Memang sepengecut itu aku, mencintai tidak berani mengungkapkan, terlebih aku laki-laki, hilang sudah harga diri ku, yaahh tidak juga sih, menurutku perasaan cukup masing-masing orang itu sendiri yang tau, dan aku ingin menyimpannya dulu, pengecut itu bagi dia yang tidak berani, yaa, aku pengecut juga, aku tak berani mengatakan yang sebenarnya,
Tapi tidak mungkin juga kan aku merebut kekasih sahabatku sendiri?!!?
Aku tidak kekanakan, yang bisanya merebut, aku bukan lagi Jen Lee yang kadang suka merebut mainan Nana saat kami kecil dulu.
Aku memang sahabat nya, dan sahabat haruslah mendukung, bukan menjatuhkan.
Sakit memang, tak berdarah, melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain, tak bisa membalas perasaanmu, dan itu ulahmu sendiri juga tak berani mengungkapkan.
Bolehkan dirinya menyombongkan diri?
Bahkan cintaku lebih besar dari cinta Nana Seulbiii!
Tapi tidak, untuk apa juga, melihat sahabat dan orang yang kau cintai bahagia sudah cukup, yaahh cukup.
Jen Lee menghela nafas mencoba menabahkan dirinya agar terus kuat melihat pemandangan ini
Pemandangan Nana yang mendekap Seulbi erat karena Nana akan pergi untuk waktu yang lama, terpaksa mereka harus menjalani LDR. Kasihan sekali.
Nana menghampiri Jen Lee setelah memeluk Seulbi, ia menepuk pundak Jen Lee.
"Aku titip Seulbi," ucap Nana yang dibalas putaran bola mata malas.
"Ayolah, kau tidak sedang menitipkan momongan kan? Aku dan Seulbi beda kota Naaaa, dan kami punya kesibukan masing-masing!"
"Hanya titip memastikan bahwa setidaknya ada kamu orang yang dikenalnya yang bisa dimintai bantuan jika ada apa-apa, bukan menitip yang seperti anak kecil, gila apa?!" Kekehnya dan aku mendengus jengah.
"Yayayaya, selesaikan tugasmu dan cepatlah pulang! Kerja saja harus ke luar negeri!"
"Haha!!! Semoga kamu bisa keluar negeri juga Jen!"
"Cih!"
Dan Nana pun pergi, astaga! Lagi-lagi kuharus melihat pemandangan yang perih dimata dan juga hati.
"Nanaaa," panggilnya lembut namun sedih,
"Cepat pulang ... I Love You,"
"I Love you too," dan aku hanya bergumam, aku segera menampar diriku sendiri.
"Bodoh!" Umpatku, dan kulihat Nana sudah benar-benar pergi, tenggelam dalam kerumunan orang-orang yang akan pergi juga.
Tinggallah aku dan Seulbi, walau jarak kami tiga meter dengan Seulbi didepanku, aku bisa melihat bahwa gadis itu sedikit menangis kecil yang air matanya terus ia tepis.
"Seulbi?" Tanyaku, Seulbi mendongak lalu mengerjap-ngerjap kan matanya dengan–astagaaa itu pemandangan lucu dan imut yang pernah kulihat selain melihat wajah imutku sendiri!!! Oke, aku berlebihan walau yang kukatakan fakta menurut diriku, dan sejak kapan fakta tergantung pada diriku?! Sudahlah!
"Kamu pulang naik apa?" Tanyaku mencoba untuk terdengar santai walau sebenarnya jantungku sedang bermain trampolin.
"Euhm, taksi,"
"Aku akan mengantarmu,"
Seulbi tampak salah tingkah lalu melambaikan tangannya cepat.
"Ahh tidak perlu Jen, tidak perlu, jarak apartmentmu dan apartemenku sangat jauh, perjalanan mu akan bertambah lama Jen,"
"Tolonglah ... demi ... Nana,"
Aku tidak ingin berdebat, jika sudah berurusan dengan Nana, Seulbi pasti akan menurut. Imutnya.
"Ugh, baiklah, maaf merepotkan, kuharap Nana tidak meminta yang aneh-aneh padamu ya Jen Lee,"
"Tidak kok! Tenang saja!" Ucapku sambil menyipitkan mata, dia ikut tersenyum lebar, huufftt, setidaknya dia tidak bersedih lagi.
☘️☘️☘️
"NANAAA SIALAN! BODOH!!! PENJAHAT KELAS ATAS ITU MEMANG KAU NA!!!"
Aku mengebut dijalan raya agar segera sampai di kediaman Nana dan orangtuanya, Nana masih tinggal bersama orangtuanya.
Bagaimana bisa, sahabat yang sudah menghabiskan waktu selama lima belas tahun lamanya pergi begitu saja, parahnya untuk selamanya! Meninggalkan Seulbi pula!
Sialan memang!
Aku menepis kasar air mata yang sempat menetes dari mataku,
Sialan kau Na! Berhasil membuatku menangis!!!
Aku berdiri sedikit gemetar, kudengar bisik-bisik bahwa Nana termasuk korban dalam kecelakaan pesawat itu, jenazahnya baru ditemukan setelah delapan hari pencarian.
Mengenaskan,
Jadi maksudmu menitipkan Seulbi padaku ini Naaa?! Hah?!!
Aku melayat kala itu, setelah selesai sudah pemakaman Nana, aku bertemu dengan ibu Nana, wanita paruh baya itu masih menangis belum bisa menerima kepergian Nana.
"Jen Lee, jangan beritahu pada Seulbi yaaa,"
"Mana bisa Tan? Seulbi berhak tau juga!" Aku tidak membentak kok tenang saja.
"Iyaaa, tapi jangan sekarang,"
"Tan?! Seulbi juga akan sakit hati Tan, setidaknya dia melihat jasad Nana untuk terakhir kalinya,"
"Jangan! Jangan!"
"Tante yakin kamu bisa hibur Seulbi, maafkan Tante jika egois, maaf, Tante tidak ingin melihat Seulbi menangis,"
☘️☘️☘️
Disinilah aku, duduk dengan nestapa menyelimuti ku, aku harus berkata apa pada Seulbi, melihat perempuan itu menangis saja rasanya ... tidak kuat. Aku menghembuskan nafas berat.
Aku merasakan ada getaran di ponselku.
Aku menghela nafas, aku harus profesional, aku masih punya pekerjaan yang harus kuurus, mungkin besok aku akan menemui Seulbi?
☘️☘️☘️
Bodoh! Bahkan aku baru bisa datang menemui Seulbi dua hari kemudian, mau bagaimana lagi?! Jarak apartemen Seulbi jauh, bahkan sudah berbeda kota. Terdengar alarm dari ponselku berbunyi agak kesal juga, sebenarnya alarm apasih ini kenapa dari tadi pagi berbunyi, aku tidak melihatnya, karena aku langsung men-silent ponselku tadi, jadi aku tidak tau.
Saat kubuka ponselku, aku terpaku,
Happy Birthday 🎂 Seulbi
Seulbi berulang tahunnnn??!!!! Dan aku akan membawa kabar buruk??!!! Sungguh hadiahmu hebat sekali Jen Lee, kau bahkan tidak membawa apa-apa untuk ... yahh setidaknya membuat Seulbi senang.
Aku melangkahkan kaki, menguatkan diri, apa nanti yang akan aku ucapkan? Aku kembali mengingat tujuanku kesini, duh, aku tidak tega, dihari bahagia Seulbi, aku harus membawa kabar buruk ini?! Manusia tidak ada hati memang aku ini.
Jadiii apaaa?! Apa yang akan aku katakan nanti?!
"Seulbi ... Nana sudah tiada?"
"Seulbi ... Nana meninggal?"
"Seulbi ... Nana kecelakaan?"
"Seulbi ... Aku mencintaimu!"
Opsi paling terakhir adalah opsi paling pas dan baik dalam hidupku, tapi aku harus bangun dari mimpi dulu sebelum mewujudkan mimpi itu!
Ting Tong!
Aku menekan bel, harap-harap cemas, mau pasang muka apa aku?! Sialan!
Aku gugup!
For God Shake!
Ceklek ...
Bruk!
Aku menegang, terkejut, hingga suara tangisan menyadarkanku, Seulbi mencengkeram bajuku erat, memelukku erat dan menangis.
"Nana ... hikss ... Nana pergi ... " Isak Seulbi menyakitkan dan pilu.
Aku perlahan mengangkat tanganku untuk memeluknya, lalu mengusap kepalanya lembut.
"Maaf baru mengabari mu sekarang, aku baru bisa kesini," ucapku pelan dan sedih.
"Hikss hiksss, kenapa tidak ada yang mengabariku sama sekali??!!!" Isak Seulbi kembali.
"Orang tua Nana tidak ingin membuatmu sedih,"
"Hikss hiksss,"
Aku memejamkan mata, memberi Seulbi ketenangan lewat pelukan ini, dan aku sudah menemukan kata yang pas untuk kuucapkan padanya.
"Seulbi ... "
"Selamat ulang tahun ... "
☘️☘️☘️
Aku duduk disamping Seulbi yang menopang dagu menatap kosong kue Blackforest yang topingnya sudah bercampur dengan lilin,
Astaga, Seulbi ...
Aku ingin memeluk mu lagi ...
"Maafkan Nana,"
"Aku tau,"
Seulbi terlihat lebih baik sekarang, ia tampak kembali biasa, yah lebih tepatnya mencoba seperti biasa.
"Aku ingin mengunjungi Nana,"
Aku menatap Seulbi horor.
"Kamu gaada niatan untuk nyusul juga kan?!" Tanya ku was-was, Seulbi tersenyum yang entah mengapa terlihat menyeramkan kali ini.
"Boleh yaa?!" Dia berujar seolah anak kecil yang meminta izin pada orang tuanya.
"Seulbi, jangan seperti ini, aku ... tidak bisa memenuhi janji Nana kalau begini, jangan Seulbi ku mohon," ucapku mencoba kembali menenangkan Seulbi yang kembali menangis, menyakitkan sungguh! Melihat orang yang kau cintai menangis.
Aku ingin mengatakan sesuatu hal penting, mengenai perasaanku padanya, barangkali itu bisa membuat dia tenang dan menyadari bahwa masih ada aku yang akan mencintainya,
Tapi tidak,
Itu terdengar ... aku yang egois,
Sehingga aku memilih untuk bungkam lagi, mengelus kepala Seulbi sayang, mencoba menyalurkan rasa sayangku padanya, barangkali ia sadar dan mau membuka hati lagi,
Yaahh, lebih baik begini, perempuan tidak butuh kata-kata, mereka butuh tindakan, maka, akan aku tunjukkan saja rasa sayang dan cintaku lewat tindakan.
Memenuhi titipan Nana sialan tapi aku dengan senang hati menerimanya.
Makasih Na, titipannya,
Ya mau bagaimana lagi, aku mencintainya Na,
Ya, Aku mencintainya ...
Walau aku tau, cinta ini akan menyakitiku, tak apa, aku cukup kuat untuk melawan rasa sakitnya ...
☘️☘️☘️
HALUUU TEROOSS TUMAN! PLAK!
WKWKWK Aing lagi mabuk K-POP ya Tuhaaaann, entah kapan sembuhnya, intinya mau bikin hahahihi dulu yaaa, wkwkwk,
Ya Ampun Sebenarnya Jeno ituu kyooooodd bangeettt wkwkwk, sedangkan Nana itu manieezzzz bangeett tapi yaudahlah ngapain bahas K-POP siihh tobat sana, awkawkawk
Ini ceritanya berdiri sendiri yaa, bukan sequel nya Nana, cuma tokohnya ngelibatin di tokoh Nana, disini, cuma curahan hati dan perasaan si Jen Lee yang harus ngerasain sakit hati karena ngelihat orang yang dicintainya harus mencintai orang lain, yaaa gimana lagi, resiko cinta dalam diam emang gituuu