Rara terjaga dari tidurnya, seketika--dengan posisi tubuh yang masih menggeletak akan tetapi sepasang bola matanya terbuka lebar seperti hendak melompat keluar, pun sealiran peluh dari pori-pori tubuh disekitar kening turun cepat ke pipinya, aliran keringat yang terasa dingin, bukan cuma membasahi wajah, rupa-rupanya pori-pori disekujur tubuh yang lain serta-merta pun turut membuka, tak pelak sekujur tubuhnya menjadi lembab, pun bulu kuduknya berdiri meremang, itu ia sadari ketika tangannya ia sentuhkan ke belakang leher-- Rara melirikkan pandangan matanya ke satu arah, ke arah kiri.
Sepasang bola mata coklat muda itu langsung tertuju ke satu benda yang tergeletak di satu meja kecil, yang posisi mejanya berada persis disebelah ranjang tidurnya. Ranjang tidur yang terbuat dari anyaman bambu, yang panjang kali lebarnya ternyata pas untuk menampung tubuhnya, awalnya ia meragukan. Rara meraih benda tersebut, dengan gerak cepat. Benda tersebut tak ada lain adalah sebuah ponsel pintar. Ponsel pintar dari sebuah brand ternama, apel yang kena gigit, yang harganya sebelas dua belas dengan motor baru keluaran Jepang. Ponsel tersebut baru semenit yang lalu mengeluarkan suara bisingnya.
Rara menyentuhkan jemari tangannya ke satu tombol kecil, seketika saja layar ponsel tersebut menyala, ada wajahnya yang tergambar jelas di layar ponsel, tapi ia tidak sendiri-- Rara sekonyong-sekonyong melemparkan benda tersebut, dengan geram yang teramat sangat.
Rara setengah bangkit dari tidurnya, beringsut dengan menempelkan tubuhnya ke dinding ruang. Kemudian ia pun bergerak mengangkat sebelah tangannya ke arah depan, mendaratkan tangan tersebut ke arah bibir. Perlahan bibir tipis merah nan mungil itu membuka kecil, disitu ia menempelkan salahsatu jemarinya, jemari jempol, sementara keempat jemari yang lainnya terkepal, kuku jemari jempol itu setelahnya ia gigiti.
***
Terdengar suara pintu kamar yang diketuk, ini entah sudah kali yang keberapa, tampaknya si pengetuk pintu tersebut yakin kalau seseorang masih berada di dalam kamar tersebut, sambil ia memanggil sebuah nama, jelas kalau nama itu adalah nama dari orang yang ia yakini masih berada di dalam kamar tersebut.
Ternyata si pengetuk pintu itu bukan cuma memanggil tapi disitu ia juga menyeru, menyerukan sebuah permohonan maaf lebih tepatnya, sebuah permohonan maaf yang berkali ia ulang-ulang.
Pintu kamar terbuka--sebelumnya terdengar suara tubuh yang beranjak dari ranjang tidur, diikuti dua tiga langkah kaki, kemudian suara kunci yang diputar dua kali dari kiri ke kanan. Dua sosok tubuh saling berhadap-hadapan. Sekian menit hening menyelimuti--samping sebuah bibir berinisiatif untuk menempel ke sebuah bibir yang lain, yang ia tempelkan dengan penuh kesan romantis. Kemudian sepasang tubuh itu pun bergerak masuk dengan tubuh yang saling menempel rapat, yang kesemua itu sudah tidak ada beda seperti perangko dan amplop suratnya, pintu ditutup dengan satu tendangan kaki-- sebentar saja sepasang tubuh itu terlempar ke ranjang tidur-- ada sepasang mata yang memperhatikan setiap jengkal kejadian tersebut, yang menatap dengan perasaan kecewa dan marah.
***
Pukul setengah delapan pagi, seseorang yang datang dari arah depan seketika saja berteriak kencang-- ia mendapati sesosok tubuh, berjenis kelamin perempuan, jatuh terkulai di lantai ruang depan, bermandikan darah, di dada kirinya sebilah pisau menghujam tepat. Orang-orang berdatangan--yang berteriak kencang telah pula jatuh tak sadarkan diri.
Ternyata bukan cuma sesosok tubuh yang orang-orang itu dapati--di kamar depan juga ada sesosok tubuh yang lain, berjenis kelamin laki-laki, pun sekujur tubuhnya telah pula bermandikan darah, ada luka tusukan di lambungnya, tiga tusukan.
***
Sudah seminggu berselang, Rara tak kunjung pulang, orang-orang bertanya, si anak dara kemana gerangan, ibunya telah pula dikebumikan. Di rumah Rara, seminggu yang lalu terjadi peristiwa pembunuhan. Oleh pembantu yang setiap pagi datang untuk bebersih rumah, mendapati ibunda Rara jatuh terkulai di lantai dengan pisau belati yang terhujam di dada kiri; Bersama seorang yang lain, di kamar depan, yang nasibnya sebelas dua belas dengan sang ibu--seorang yang lain itu tak lain dan tak bukan adalah tunangan Rara, Dimas, namanya.