tanpa Jaemin.
Hingga berbulan bulan.
Lalu, datanglah kabar membahagiakan dari ayah. Ayah bilang "Jisung, sudah ada orang yang mau donorin kedua matanya sama kamu!"
Bagai mendapat dunia dan isinya, Jisung senang, sangat. Tanpa menunda wakti lagi dia mulai menjalani operasi tranplantasi mata.
Jisung bisa melihat!
melihat rupanya, rupa ayahnya, dan rupa yang masih ingin dia lihat. Jaemin!
"Ayah, siapa orang yang donorin mata buat aku?" tanya Jisung
Dengan berlinang air mata, Ayah menjawab, "Jaemin!"
"Maksud ayah?"
"Jaemin kecelakaan, dia sempat bertahan tiga hari di rumah sakit, lalu meninggal, tapi sebelum itu, dia menulis surat ini untukmu!" ayah memberjkan selembar kertas yang terlipat rapi untuk Jisung.
"Tolong bacakan untukku!"
Ayah menarik napasnya dan mulai membaca.
"Jisung, bagaimana? kamu udah bisa liat kan sekarang? dunia ini indah bukan? apalagi kalau kita bisa liat bareng-bareng, tapi Ji, Kayanya tuhan mau mata aku buat kamu, jadi gunakan mata itu baik baik ya, kita bisa liat indahnya dunia lewat mata yang sama, maaf kalau aku lama ninggalin kamu, ceritanya panjang...intinya, aku gak nyesel ngelakuin ini, aku sayang kamu Jisung, salam, Na Jaemin!" Ayah melipat kembali kertanya usai membaca keseluruhan isi surat itu.
Ah Jaemin!
Mata Jisung bisa melihat sekarang, tapi hatinya hancur bagai kepingan kaca yang di hempaskan oleh kekuatan raksasa.
"Ayah, Jasad Jaemin masih di sini? aku mau lihat dia"
"Iya, dia masih ada di sini"
Ayah dan beberapa suster lainnya membantu Jisung mempertemukan dirinya dan jasad Jaemin.
"Jaemin..."panggil Jisung lirih, melihat wajah pucat Jaemin yang tubuhnya semakin dingin.
"Kamu tampan..." hanya itu yang sanggup Jisung katakan.
Mengenai fisik Jaemin yang sempurna, bulu mata lentik yang tertutup untuk selamanya itu memamerkan keindahannya, kedua bulu alis yang rapi, dan bibirnya. Bibir mungil itu yang selalu mencium Jisung.
Cup!
Untuk terakhir kalinya, Jisung mendaratkan ciuman di bibir Jaemin di iringi dengan tetes air matanya.
"Maaf Jaem.. maafin gue...."