Rasanya sangat menyedihkan ketika satu-satunya orang yang kita percayai, orang yang kita jadikan sandaran, orang yang kita anggap segalanya untuk kita, orang yang kita anggap sumber kebahagiaan kita menjadi satu-satunya alasan mengapa kita merasa terpuruk dan sendirian, mematahkan segala harapan yang kita rangkai dengan susah payah, merobek kembali secara perlahan luka yang masih menganga, juga membuat kita merasa sangat tidak berguna.
Sejak diagnosa sementara satu bulan lalu di tetapkan, perasaan ku semakin tidak karuan, ada kalanya terluka tanpa sebab, ada kalanya merasa sangat bahagia, ada kalanya gelisah dan kebingungan, ada kalanya jenuh dan merasa sendirian, dan masih banyak hal lain yang sulit sekali ku deskripsikan.
Ada rasa sesal mengapa aku mencari tau kenapa, bagaimana dan apa yang sedang terjadi dalam diriku? Ada pula rasa kesal mengapa pada akhirnya rasa ingin tauku membawaku pada titik ini. Lelah sekali, rasanya seperti kehilangan harapan, kehilangan semangat untuk menjalani hari yang sangat membosankan, juga harus menghadapi diriku sendiri yang jelas ini bukan aku.
Pagi itu aku melihat seorang konten creator di media social Facebook milikku, ia membuat konten yang memang isinya cukup sensitif bagi sebagian orang tapi bagiku itu hal yang biasa. Melihat begitu banyak share, like dan komentar pada salah satu video yang ku tonton aku berfikir bahwa tidak ada salahnya jika aku membuat konten yang sama dengannya, mungkin saja followers ku akan bertambah dan menjadi sumber penghasilan.
Namun, setelah berhasil membuat video yang sama kemudian aku share di media social pribadi milikku, seseorang menonton video tersebut kemudian mengomentari, ia orang pertama yang melihat sekaligus mengomentari video yang baru saja ku share.
Ia adalah adik iparku, adik iparku laki-laki,namun entah kenapa ia begitu antusias untuk mengomentari dan merasa tersinggung dengan video yang ku buat. Padahal jika berfikir dengan logika, ini adalah pernikahan keduaku. Mungkin saja konten yang aku buat jika saja memang di tujukan untuk orang lain, bisa saja kan untuk mantan mertua ku, tapi memang tidak ada tujuannya, itulah kenapa pada akhirnya aku mengelak dan balik memarahi nya, ku pikir dia sangat kurang ajar dan menyebalkan, anak kecil bau kencur yang merasa dirinya hebat dan menjadi pembela untuk orang tuanya yang padahal ia tidak tau apapun mengenai semua yang terjadi dalam hidupku.
Kami bertengkar cukup hebat hingga membuatku muak, dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya? Orang yang ku sebut suami yang secara biologis adalah kakak kandung si adik ipar, ia marah dan membela adiknya. Ia merasa aku kurang ajar karena sudah membuat konten yang di tujukan pada orang tuanya padahal demi Allah aku yang lebih tau dengan alasan apa video itu aku buat bahkan ia mengusir ku menyuruh untuk pulang yang mana menurut ku ia telah menjatuhkan talaqnya yang pertama dengan percaya diri, dengan persepsi mereka yang kokoh tanpa memperdulikan apapun yang sudah ku jelaskan.
Sejak saat itu aku mendiamkan suamiku, adik iparku mulai ku jauhi bahkan kontaknya aku hapus agar tidak terjadi salah faham lagi jika saja aku kembali membuat video atau konten yang serupa. Aku kehilangan nafsu makan karena kejadian itu, aku juga kehilangan semangat untuk menjalani hari-hari di tempat ku bekerja. Hingga puncaknya aku membiarkan tubuhku lusuh dan kelaparan. Selama 2 hari 2 malam aku menyiksa diriku sendiri, berharap aku akan mati kelaparan, tapi memang Tuhan maha baik membiarkan tubuhku tetap sehat meski hanya lemas dan dehidrasi.
Sore itu setelah sepulang bekerja aku memutuskan untuk berjalan-jalan sore sendirian, ku matikan ponsel milikku, ku nikmati angin sore yang sejuk namun tidak dapat di terima oleh tubuhku, berjalan menyusuri kota dengan hati yang tidak karuan, bermain di time zone hingga berakhir karaoke seorang diri, aku berteriak dan menangis mengingat betapa mudahnya ia menjatuhkan talaq padaku tanpa berfikir dua kali.
Hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku bergegas untuk pulang, ia marah dan tidak terima, menuduh ku berselingkuh dan berniat membereskan seluruh bajuku. Amarahku tak dapat ku bendung lagi, aku melempar semua yang ada di hadapanku, aku mencaci maki hingga mengeluarkan kata-kata kasar di hadapan wajahnya, aku berteriak dan merasa bukan aku.
Ia terus mengeluarkan kata-kata yang membuatku semakin marah, hingga aku merasa tidak sanggup lagi dan berfikir untuk mati di hadapannya. Aku mulai mencekik leherku dengan kuat, sesekali ku pentalkan kepalaku pada tembok berharap pecah seketika, suamiku segera mengambil kedua tanganku, ia menahan nya dengan kuat tapi nafasku sesak, suaraku habis, jantungku seperti berhenti berdegup , penglihatan ku mulai kabur, dan mungkin aku..... Akan mati sekarang....
Aku tidak mengingat apapun lagi semua terlihat gelap dan sunyi, lalu aku... Sendiri... Aku takut, sedih dan ingin pulang...
"Maa..."
"Bawa aku pulang maa, aku lelaaah.."
Ingatanku tertuju pada masa silam dimana aku mengenakan dres putih polkadot merah dengan flatshoes merah, rambut pirang keriting dengan kuncir dua di lengkapi dengan jepit kupu-kupu yang seakan terbang karena tertiup angin, dengan wajah mama yang tersenyum. Di tanganku ku lihat ada uang satu lembar senilai Rp 500, 00 dengan gambar monyet di depannya.
Aku terbangun, ku lihat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, ku tatap langit kamar, ku lihat sekeliling, di samping ku tidur dengan lelap suamiku.
"Ah aku masih hidup ya?" Tanyaku dalam hati, sedikit kecewa namun juga lega, setidaknya aku tidak melakukan hal bodoh dengan membunuh diriku yang malang.
Sejenak aku merenung dan berfikir "Ya Tuhan, apa aku baik-baik saja? Seperti nya aku harus tidak dalam keadaan yang baik.."
Aku segera mengambil ponsel, ku buka Google dan mulai browsing untuk mencari tau apa yang sedang terjadi pada diriku.
Beberapa detik telah berlalu google mengarahkan ku pada satu link yang mana isinya ada bermacam jenis penyakit mental.
Ada satu yang pasti dan cocok sekali dengan apa yang semalam terjadi padaku yakni Self Harm. Adalah sebuah penyakit mental yang terjadi karena inerchild di masa lalu dan trauma berkepanjangan akibat di bully oleh orang terdekat hingga melukai diri sendiri.
Aku kebingungan tapi tetap berfikir positif bahwa itu hanya pradugaku saja yang sedang tidak baik-baik saja. Lagipula bukankah aneh mendiagnosa diri sendiri lewat google bukan dokter ahli?
***
Pagi telah datang, aku beraktivitas seperti biasanya. Mandi, memasak, dan pergi bekerja. Setibanya di kantor aku masih memikirkan hal yang terjadi semalam, sedikit janggal dan berlebihan.
Tiba-tiba teringat sepupuku yang tinggal di Jakarta, ia memiliki istri yang seorang perawat, mungkin saja ia dekat atau sering berinteraksi dengan dokter-dokter di tempatnya bekerja, dan mungkin saja salah satunya dokter jiwa.
Benar, aku menghubunginya dan menceritakan keadaan ku tadi malam. Ia merespon dengan cepat dan sedikit syok, usut punya usut dia menangani pasien jiwa juga dan ia tau pasti aku mengidap bipolar. Ia meminta ku untuk segera konsultasi psikolog agar segera mendapat penanganan medis yang sesuai dengan kebutuhanku.
Aku sedih dan syok, aku berfikir bahwa aku sudah cacat secara mental, aku tidak baik-baik saja, dan sekarang aku harus berjuang untuk sembuh seorang diri.
Tidak ada hal lain yang ku pikirkan hanya sosok Mama, Mama yang aku butuhkan, Mama yang aku mau, dan Mama yang ku harapkan menjadi support system ku saat ini. Lalu anakku, terbesit wajah anakku kasian sekali dia punya ibu yang mentalnya sakit , tentu ia tidak akan bangga memiliki ibu seperti ku. Aku merasa sangat kacau.