Lagi-lagi perasaan ini tengah hampa mengingatmu yang jauh di negri seberang sana sedang menempuh pendidikan sarjanamu.
Aku berdiam diri di balik jendela kamarku menatap kenangan indah kita dulu. Saat tengah malam di derasnya hujan badai, kau bela-belakan datang ke rumahku dan mengetok pintu jendela kamarku hanya untuk membantuku belajar demi ujian besok.
Aku cemas akan keadaanmu yang terlihat berantakan dan amburadul, tapi kau masih tetap tersenyu. Jadi aku membuatkanmu air hangat dan meminjamkan baju kakak laki lakiku padamu.
Kau mengajariku pelajaran fisika itu dengan kompeten dan jelas, sudah seperti guru privatku, bukan seorang pacar. Haha.
Esoknya kau mengalami demam saat ujian, aku sudah memaksamu untuk istirahat dan mengambil ujian susulan, tapi kau malah menolaknya mentah-mentah dengan alasan; 'bagaimana mungkin kalo dengan demam ringan ini saja aku sudah tepar? Lalu bagaimana tanggungjawabku nanti padamu?'
Setelah 3 hari ujian kau langsung tepar di RS dan dirawat disana, untungnya sakitmu tidak terlalu parah, satu minggu setelah ujian kau dan aku ke sekolah melihat nilai dan peringkat kelulusan kita.
Aku menyunggingkan bibirku tersenyum menatap kertas di mading itu, nyatanya masih saja sama, walau dalam keadaan sakit-sakitan selama ujian, kamu masih tetap bertahan dalam juara 1.
Aku berjalan ke arah sisi mading pojok kiri paling bawah menatap nilai dan rankingku yang pasti sangat berlawanan denganmu.
Aku sedikit kaget karna namaku tak ada lagi di dereten 50 kebawah dari 698 murid di sana. Kamu menarik tanganku ke lembaran ke 3 tepat paling bawah dari sudut kanan tempat lembaranmu berada, dengan 1 lembaran pemisah di antara nama kita.
Kamu menunjuk namaku yang berada pada posisi ke 150, masih sama, nama kita berada pada arah yang berlawanan, namun kini aku merasa sedikit bangga dan bersyukur.
Dulu namamu dan namaku berlawanan pada sudut yang berbeda namun kini hanya berlawan pada garis vertikal.
Aku kembali ke rumah dengan wajah bahagia dan amat bersyukur berkat dirimu yang rela mengajariku setiap pulang sekolah dan setiap malam.
Setelah pengumuman itu kamu menerima panggilan dari salah satu universitas impianmu, dan pastinya kamu akan menerima itu, aku hanya melanjutkan studyku dalam kota tidak sepertimu yang keluar negri. Kecewa? Pasti, karna aku tak akan bisa lagi berjumpa denganmu. Namun kau mencoba menenangkanku dengan alasan untuk masa depan keluarga kita.
Aku hanya heran dengan dirimu yang terlalu berorientasi pada masa depan tanpa memikirkan bagaimana perasaanku padamu. 4 tahun aku menunggumu di sini dengan rasa yang masih sama, dengan rindu yang semakin berat di dadaku.
Aku tak tau apa di sana kau juga tengah merindukanku atau tidak.
Hanya saja aku benar-benar rindu padamu. Raga ini seakan jiwanya mau keluar dari diriku jika seadainya aku bisa melihatmu detik ini. Hatiku tergores secara perlahan saat mengingat dirimu yang tak bisa dijumpai.
Begitulah definisi RINDU menurutku. 5 tahun aku menunggu, kamu masih belum menampakkan wajahmu di hadapanku.
Saat aku sudah melewati 1 tahun pekerjaanku sebagai seorang karyawan di salah satu dinas, kau juga belum muncul dihadapanku.
Orangtua, teman-teman dan tetangga selalu menanyaiku pertanyaan yang begitu memuakkan, "Kapan nikah? Si anu aja yang masih usia segitu udah nikah," jelas mereka, komat kamit di depanku.
Usiaku saat ini masih 23! Dan benar saja usia segitu masih muda untuk nikah!!! Rasanya aku mau banting mulut orang-orang itu!
Saat itu seorang teman kantorku yang selisah 3 tahun lebih besar dariku mendekatiku dan melamarku tiba tiba. Pastinya aku syok, karna aku masih menunggu kabar darimu. Di tengah sorakan cie-cie an dan terima! Terima! Dari teman-teman kantor, kamu akhirnya datang di tengah tragedi aneh itu, menarik tanganku sambil meneriaku "DIA MILIKKU!" Membuatku sedikit kaget karna kehadiranmu yang tiba-tiba, tapi entah kenapa aku bahagia kamu kembali di sisiku pada momen yang tepat.
Pria itu menunggu kepastianku, dan secara langsung aku menolaknya karna aku telah menunggumu selama ini.
Setelah itu suasana kantor sedikit tenang.
2 tahun kemudian kita sudah memiliki seorang anak perempuan yang lucu, dan kini pun aku bahagia karna kau sangat memikirkan dan perhatian padaku dan anak kita.
Aku bergumam di balik senyum indahmu. "Inilah hasil kesabaranku."