Aku anak STM yang bisa dibilang anti pertemanan dengan perempuan. Bukan karena aku tak normal. Tapi aku membatasi diri agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Okelah. Aku memang terlahir tampan dengan banyak kemampuan yang kudapatkan secara gratis dari gen orang tuaku.
Aku lelah dengan semua pertemanan perempuan yang pada akhirnya menimbulkan pertengkaran diantara mereka.
Saat itu aku kelas XI di sebuah STM swasta yang lumayan ternama di kota A. Setiap hari ayahku atau abangku yang akan bergantian mengantar dan menjemput ku sekolah. Namun,karena hari itu ayahku sedang dinas keluar kota, dan abangku ada tugas PKL dari kampusnya,aku harus pulang sekolah naik bis kota.
Sebenarnya kawan-kawanku yang notabene laki-laki semua,ada yang menawarkan mengantarkan ku pulang. Tapi entah kenapa hari itu rasanya aku ingin sekali mencoba naik bis kota.
Sesuai arahan dari ayah dan abangku, aku harus menunggu bis kota yang berwarna biru dengan nomor punggung 120. Eh,kok jadi macam pemain sepakbola.😁😁 Nomor bis lah ya.
Kawan-kawan setiaku menemaniku menanti kedatangan si biru dengan nomor 120. Tak lama si bis kota Toyo pun datang dengan kecepatan yang tidak cepat. Kawan-kawanku sigap melambaikan tangan ramai-ramai agar si biru Toyo menepi untuk mengangkut ku.
"Pak!!! Kami titipkan kawan kami ya,Pak!!! Tolong antarkan sampai ke akhirat!!!" Kelakar kawanku yang bernama Tan.
"Iya pak!!! Nanti kalau sampai depan rumahnya,lemparkan saja kawan kami ini!!" Teriak Tono,kawanku juga menimpali.
"Jangan kasih turun,Pak!! Biarkan dia keliling kota sampai pagi." Tobi, kawanku ikut menambahi.
"Tabrak mereka aja,Pak!!!" Seruku pada pak sopir sambil naik masuk ke dalam bis.
Kelakuan kami tentu saja mengundang tawa riuh dari para penumpang dan kru bis Toyo yang saat itu tidak penuh.
Mataku memandang seisi bis. Mencari kalau saja ada bangku kosong. Dan aku melihat ada satu Bangko kosong dideretan paling belakang, paling pojok. Aku bergerak perlahan menuju bagian itu.
Namun saat kutengok, ternyata ada yang duduk meringkuk, dengan posisi kepala ditekuk dan disandarkan kedepan pada punggung sandaran kursi penumpang.
"Oh,maaf. Aku pikir disitu kosong." Kataku pada gadis berseragam SMA yang duduk di samping kawannya yang sepertinya tertidur.
"Oh,iya." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Karena sudah terlanjur canggung. Aku tetap berdiri disana. Menghadap ke jendela. Berpegangan pada tiang besi di dalam bis.
"Tyas..Tyas...Tyas...Bangun!!! Ada cowok ganteng!!" Seru si gadis yang tadi kusapa sambil menepuk-nepuk punggung teman disampingnya yang nampaknya tertidur.
"Hmmm..." Si tukang tidur tak menghiraukan panggilan temannya.
"Bangun... Ada cowok ganteng. Berdiri Deket banget." Kata si senyum manis lagi masih menggoyang-goyangkan tubuh temannya itu.
"Tau ah! Bodo amat. Aku ngantuk!" Jawab si tukang tidur tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
Aku yang kege-eran dibuat salah tingkah oleh gadis senyum manis. Meski aku tak berani menatap atau menoleh langsung. Tapi telingaku mendengar.
Sesekali aku melirik. Namun bukan lagi ke gadis dengan senyum manis, melainkan penasaran pada si tukang tidur, kira-kira seperti apa wajahnya.
Apa saja yang dilakukannya sampai sengantuk itu dalam bis kota. Dan yang tak lazim menurutku, ketika biasanya perempuan akan segera menatap ke arahku, tapi dia tak menghiraukan pesonaku.
Baru setengah perjalanan, tiba-tiba bis Toyo berhenti lagi. Bukan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, namun hal lain yang terjadi.
"Maaf ya semua... Mohon turun dulu. Toyo mogok kerja. Biar dibenahi dulu. Nanti kami oper ke bis selanjutnya." Kata pak sopir setelah beberapa saat mencoba menghidupkan mesin bis, namun tak bisa.
Aku sengaja tak segera turun. Rasa penasaranku pada si tukang tidur tak bisa kuabaikan lagi. Aku bermaksud membiarkan dia melewatiku.
"Tyas!! Bangun... Bis nya mogok. Kita semua disuruh turun. Mau dioper." Kata si senyum manis membangunkan temannya
"Woooaaaahhhhheeemm" seru si tukang tidur sambil meregangkan tubuh dan kedua tangannya ke atas.
Meski hanya kulirik dari sudut mata tajamku, namun sangat terlihat betapa kacau dan berantakannya si tukang tidur.
"Benar-benar berantakan." Gumamku perlahan.
Dengan sangat malas, si tukang tidur bangkit mengikuti temannya. Si senyuman manis, menatapku dan tersenyum lagi padaku. Kubalas senyum ramah andalan keluargaku.😏😏😏😏😅
Baru saja mulai melangkah, si tukang tidur yang juga sangat ceroboh, kakinya entah terantuk apa, sampai jalannya terhuyung.
Aku yang kaku dan tak leluasa dengan perempuan asing, tak memiliki reflek menolong yang baik. Tanganku yang seharusnya meraih tubuhnya seperti dalam adegan romantis drama Korea, dimana seorang lelaki akan sigap menangkap tubuh wanitanya agar tidak jatuh. Hal berbeda yang justru kulakukan.
Aku malah mengangkat kedua tanganku keatas,dan menarik mundur tubuhku, membuat tubuh si tukang tidur jatuh tengkurap di depanku. Lebih parahnya, aku malah membuang muka dan tak segera membantunya bangkit.
"Bantu aku berdiri." Kata si ceroboh sambil mencengkeram kaki kananku.
Aku baru tersadar dan segera membantunya berdiri. Aku merapatkan kedua mulutku menahan tawa seketika. Aku terus berusaha membuang muka, agar mampu menahan tawa.
"Dasar sok ganteng!" Serunya lagi membuatku otomatis menatapnya. Sesaat kedua mata kami bertemu. Dan membuatku tak mampu lagi menahan tawa.
"Hahahahahahah..... Hahah.....hahaahahahaa... " 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tiba-tiba kurasakan sikut menyodok bagian perut rataku.
"Bukannya nolongin,malah diketawain." Kata si ceroboh sewot.
"Kamu lucu...🤣🤣🤣🤣🤣" Aku masih melanjutkan tertawa sambil memegangi perutku.
"Oi!!! Pacarannya nanti saja. Kalian ketinggalan bis selanjutnya nanti." Seru salah satu kru bis Toyo yang langsung membuat kami terdiam dan bangkit berjalan turun dari dalam bis.
"Kalian saling kenal?"si senyum manis menyambut kami diluar.
"Enggak." Jawab si tukang ceroboh tegas. Sedangkan aku hanya bisa menggeleng canggung.
"Hmmm... Kalau gitu kenalkan. Namaku Tini. Dia ini bestiku, namanya Tyas. Namamu siapa?😊" Kata si senyum manis sambil mengulurkan tangan.
"Oh, aku Tama." Jawabku singkat pakai mode jaim.😏
"Kami kelas X di SMAN 1. Kamu di STM tadi ya? Kok tak pernah lihat kamu naik bis?"
"Dari penampilannya kelihatan dia itu orang kaya. Mana mungkin naik bis setiap hari seperti kita." 😒😒Sambung siceroboh dengan ekspresi masam sambil mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda.
"Oh benar juga."🙂 Kata Tini sambil memandangiku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ciiih... Aku terbiasa rapi. Bukan macam kamu."😏😏 Jawabku ketus.
"Heleh... Paling kamu anak mama yang manja."😒😒😒 Lagi-lagi ekspresi Tyas membuatku semakin jengkel.
"Memangnya kenapa kalo anak mama? Memang kamu lahir dari batu??"🤨🤨🤨. Jawabku mulai emosi.
"Diih... Malah ngata-ngatain." Tyas pun sepertinya ikut meradang.
"Sudah!!! Kok kalian malah berantem?" Tini menengahi kami.
"Tau tuh,temenmu aneh."😒😒 Jawabku sambil berjalan menjauh menuju tempat yang teduh di bawah pohon yang berjarak beberapa meter dari mereka.
"Kamu tuh kapan bisa dapet pacar. Klo jadi cewek galak terus. Tuh, dia jadi menjauh kan. Padahal ganteng begitu loh." 😮💨😮💨😮💨Aku masih mendengar kalimat Tini dengan jelas.
"Buat apa ganteng,tapi anak mama."😠
Aku hanya bisa berusaha meredam emosi untuk tak menghampirinya, aku tak mau berurusan dengan perempuan ceroboh sepertinya.
Meskipun sebenarnya aku terpikat pada kepolosan wajahnya yang terlihat sempurna saat ia menyibakkan rambut dan mengikatnya tadi.
Wajahnya yang terlihat biasa, polos tanpa polesan apapun. Terlihat bersih. Dengan hidung sedikit mancung, bibir mungil merekah, matanya terang dengan bola mata hitam pekat. Alis mata sedikit lebih tebal dibandingkan teman disebelahnya tadi.
"Sempurna." 🙂Tak sadar aku bergumam sambil mengingat gayanya mengikat rambut.
"Aku sudah ghila. Kenapa malah mengingatnya."😪😪
"Duaaaarrrrr!!!!!!" Terdengar suara dentuman keras dan membuatku kaget.
Aku tak percaya dengan apa yang kusaksikan tepat beberapa meter didepanku.
Bis Toyo yang tadinya aku tumpangi sudah berpindah tepat di depanku menabrak mobil yang dari tadi terparkir tak jauh dariku. Aku yang duduk di bawah pohon tertegun dan bingung dengan apa yang kulihat. Aku berdiri, bergerak perlahan, dan kulihat ada menempel dibelakang bus Toyo sebuah minibus yang ringsek bagian depannya.
😱😱😱😱😱😱
"Pemandangan macam apa ini? Apa yang terjadi?"aku benar-benar syok sesaat.
"Tama ... Tolong...." Aku mendengar lirih seseorang memanggilku.
Sekuat tenaga aku berusaha mengembalikan kesadaran ku. Dan mencari sumber suara.
"Kamu...."😢😢😢😢 Aku melihat Tyas tergeletak dibawah diantara ban belakang bis Toyo dan ban depan minibus.
Aku hendak menghampiri si ceroboh. Tapi badanku ditarik oleh seorang polisi yang entah datang darimana.
Masih kutatap wajah sendu Tyas dengan senyuman sendu yang dipaksa, dan sebuah jempol diacungkan ke arahku. Entah apa maksudnya. Air mata tak sadar menetes menghancurkan pesonaku.
Polisi yang menyeret tubuhku itu menyodorkan air minum ke arahku. aku menenggaknya setelah kubersihkan wajahku. Sisa air yang kutenggak, kusiramkan kewajahku agar kesadaranku bisa pulih.
Polisi itu menepuk pundakku beberapa kali.
"Kamu tenang saja disini ya,biarkan yang berwajib menanganinya. Korbannya tadi itu temanmu? Bantu kami mengabari keluarganya." Kata pak polisi itu.
"Aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya tahu namanya Tyas. Kami baru saja berkenalan." Kataku jujur sambil menguasai diri.
"Oh, begitu. Kamu baik-baik saja? Perlu bapak antar pulang?" Kata si Polisi masih dengan nada ramah.
"Ya. Aku mau disini saja dulu. Aku mau tahu apa yang terjadi. Aku akan memanggil teman-temanku." Kataku masih dengan nafas sedikit terengah.
Polisi baik itu, meninggalkanku menuju lokasi yang masih bisa kulihat jelas dengan kedua mataku. Kulihat disana Tini berteriak histeris melihat teman baiknya lemas bersimbah darah penuh luka disekujur tubuhnya. Diangkat petugas medis dan dibawa ambulance. Tini menyertainya.
......
Esok harinya,aku mengajak teman-temanku menuju ke SMA1. Aku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi dengan Tyas,si ceroboh. Hari itu untuk pertama kalinya aku bolos sekolah ditemani 5 orang kawanku.
"Ui!!!!!" Aku memanggil seorang siswa yang pagi itu keluar dari gerbang SMA 1.
Aku berjalan mendekatinya.
"Kamu kenal Tyas,anak kelas X? Yang kemarin kecelakaan?" Tanyaku dipenuhi rasa penasaran.
"Kamu siapanya? Kamu belum tahu? Dia meninggal kemarin dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kabarnya begitu. Hari ini baru kami semua mau melayat kesana." Jawab murid itu.
"Meninggal?" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar.
Aku memutuskan untuk ikut melayat mengikuti dibelakang rombongan SMA1.
Bersama kelima kawanku, aku melayat.
Aku masih tak percaya dengan perkenalan singkat itu. Meski hanya sederhana, dan percakapan beberapa menit, namun kusadari aku terpikat dengan gadis yang bernama Tyas itu.
..............
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Terima kasih. Sekian kisah tragis cinta pertama seorang Tama.
Saya author Yoshua Satrio.
Author kejam yang memang kejam.
Memiliki hobi yang sangat positif,olahraga,jogging,cari duit.😁😁
Terima kasih untuk yang mau membaca.
Ini cerpen tantangan dari author kondang @HK. Dengan challenge MENULIS CERPEN BEBAS RUANG AUTHOR.
Sekian imajinasi tragis dari Yosh.
SEMOGA SEMUA BERBAHAGIA.😁✌️✌️