Bila malam tiba, istriku selalu terlihat lebih cantik dan menawan. Aku menyesal menikahinya. Wajahnya akan lebih merona alami, kulit putih bersinar, rambut cokelat menyala, bibir penuh menggoda serta lekuk tubuh yang sempurna. Aku sedikit kecewa karena cita-citaku adalah menikahi wanita yang biasa saja. Hal itu hanya terjadi jika matahari telah tenggelam di ufuk barat.
Aku mengenal istriku ketika pulang kampung dan menjenguk makam orang tua di kampung. Saat itu ia terlihat sangat sederhana dengan gaun putih polos dan rambut panjang terurai. Wajahnya agak pucat dengan mata sembap dan serangkaian bunga di tangan. Aku jatuh cinta pada penampilannya yang sederhana dan apa adanya.
Kuberanikan diri untuk menyapa dan mengobrol dengannya. Kami pun bertukar nomor dan terus berkomunikasi hingga ketika kakek dan nenek memaksaku menikah, aku melamarnya.
Ia adalah seorang yatim piatu dan sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ketika kami menikah, istriku terlihat sangat bahagia. Ia bahkan menangis haru dan berjanji akan selalu setia padaku.
Ketika malam pertama itulah aku menyadari hal itu. Di kamar pengantin yang berhiaskan bunga mawar serta beberapa hiasan berbentuk hati, kulihat perubahan itu. Istriku terlihat sangat cantik. Terlalu cantik dan seksi sehingga aku tidak tahan untuk tidak segera memeluk dan menciumnya. Mulai hari itu, setiap malam tidak pernah terlewatkan untuk tidur berdua dengannya.
Istriku memang cantik. Setelah setahun kami menikah, ia melahirkan dengan masa kehamilan sebelas bulan. Aku sangat khawatir menantikan kelahiran anak pertama kami. Anak pertama kami kembar tiga, semuanya perempuan yang jika malam tiba, mereka berubah menjadi ular.
Istriku sangat cantik jika malam hari, jadi kuterima saja keadaan anak-anak itu. Aku sangat mencintai kesederhanaannya saat siang hari dan memuja kecantikannya malam hari. Tahun kedua kami menikah, lahir lima orang putra yang jika malam hari akan berubah menjadi kalajengking. Ia merawat anak-anak itu dengan kasih sayang.
Setelah empat tahun menikah, ia juga melahirkan seorang putri dan enam orang putra yang masing-masing akan berubah menjadi buaya dan katak jika malam hari.
Tahun kelima aku harus pergi merantau untuk menafkahi istri dan anak-anakku. Meski mereka berubah malam hari, ketika matahari terbit anak-anakku akan berubah menjadi manusia normal kembali. Mereka butuh susu, popok dan perlengkapan lain selayaknya anak normal.
Kami memang terpisah jarak ratusan kilometer, tetapi jika malam tiba istriku akan ada di kamar. Ia selalu menantiku dengan wajah cantik dan tubuhnya yang tidak berubah meski telah melahirkan banyak anak.
Istriku cantik dan sempurna pada malam-malamku. Karenanya, aku tidak mempersoalkan tentang paku yang ada di kepalanya. Aku mencintainya siang hari dan memujanya jika malam tiba.