"Nathan itu suka sama lo! Masa lo nggak peka peka sih, Vel?!" Seperti biasa Michelle berbicara dengan kencang tepat di telinga Velika. "Stop, Chel. Telinga gue rusak lama-lama..."
"Lagian lo tuh-" Karena tidak tahan mendengar celotehan sahabatnya itu, Velika langsung menutup mulutnya itu. "Nathan mana yang lo maksud?"
"Nathanael Bryan lah. Siapa lagi?" Velika hanya menghela nafas mendengar itu. "Lo tau gue nggak suka dia." Ujar Velika sambil membetulkan posisi topi nya.
"Iya tau. Tapi cuma gara-gara kejadian itu lo langsung nggak suka??" Michelle menepuk pundak Velika. "Lagian bisa-bisanya dia jatuh gara-gara kulit pisang terus minumannya jatuh ke seragam gue. Lo tau gue sampe diketawain satu kantin, kan?"
"Tapi habis itu dia juga pinjemin seragamnya, kan? Gila, gue jadi lo udah salting parah!" Michelle lompat kegirangan sambil memukul-mukul pundak Velika itu sudah menjadi kebiasaan dari nya juga. "Lebay lo- Eh, topi gue!" Topi Velika tertiup angin yang lumayan kencang saat itu ke arah tepi lapangan.
Saat Velika hendak menundukkan badannya untuk mengambil topi nya, kepalanya seperti dipukul dengan keras. Yang ternyata sebuah bola basket menabrak tepat di atas kepalanya. "AW! Aduh kepala gue..." Velika meringis kesakitan sambil mengelus-elus bagian kepalanya yang sakit.
"Velika, kamu nggak apa-apa??" Seseorang seperti sedang berlari ke arahnya tetapi Velika tidak bisa melihat dengan jelas karena pandangannya tiba-tiba menjadi buram sesaat. "Vel!" Akhirnya, Velika bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di depannya ini.
"Vel, ayo aku angkut ke UKS!" Nathan hendak menggendong Velika yang masih terduduk di tepi lapangan tetapi dicegah oleh Velika. "Tch, nggak usah." Velika berusaha berdiri tetapi dirinya kehilangan keseimbangan.
"Pelan-pelan, Vel..." Dengan cepat, Nathan menahan Velika dan reflek menariknya ke dalam pelukan. "Lepasin gue." Sementara itu, tim basket dari Nathan sudah meneriaki mereka berdua. "Pacaran jangan di sekolah woi! Haha, tau nih!"
Tak lupa dengan Michelle yang berlari secepat kilat menghampiri mereka. "Velika! Lo tadi jatuh??" Velika yang mendengar itu langsung mendorong Nathan sekuat tenaga yang membuat Nathan hampir jatuh tapi untungnya dia berpegangan pada pagar di belakangnya.
Tanpa basa-basi, Velika langsung berlari ke luar lapangan meninggalkan Michelle dan Nathan. "Nat, sorry ya. Oh, tangan lo nggak apa-apa, kan? Michelle bertanya demikian lantaran melihat tangan Nathan yang memerah akibat memegang pagar yang lumayan tajam dengan erat.
"Nggak apa-apa, kok. Oh, ya, tolong bilang gue minta maaf ke Velika, ya."
"Yaudah, gue pergi dulu, ya." Michelle pun ikut berlari ke luar lapangan menuju kelasnya.
------------
"Vel, lo bener bener ya..." Michelle menggebrak meja Velika dan langsung duduk di sampingnya. "Apa lagi..."
"Cie, yang tadi pelukan~" Michelle kembali menggoda sahabatnya itu tiada henti. "Chel, stop. Gue udah serius nggak suka dia mulai sekarang." Velika kembali mengingat-ingat kejadian tadi di lapangan. "Kepala gue masih sakit gara-gara dia..."
"Tapi, lo nggak harus dorong dia juga, kan? Kasian anak orang, woi."
"Yaudah, sih. Dia nggak luka gini, kan?" Velika melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus kesal. "Kurang tau, sih. Tapi, tadi gue lihat tangannya merah banget gara-gara pagar lapangan."
Velika terdiam sejenak lantaran dia tahu bahwa pagar lapangan itu sudah lumayan karatan dan lagipula ada beberapa paku kecil yang mengarah ke atas. "Lo nggak bohong biar gue kasian sama dia, kan?" Tanya Velika dengan curiga.
"Mana ada. Lihat aja sendiri kalo nggak percaya, cih..." Akhirnya, bel tanda istirahat kedua sudah selesai berbunyi.
------------
Sepulang sekolah di parkiran sekolah. "Lo jadi nginep di rumah gue? Kalo iya, bareng mobil gue aja." Michelle melempar tas nya ke dalam mobil dan masuk ke dalam. "Gue nyusul aja. Mami telpon minta ketemuan."
"Oke, jangan lupa beli snack yang banyak!" Mobil Michelle pun pergi ke luar sekolah meninggalkan Velika sendiri di parkiran. Sampai saat dirinya hendak berbalik badan...
"Aduh! Siapa yang-"
"Sorry, Vel." Nathan lagi. Velika sudah siap berjalan menjauh tetapi tangannya ditahan dari belakang. "Kepala kamu gimana? Udah membaik?" Nathan menarik Velika mendekat dan mengelus kepalanya perlahan.
"Jangan sentuh..." Velika tidak sengaja melihat telapak tangan Nathan yang tergores lumayan panjang. Tanpa sadar, Velika menarik tangan kanan Nathan dan melihat dengan dekat. "Tangan lo..."
Velika mendongak ke atas untuk melihat Nathan tetapi ternyata wajahnya sudah memerah bukan main. "Muka lo merah banget. Sakit??" Kali ini tangan Velika menyentuh dahi Nathan yang membuat wajahnya semakin memerah bagaikan tomat.
"Malu..." Nathan tak berani menatap mata Velika alhasil kepalanya tertunduk. Velika yang tersadar hendak menarik tangannya dari dahi Nathan. Namun, tangannya ditahan dan ditempelkan ke pipi Nathan.
Velika merasakan bahwa wajah Nathan panas tapi dirinya tahu itu bukan karena sakit atau semacamnya. Velika langsung menarik tangannya kembali dan mundur beberapa langkah.
"Maaf, aku bikin kamu nggak nyaman..." Nathan yang kecewa berjalan menjauh ke arah motornya. Namun, Velika menahannya.
"Ini." Velika menyodorkan sebuah plester dan permen?
"Vel..." Kedua mata Nathan langsung berbinar-binar saat menerima kedua barang itu. "Jangan salah paham. Itu cuma permintaan maaf."
"Thank you, Vel. Aku bakal simpen ini!" Senyum Nathan langsung melebar saat itu juga sampai dia hanpir memeluk Velika. "Di pake bukan di simpen."