"Kerajaan Rajesh?"
Mimpi itu, lagi lagi aku memimpikan seseorang. Dia tinggi dan kulit nya kecoklatan. Manik mata nya berwarna coklat terang saat menatap manik mata ku, aku bagaikan tersapu pesona nya, aku terhanyut dalam tatapan teduh milik nya, lagi lagi aku jatuh cinta setiap menatap manik mata nya.
"Jika kau memang ada, aku ingin melihat mu"
Dia, si pemilik senyum dengan lesung pipi sebelah kiri, dia indah. Aku menyukai senyumannya, tatapannya, dan cinta nya mungkin?
Bagaimana mungkin tuhan memberikan keindahan dunia pada diri nya, bagaimana mungkin tuhan menciptakan makhluk semanis dia.
Sangat manis dan mempesona....
kata orang-orang kota bandung menjadi kota dengan seribu dan berjuta-juta kenangan. Ingin aku lukiskan dirinya di tembok gapura kota bandung. Ingin aku tunjukkan pada setiap pengemudi bahwa dia di ciptakan saat tuhan tengah bersuka cita.
Aku, anela prita rahes. Tuhan menciptakan aku dalam bentuk sebaik-baiknya. aku dilahirkan dan disambut dengan suka cita oleh sang hujan yang memeluk dan turut bergembira menyambut manusia yang untuk pertama kalinya menatap dunia.
Lahir dari seorang ibu pribumi dan ayah yang berasal dari Afganistan selalu membuat aku bangga. Ayah ku bekerja keras untuk ku sehingga Ayah selalu berpergian untuk berbisnis. Tetapi aku tak pernah kekurangan perhatian dari nya, dan ibu ku adalah perempuan yang memeluk ku sembari mencium pipi dan mendongengkan kisah nabi.
Awal mula mimpi itu saat aku berusia 17 tahun. disaat aku tidur untuk menyambut hari bahagia ku esok hari nya, untuk pertama kali aku melihat laki-laki itu. Hari berganti hari dan tentu nya malam juga berganti tetapi lelaki itu seolah tidak pernah melepaskan diri ku di dalam mimpi indah ku. Ntah mengapa setiap melihat nya aku selalu merasa jatuh cinta hingga sejatuh-jatuh nya.
"Anela"
"Sudah bersiap nya? Kita harus berangkat sekarang" ucap ibu ku menyadarkan aku dari lamunan panjang ku.
"Sudah, Bu. Aku hanya menyiapkan beberapa keperluan yang mungkin aku butuhkan nanti nya"
"Baiklah ibu dan ayah tunggu di bawah, jangan lama"
Aku hanya mengangguk merespon ucapan ibu ku. Yah, hari ini tepat di usia ku yang ke 19 tahun. ayah meminta ku untuk melanjutkan pendidikan di India. Kota kelahiran nenek ku.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta
"Kembalilah jika sudah bertemu dengan nya" ucap ayah ku yang membuat aku kebingungan.
Siapa yang akan aku temui?
Aku tak memiliki teman di sana,
Lalu siapa yang harus aku temui?
"Ibu mencintai mu, nak. Tuhan berbaik hati memberikan dirimu kebahagiaan yang sebelumnya tak bisa kau rasakan"
"Apa yang ibu maksud?" Ujar ku.
"Pergilah, takdir terbaik menanti mu, Ingat lah disini ada ayah yang selalu mencintai mu"
"Setiap libur semester aku akan pulang, jaga kesehatanmu ibu" ucap ku sembari memeluk ibu ku, aku kecup pipi ibu sebanyak yang aku mampu.
"Aku pergi ayah" ucap ku sembari mengecup pipi kiri dan kanan ayah.
"Aku menyayangi kalian" ucap ku sebelum menggeret koper ku.
Tangan ku bergetar merasakan hawa baru yang akan aku lalui, aku tatap wajah ibu dan ayah yang tengah melambaikan tangan nya ke arah ku. Langkah ku terasa berat meninggalkan mereka, aku terbiasa hidup bersama orang tua, aku terbiasa di manja dan aku terbiasa akan kehadiran ibu dan ayah ku. Apakah aku bisa memulai sesuatu tanpa mereka? Aku tak yakin akan hal itu, tetapi ayah percaya aku bisa.
"Semangat anela, ini demi ayah dan ibu" ucap ku menyemangati diri ku sendiri.
Air mata menjadi saksi seberapa sedih nya hati ku meninggalkan tanah kelahiran yang menyimpan banyak kenangan bersama orang tua ku.
"Selamat tinggal Indonesia"
---
"India" di balik kaca pesawat. aku menatap gedung-gedung yang terlihat dari atas sini.
Bandara Internasional Indira Gandhi (delhi)
"Aku datang India" ucap ku pada angin yang berhembus. Untuk pertama kali nya kaki ku bertapak pada tanah india.
Tetapi ada hal aneh, setiap aku melangkah aku merasakan perasaan seolah aku pernah tumbuh besar di sini, aku merasa seolah aku pernah berlari dan menari di tanah yang ku tapaki ini.
India...
Apa sebelum nya aku pernah kemari? Aku rasa aku tak pernah kemari, tapi mengapa perasaan ini seolah merindu pada sang bulan. Aku merindu dengan begitu hebat nya.
Siapa yang aku rindukan? Aku bertanya-tanya pada setiap tetesan air mata ku, aku merasakan sesak setiap menatap orang-orang yang juga menatap ku.
Aku merasa pernah di tatap dengan begitu menyedihkan nya oleh orang-orang. aku merasa aku pernah hidup menyedihkan di bawah tatapan merendahkan dan cacian orang-orang.
Tapi kali ini beda, orang-orang menatap ku seperti tertarik. Bukan kah sewajarnya nya begitu? Aku tidak pernah mencari masalah dengan mereka.
Terkadang aku merasa Dejavu, lalu selanjutnya aku merasa tak pernah melalui itu semua.
Sebenarnya aku kenapa?
Kaki ku melangkah demi langkah, hingga kini aku sudah berada di depan pintu keluar bandara.
Aku tatap sekeliling ku guna mencari tempat untuk sekedar mendudukkan diriku. Aku lelah, aku butuh waktu untuk mengistirahatkan kaki ku.
"Selamat datang anela, aku dan tanah india menyambut kedatangan mu kembali" ucap nya berbisik tepat di telinga kanan ku. Aku di buat terkejut akan tingkah nya yang tak sopan.
Merasakan rasa kesal yang kini melingkupi hati ku, aku berbalik menatap orang aneh yang yang dengan tidak sopan nya berbisik di telinga ku.
Dari postur tubuh dan pakaian nya, ia seorang lelaki. Aku merasa semakin geram karena dia tak melihat ku sama sekali, ia hanya menundukkan kepala nya seolah tak berdosa.
Dengan tangan kiri terkepal menahan gejolak emosi, aku menunjuk tepat di depan wajah orang aneh itu "kau sia--" ucapan ku terhenti kala aku menatap wajah nya, sejak itu aku menyadari sesuatu.
Dia?? Dia nyata?!!
"Selamat datang sayang, aku menunggu mu sedari dulu" ucap lelaki itu dengan senyum yang mengembang. Lesung pipi nya juga terlihat menambah kesan manis.
Dada ku berdesir merasakan sapuan jari jemari nya pada pipi ku, bukan rasa benci atau pun canggung yang hadir tetapi rasa merindu yang begitu membuncah, seolah aku pernah berada di posisi ini, seolah aku pernah mencintai lelaki itu dengan begitu dalam nya.
"Manis nya, kau memang istri ku yang manis Badiya" ungkap nya pada ku.
"Aku mencintaimu lebih dari pada debaran jantung ku. Di kehidupan ini dan kehidupan sebelumnya nya, aku tetap memilih mu menjadi satu-satunya tempat ku untuk pulang"
Masih dengan senyum yang menghiasi wajah nya, telunjuk lelaki itu menekan pelan pucuk hidung ku, "Sekarang aku harus memanggilmu Badiya atau anela?" Tanya lelaki itu. Aku hanya terdiam di buat nya.
Aku merasakan perasaan ku membuncah, aku merasa kerinduan yang dahulu selalu hadir di saat aku merasa kesepian kini terobati begitu saja.
Aku bingung dengan situasi yang tengah aku hadapi ini. Aku benar-benar bingung.
"Baiklah, aku rasa Badiya ku ini tengah kebingungan. Perkenalkan kembali aku Anant" ucap nya dengan uluran tangan ke arah ku, meminta untuk berjabat tangan.
Aku hanya menatap bingung antara wajah nya dan tangan nya, begitu terus hingga aku mendengar suara lelaki yang bernama Anant itu kembali terdengar.
"Tetapi sekarang nama ku Jaffin"
"Dulu Badiya dan Anant, sekarang anela dan Jaffin"
"Tuhan benar-benar memberikan kemurahan hati nya untuk kita, setelah ini kita harus berdoa pada Tuhan"
"Anant" ucap ku pelan.
Ntah mengapa mendengar nama Anant aku merasakan perasaan sedih yang begitu mendalam. Aku tak mengerti aku kenapa, tetapi aku merasa aku begitu dekat dengan orang yang bernama Anant. Aku seperti mengenal nya dengan begitu baik.
Lelaki itu tersenyum menatap manik mata ku, di tepuk nya pelan Surai ku dan mencium kedua mata ku. Aku terhanyut di buat nya, aku seolah merindu akan sentuhan nya.
Dia memegang kedua pipi ku. Senyum nya tak surut sedikit pun. Sedari awal dia terus menampilkan senyum termanis nya.
"Jangan menangis Badiya ku, usap air mata mu." Ucap nya pelan.
Mendengar itu, aku menurutinya, aku usap pelan pipi ku yang sedari tadi di aliri aliran air mata ku.
"Cukup dahulu saja kau tersiksa karena ku. Kali ini biarkan aku yang tersiksa karena mencintai mu" ucap lelaki itu.
"Jangan lupakan aku begitu lama, rasa ini benar-benar menyiksa, permaisuri ku"
"Badiya..." Kilasan demi kilasan dua orang yang tersenyum bahagia kini mulai melingkupi otak ku. Aku gemetar merasakan rasa pilu yang menyelimuti. Ingatan masalalu itu terus mengusik otak ku, ingatan itu kian memaksa ku untuk memahami segala hal yang terjadi.
Kilasan-kilasan yang dulu nya terasa abu-abu kini mulai menampakkan wujud nya.
Aku memegang kepala ku dengan air mata yang tak henti menetes, sungguh rasanya sakit dan memilukan setiap ingatan itu menyerang ku bertubi-tubi.
Badiya ku...
Badiya ku...
"Wahai raja ku, alangkah indah nya jika raja ku ini bersedia memetik mangga untuk permaisuri yang di Landa keinginan ini"
"Kelak jika aku melahirkan anak perempuan apakah dirimu menerima nya?"
"Tentu aku akan menerima nya, perempuan atau pun laki-laki selagi itu anak kita akan aku buat dia menjadi orang paling bahagia, kelahiran nya akan di sambut meriah oleh semua rakyat"
"Jangan memaksa untuk mengingat semua nya permata ku, kita bisa memulai nya kembali seperti dulu" ucap lelaki itu yang kini aku ingat, dia Anant suami ku di masa lampau.
"Aku...aku hiks aku bingung, aku siapa sebenarnya"
"Kau Badiya ku, permaisuri ku, ratu dari kerajaan Rajesh"
Kini aku ingat dengan baik, Dia Anant. raja dari Kerajaan Rajesh, kerajaan makmur nan damai di masa lampau.
Di Anant ku, suami ku tercinta, dia raja ku yang rela terbunuh demi permaisuri nya yaitu aku Badiya.
"Doa mu benar-benar di kabulkan oleh tuhan, lihat kita sekarang bertemu lagi. Kita bertemu lagi di dunia ini" ucap Anant, aku menatap manik mata nya yang berkaca-kaca, kini aku mengerti mengapa aku selalu merasakan rindu kepada seseorang.
Kini aku mengerti kenapa ia selalu ada dalam mimpi ku, kini aku mengerti mengapa kilasan-kilasan kisah masa kerajaan terkadang muncul dalam mimpi ku.
Aku peluk tubuh suami ku dengan begitu erat. Rindu ku akhirnya tersampaikan. Cinta ku akhirnya kembali, "Aku merindukan mu, Anant. Sungguh rasanya begitu menyesakkan saat aku melihat mu terbunuh malam itu"
"Jangan menangis, hati ku teriris menatap mu bersedih"
"Kau kembali, aku senang Anant, aku senang akhirnya bisa bertemu dengan mu"
"Aku lebih merindukan mu ratu ku"
"Jangan menggoda ku Anant, dan ingat ini bukan masa dahulu, kini pangil lah nama ku. Jangan memangil ku ratu, aku malu"
"Kau tetap ratu dan permaisuri ku, Badiya. Bagaimana bisa aku melupakan itu"
Anant ku, lelaki yang selalu memuja dan mencintai ku kini aku peluk tubuh nya, tuhan benar-benar berbaik hati mengabulkan doa hamba nya.
"Terimakasih sudah menunggu ku begitu lama, aku mencintaimu Anant, benar-benar mencintaimu"
Kisah ku dan Anant berakhir bahagia di kehidupan ini. Kami memiliki dua anak lelaki kembar dan kini aku tengah hamil. Aku berharap anak yang aku kandung ini perempuan. Aku benar-benar bahagia, tuhan benar-benar memberikan aku kesempatan untuk hidup lebih lama bersama suami dan anak-anak ku.
dahulu aku dan Anant adalah sepasang raja dan ratu di kerajaan yang cukup berkuasa pada masa itu, rakyat makmur, semua berbahagia hingga takdir buruk menimpa keluarga dan kerajaan ku. Raja ku Anant, mati saat menolong diri ku di tengah peperangan. Anant ku memeluk tubuh ku yang bergetar karena rasa takut. Ia benar-benar melindungi ku hingga titik darah nya, ia mati di dalam rengkuhan ku.
Kisah itu membuat kerajaan ku hancur dan porak poranda, tak ada yang tersisa dari peperangan tersebut, aku di jadikan tawanan perang. Di siksa dan di jadikan gundik oleh orang-orang tak berperasaan, aku terpukul.
Suami tercinta ku mati demi menyelamatkan aku yang tengah hamil muda, dan saat itu aku melihat anak ku terbunuh di depan mata kepala ku.
Aku benar-benar tersiksa hingga memutuskan untuk mengakhiri hidup di atas makam suami ku,
Kisah ku, Badiya ratu Kerajaan Rajesh berakhir di akhir tahun.
Dan aku kembali di awal tahun dengan anak dan suami ku.