Aku masih setia mendengarkan obrolan mereka yang semakin seru. Jujur saja, mendengarkan obrolan mereka lebih menarik bagiku sekarang dibandingkan dengan tujuan awal datang ke Pete Kafe ini.
"Jadi, di Masjidil Aqsha itu ada masjid lain juga?" tanya Iffah setelah meminum kopinya. Satu tangannya kulihat sengaja mencomot kentang goreng yang tadi sempat mereka pesan.
Izzah mengangguk dan kembali meletakkan ponselnya di meja. "Iya, Fah. Tapi dulu Masjidil Aqsha belum seperti sekarang. Bahkan sejarah mencatat, Masjidil Aqsha pernah dijadikan ladang dan mengalami perbaikan beberapa kali akibat gempa dan dan peperangan."
Iffah tampak mengangguk-angguk kecil, jika aku menjadi Iffah, aku juga akan mengangguk kecil seperti itu ketika mendapati pengetahuan baru.
"Terus, Zah. Yang bangun Masjidil Aqsha pertama kali siapa?" tanya Iffah kemudian. Pertanyaan yang menarik! Aku juga ingin mengetahuinya.
"Nah, soal ini aku juga kurang tahu ya, Fah. Kapan tahun dibangunnya Masjidil Aqsha masih jadi sesuatu yang dicari dan diteliti, tapi mayoritas ulama meyakini bahwa yang membangun Masjidil Aqsha pertama kali adalah Nabi Adam alaihis salam atas wahyu dari Allah."
"Dalam salah satu riwayat hadistnya Sahabat Nabi yang shahih dijelaskan kalau Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis dibangun 40 tahun kemudian setelah dibangunnya Masjidil Haram. Makanya, Masjidil Aqsha disebut juga masjid tertua kedua setelah Masjidil Haram," terang Izzah panjang lebar.
Baik aku maupun Iffah merasa tercerahkan dengan penuturan Izzah yang sederhana tapi jelas itu. Jujur saja, dulu aku mengira mereka yang berlebihan dalam beragama, tapi ternyata akulah yang kurang memahaminya. Ya Allah, maafkanlah aku!
"Kemudian, Masjidil Aqsha dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dengan meninggikan bangunannya. Dan terus dilanjutkan oleh Nabi Ya'qub, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Nah, di masa Nabi Sulaiman inilah Masjidil Aqsha dibangun dengan lebih besar, luas dan indah," lanjut Izzah lagi.
"Dan kamu tahu gak, Fah. Bahwa Masjidil Aqsha pernah dikuasai bangsa lain bahkan pernah dihancurkan oleh seorang kaisar dari Roma dan lalu karena bentuk bangunannya tidak lagi ada, seorang Raja menjadikannya sebuah ladang!" seru Izzah berapi-api.
Iffah nampak terkejut, tak ayal aku juga terkejut. Benarkah Masjidil Aqsha yang sekarang kulihat berdiri megah dan indah pernah dihancurkan bahkan dijadikan ladang? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya.
Kemudian, pandanganku kembali menatap mereka. Izzah tampak kian serius, tangannya bergerak mengepal kuat. "Iya! Tetapi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Umat Islam berhasil merebut kembali Masjidil Aqsha dan berbondong-bondong membangun kembali Masjidil Aqsha."
"Sejak saat itu, Masjidil Aqsha terus mengalami renovasi perbaikan dan penambahan arsitektur akibat gempa dan perang kusebutkan tadi itu, lho, Fa."
Iffah mengangguk mengerti. Lalu, kulihat keduanya menyeruput kopinya lagi, begitu pula aku. Kuminum kopi yang hampir tandas. Secangkir kopi yang biasanya terasa biasa-biasa saja jadi luar biasa lantaran mendengarkan diskusi dua orang perempuan di hadapanku itu.
"Berarti Masjidil Aqsha itu penting banget buat kita, ya, Zah?" Iffah kembali bertanya.
"Iya dong, Fah. Masjidil Aqsha yang sekarang kita lihat berdiri dengan megah bukanlah masjid biasa. Tetapi juga merupakan Muqaddasatnya Umat Islam!" seru Izzah bersemangat.
"Muqaddasat? Apa itu, Zah?"
"Muqaddasat itu hal-hal yang sakral dan disucikan dalam ajaran Islam, Fah. Sesuatu yang jadi simbol utama Umat Islam. Contohnya ya Al-Quran, Rasulullah, Kota Mekkah dan Madinah adalah bagian penting dalam Muqaddasat kita," jawab Izzah santai.
"Dan Al-Aqsha juga?" tanya Iffah lagi, kali ini Izzah menjawabnya dengan anggukan kecil sebab mulutnya sedang terisi kentang goreng.
"Yap, Masjidil Al-Aqsha adalah Muqaddasat yang harus dan wajib banget kita pahami dengan baik."
•••
Haaaaiii.
Selamat Membaca!
—HK