Terdengar bunyi keyboard laptop ditekan dengan cepat oleh seorang pria berbahu lebar yg sedang duduk di kursi kerjanya, terlihat kulitnya yang berwarna putih pucat dibarengi dengan rambut coklat tua sepanjang bahu, matanya yg sayu sekilas menampakkan garis kesedihan dan keputus asaan tanpa adanya harsa disana. Einar, menatap ke arah laptop dihadapannya dengan serius, jarinya yang menekan salah satu tombol keyboard yang sama terus menerus, seolah-olah sedang mengulang sebuah video secara terus menerus. Sampai pada akhirnya, Einar menghela napasnya dengan pelan, menempelkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Tanpa sadar, dia tertidur dengan cepat.
Saat terbangun, Einar melihat dirinya berada di tempat lain yang aneh, bukan di kamarnya. Einar menoleh kesana-kemari, yang dia lihat sekarang hanyalah dunia yang berwarna hitam putih, dan juga sekumpulan orang-orang yg terlihat sedang mengikuti lomba panjat pinang, namun muka mereka seperti di tempel kayu berbentuk persegi panjang yang besar dengan bertuliskan "bukan dia". Apa maksud dari kalimat itu? dia siapa? pikir Einar, belum sempat dia mencerna situasi. Tiba-tiba orang-orang yg sedang berlomba pajat pinang, menghilang tanpa jejak, sekejap kembali lagi, namun dengan bentuk yang berbeda.
Kini, ada sekumpulan anak remaja sedang memasak gami bawis. Tetapi dengan wajah yg tetap dilabeli kalimat "bukan dia". Kejadian itu terus menerus berulang, hilang sekejap berubah menjadi anak kecil yg sedang melakukan upacara, hilang lagi, sekejap berubah menjadi sekelompok orang sedang menenun kain batik. Sampai akhirnya, Einar muak. Bagaimana caranya agar kejadian konyol itu bisa berhenti? pikirnya, kemudian menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan. Merasa sedikit pusing setelah melihat hal aneh yg barusan dia alami.
Selang beberapa saat, Einar merasa seseorang menarik kedua tangan Einar yg sedang menutupi wajahnya itu dengan lembut. Einar terkejut, langsung menatap ke arah wajah orang dihadapannya tersebut. Orang itu tersenyum... dan tidak ada kayu yg menutupi wajahnya seperti orang-orang yg dia lihat sebelumnya. Di hadapannya, ada seorang wanita yg terlihat berwarna, tidak seperti dunia aneh itu yang hanya berwanra hitam putih. Matanya seperti batu permata amethyst, menatap ke wajah Einar dengan lembut. Paras yg anindya di hiasi dengan rambut merah muda yg panjangnya sampai menyentuh lantai. Tersenyum tipis. Membuat Einar seketika merasa nyaman dan tenang. Entah sudah berapa menit mereka berdua bertatapan satu sama lain, seperti dunia hanya milik berdua. Lalu, wanita itu membuka suaranya " kau terlihat seperti lakuna tanpa adanya harsa. Ayo, aku hiasi buana mu itu " Suara wanita itu terdengar seperti musik di telinga Einar. Ia merasa ada sesuatu yg membuatnya ingin mengikuti omongan wanita dihadapannya.
Wanita itu membawanya ke banyak tempat, seperti ke toko gami bawis, teater, dan lainnya. Sehingga dunia tersebut perlahan-lahan menjadi berwarna. " sekarang, semuanya menjadi berwarna " Ucap wanita rambut merah itu, Einar tersenyum tipis " ya, kau benar. " respon Einar dengan singkat, yg membuat perempuan itu tersenyum. " tanpa kau sadari, kau telah mewarnai buana mu " Perempuan itu tersenyum manis ke arah Einar, yang sedang bingung dengan perkataan wanita tersebut. "maksud anda?" tanya Einar, menatap dengan seksama. "Kau akan tahu nanti" Begitu kata-kata itu diucapkan, Perempuan itu berjalan mendekat ke arah Einar, mengangkat tangannya dan menutup kedua mata Einar dengan telapak tangannya. Seperti memberi suatu ingatan lama.
Ingatan samar-samar tentang dirinya sendiri yg selalu berada di meja kerjanya, menghabiskan waktu dengan melihat layar laptop sepanjang hari, secara terus menerus. Kamar nya yg terlihat rapi namun seperti lakuna yg tak berwarna. Bahkan makan pun dilakukan di meja kerja, sungguh menyedihkan. Einar tersadar bahwa dia terlalu terpaku terhadap tugas skripsi nya, bahkan saat hari libur. Ia perlahan mengerti, bahwa dia adalah manusia, yg juga butuh istirahat dan bersenang-senang.
"Demi bentala dan dirgantara, tugasku disini telah selesai, bangunlah. Warnai hidupmu nak." Wanita itu menjauhkan tangannya dari wajah Einar, tersenyum. Yang kemudian tubuh perempuan paruh baya tersebut menghilang secara perlahan. Menyisakan Einar yg tengah berdiri, menjatuhkan air mata. Tiba-tiba.
Brak! Tubuh Einar terjatuh dari kursi kerjanya, Einar langsung membuka matanya, lalu dengan cepat, duduk kembali di kursi kerjanya. Video itu masih berputar, menampilkan orang yg sedang tertawa puas, berpenampilan sederhana, dengan kulit putih nan bersih, kepala dimahkotakan surai merah muda yg menyentuh lantai, sepasang mata yg terlihat seperti batu permata amethyst. Terlihat seperti wanita yg masuk kedalam mimpinya. Wanita itu adalah, seorang ibu yg sangat mengasihi dan menyayangi anaknya, Einar.
Einar lagi dan lagi memutar video itu, merasakan harsa mengalir di tubuhnya. Tersenyum tipis, Einar menghentikan videonya, lalu menghela napas. "Sepertinya saya harus mengikuti kata ibu." Ucapnya, yg kemudian berdiri dan bergerak keluar dari kamarnya. Melakukan apapun yg membuatnya bahagia di hari itu juga. Mewarnai Kehidupannya sendiri. Melepas abu-abu dan kekosongan dari hidupnya.