Sore itu, di bulan Januari. Ketika pulang sekolah tiba, rintik-rintik hujan mulai turun menembus tanah gersang yang kupijak. Aku berlari menuju pohon yang kuharap bisa menutupi rintik-rintikan hujan yang bisa menembus seragamku hari ini, yang bisa pula mengguyur tubuhku hingga basah kuyup.
Tapi seberusaha yang ku bisa untuk berteduh di pohon itu, rintikannya masih membasahi sebagian dari bajuku.
Ahg! Astaga! Bajuku basah, dengusku kesal namun tetap pasrah.
Brukkk....
Aku hendak menaiki angkot hijau-biru jurusan menuju rumahku. Namun sial, ku malah terjatuh, tubuhku langsung basah diguyur hujan. Semua orang yang hadir di sana langsung tertuju padaku. Aku menunduk, menahan rasa malu. Rasa sakitnya memang tak seberapa, namun malunya luar biasa.
Aku menengadahkan kepalaku, mataku terbelalak. Orang yang dulu aku kagumi sedang mengulurkan tangannya padaku. Oh astaga, semoga dia tak mendengar detak jantungku.
"Sini ku bantu, ayo," ucapnya. Kalimat singkat itu mampu meluluhkan hati kecilku. Lelaki itu turun dari angkot dan membantuku.
"Iya. Terimakasih, " ucapku singkat. Aku bangkit, dengan tangan kami yang menggenggam erat.
Ia mengangguk, tidak lupa senyuman manisnya yang selalu menyertainya. Hal yang tak terduga, sosok cowok itu melepaskan jaket abunya dan memakaikannya pada pundak ku. Apakah ia tak berpikir dulu sebelum bertindak? Bukankah kelak ia akan ba'sah kuyup juga? Tapi kejadian seperti ini tak pernah ku alami sepanjang hidupku, aku tersentuh dengan perilaku kecil darinya. Aku harap aku bisa menjadi orang baik sepertinya.
Aku naik angkot disusul dengannya. Ternyata di dalam angkot itu terdapat teman terdekatku, aku melambai dan tersenyum pada mereka. Jantungku masih berdetak dengan kencang, ku harap tidak ada yang mendengarnya.
"Namamu?" ucapnya di keheningan setelah angkot melaju ditengah tangisan langit.
"Rembulan," jawabku sambil tersenyum.
"Cantik.. Aku Akasa," ucapnya singkat lalu ia memberhentikan angkot. Ternyata angkot sudah sampai di persimpangan rumahnya.
"Terimakasih Tuhan telah menghadirkan sosoknya dalam hidupku."
Ah tidak! Aku tak sanggup lagi, aku tak ingin momen ini berakhir. Entah seberapa memerahnya wajahku tadi. Sore itu aku pulang dengan dua kabar. Kabar baiknya aku bisa pulang bersama dengan orang yang ku kagumi plus kami berkenalan walau hanya nama. Kabar buruknya rok biruku kotor, beruntung bukan rok putih. Ku harap Mama tak memarahiku.
Sejak saat itu, ketika aku pulang sekolah. Aku mencari angkot yang dinaiki olehnya, berharap bisa mengobrol lebih lama dan sedikit dekat dengannya. Harapanku terkabul, doa anak sholehah. Sekarang setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama fdengannya, mengobrol hal-hal kecil yang terkadang membuatnya menampilkan gingsulnya yang manisnya, kini dia menyebutku dengan panggilan "bocil". Aku suka panggilan itu.
"Cil, ulang tahun kamu kapan?" tanyanya padaku tiba-tiba, saat hanya kita berdua yang ada dalam angkot itu.
"Aku Sagitarius, coba tebak!" jawabku.
"Hmm.. 19?" Ia mengernyit.
"Not! Not!" Aku menggeleng.
"Aa.. Clue-nya dong!"
"Clue-nya bulan Desember."
"Ini pasti bener, 9 Desember ya? Hm.. Ayo ngaku!"
"Not! Not! Salah! Kesempatan terakhir yaa.. Coba tebak dari tanggal 1-8 deh.."
"4 Desember?" tanyanya lagi. Sungguh imut sekali.
"Yaa!! Itu adalah ulang tahunku," ucapku riang.
"Ayo, ayo, giliran kak Akasa! Berapa tanggal ulang tahun kakak, ayo beri aku clue-nya."
"Cil, kita lahir ditanggal, bulan yang sama. Apa yang ingin kau cari lagi?" Ia menatapku untuk beberapa saat.
"Hah? Berarti.. Nanti kita rayain ulang tahun bersama yaa.. Aku akan buatkan makanan untuk kakak! Datanglah ke rumah Rembulan, mamah pasti senang, akhirnya bisa ketemu kakak." Aku sangat antusias.
Ia tersenyum manis, menampakkan gigi gingsul-nya sebelum ia berkata, "iyaa, nanti kita rayakan ulang tahun kita bersama yaa.."
"Janji?" Ku keluarkan jari kelingkingku. Kemudian, diikuti oleh Akasa, "janji."
"Kak Akasa sudah berjanji, tolong jangan diingkari!"
Bulan terus berganti, tak terasa akhir November telah tiba. Aku merasa dejavu dengan kejadian yang kini berlangsung. Akasa hadir di dalam angkot, seperti layaknya pertemuan pertama kami. Namun yang membuatku terkejut kali ini, tepat dihadapannya ada seorang gadis memakai gelang yang mirip dengan gelang yang Akasa pakai. Sebisa mungkin ku abaikan, duduk dengan tenang, dan angkot pun melaju. Jika diperhatikan, gelang milik Akasa dan yang gadis di sampingku pakai, itu adalah sepasang gelang couple. Ya Tuhan, pikiran negatif ku selama ini menjadi kenyataan. Hatiku semakin terpotek saat Akasa turun dari angkot dan tersenyum dengan hangat pada gadis di sampingku, senyuman yang berbeda saat ia tersenyum padaku. Sepertinya malam ini aku akan menyimpan sebuah lagu, untuk kesekian kalinya.
Hari selanjutnya, ketika jam pulang, aku tak melihat Akasa sama sekali. Aku sudah menunggunya lebih lama dari biasanya. Mungkin dia sudah pulang duluan, pikirku. Namun tak seperti biasanya ia pulang cepat, gumam ku yang perlahan bercampur aduk dengan kejadian kemarin saat aku, kamu, dan dirinya di angkot.
Tak usah dipikirkan, pada dasarnya aku adalah seseorang yang menyukainya secara diam-diam. Lagipula, mana ada cowok setampan dirinya menyukaiku, aku cantik aja nggak? Jadi seharusnya aku nggak usah ngarep, desis ku.
Sebuah angkot hijau-biru mengalihkan pandangan kosong ku. Didalam angkot tersebut, terdapat teman terdekatku, Akasa dan "surprise" ada perempuan yang kemarin aku curigai. Aku tersenyum, melambai pada teman terdekatku, lalu merekapun membalas sapaan ku.
Oh tuhan, dia begitu tampan, aku merindukannya. Andai saja, kami bisa pulang bareng lagi. Akh, kenapa aku nggak naik aja tadi? Huh, dasar lemot. Namun Tuhan aku kini sadar, aku nggak punya hak melarangnya untuk dekat dengan siapapun itu. Aku sadar, diriku ini hanyalah sebatas seorang teman, dia juga hanya sebatas ramah pada semua orang. Aku juga orang, makanya dia ramah juga ke aku, desis ku tanpa sadar.
1 bulan berlalu, terkadang aku dengan Akasa naik angkot bersama, akan tetapi tidak sesering awal kami bertemu. Hari yang mendung ini, aku naik angkot dengan lesu. Menatap kaca angkot yang terbuka dengan kosong, bersama perasaan yang berbeda menyelimuti ku. Aku tak baik-baik saja hari ini. Aku cemburu berat dengan gadis yang selalu disisi Akasa akhir-akhir ini. Padahal, niat malam tadi aku ingin mengembalikan jaket abu Akasa dan ingin mengajaknya kerumahku untuk merayakan ulang tahun kami. Sayangnya, itu mustahil. Mungkin jaket abu yang kupeluk ini akan ku simpan saja di kamarku. Begitupun dengan kuenya, aku akan buatkan kue terenak untuk kak Akasa walaupun ia takkan datang dan melupakan ulang tahunnya.
"Akhirnya selesai juga," ucapku lega. Setelah selesai menghias kue bolu buatan ku. Setelahnya, ku cari handphoneku untuk menghubungi kak Akasa agar ia bisa hadir besok. Ku tekan tombol telepon nomor Kak Akasa, status langsung berubah dari menghubungkan ke bersambung. Namun, teleponku tak kunjung diangkat, dan malah direject beberapa kali. Kak Akasa mungkin sedang mengemudi, pikirku. Perlahan ku pejamkan mata hingga aku terlelap.
Dringg.. Dringg..
Ponselku terus berbunyi, ada lebih dari 3 panggilan tak terjawab menuju nomor handphoneku.
"Hm.. Kak Akasa?" Aku tersadar, langsung bergegas mengambil handphoneku.
"Halo, Kak Akasa.." Aku sangat bersemangat, tanpa memperdulikan siapa nomor yang menghubungiku.
"Halo, cil," ucap seseorang dari seberang sana yang tak lain adalah Kak Akasa sendiri. Aku lega, akhirnya Kak Akasa menghubungiku.
"Kakak, jadi ke rumah Rembulan kan?" kataku antusias.
"Iya cil, lagi otw."
Aku menyeringai, jingkrak-jingkrak baper setengah mampus. "Oke, kak, aku akan selalu nunggu kakak disini."
Brukkk..
Terdengar benturan keras dari seberang sana. Sontak aku terkejut bukan main. "Kak Akasa? Kak? Kakak baik-baik saja? Kak jawab aku kak."
"Nak, kamu masih sadar?.. Innalillahi wainnailaihi roji'un, korban telah meninggal dunia." kebisingan diseberang sana makin membuatku tak tenang. Aku lemas.
"Kak?"
"Halo, maaf, aku lancang." Akhirnya ada yang menjawab.
"Saya ingin mengabari bahwa, lelaki yang punya hp ini mengalami kecelakaan parah, korban telah meninggal dunia, tewas ditempat. Sekarang sedang menunggu ambulans datang."
"Alamatnya? Jalan apa? Aku akan segera ke sana."
Keesokan harinya..
Ninu.. Ninu.. Ninu..
Suara nyaring ambulans menggema disepanjang jalan. Hari ini adalah pemakaman Akasa. Banyak orang yang hadir menghantarkan kepergiannya. Termasuk aku, dengan mata bengkak ku. Kepergian Kak Akasa tepat di hari ulang tahunnya yakni hari ini, 04 Desember 2023. Tenang di sana ya, Kak Akasa. Maaf, karena aku, kamu pergi secepat ini. Andai saja kau tak menghiraukan ku dan lanjut party bareng sohib-sohibmu itu, peristiwa ini pasti takkan terjadi. Happy birthday, kak Akasa. Doaku disini kan menyertaimu selalu, tokoh favoritku.