Memandangmu dari kejauhan seperti angin yang berhembus halus mengenai hatiku. Sosokmu seindah laut samudra yang semakin lama menghanyutkan ku dalam tatapanmu. Tawa indah selalu terukir di wajahmu, Sang Penghuni Samudra.
Sinar terik matahari menyinari siang hariku. Aku adalah seorang Mahasiswi yang sedang menyantap makan siang di warung makan favoritku seorang diri dengan tenang, setenang laut tanpa ombak. Tidak ada angin, tidak ada hujan, seorang pria jangkung, berambut hitam pekat, dan berkulit pucat bak susu berjalan pelan melewati warung makan yang ku singgahi. Aku yang tidak sengaja melihatnya, langsung dibuat jatuh hati dengan tatapan sayunya membekas dalam lubuk hatiku.
Malam pun tiba, bulan menyinari gelapnya malam menandakan sudah waktunya untuk beristirahat. Aku berbaring di kasur tidurku yang sehalus kain sutra dan selembut tahu. Jantungku berdebar kencang, ribuan kupu-kupu seperti memenuhi perutku. Pria tidak dikenal itu, berhasil membuatku hilang akal. Sang Penghuni Samudra, aku menamainya itu.
Dalam samudra yang sangat luas nan dalam, terdapat badai dahsyat yang menggempur. Setiap detik angin kencang menerpa, tidak lupa dengan petirnya yang menyambar keras bak gunung berapi yang meletus tiada habisnya berhasil mewarnai gelapnya samudra itu. Hingga matahari yang telah ditunggu-tunggu akhirnya terbit menerangi gelapnya samudra. Cahaya sinarnya berhasil menerangi samudra dan meredakan badai yang selama ini selalu menemani samudra. Kini, mataharilah yang akan selalu menyinari gelapnya samudra itu.
Ya, aku memang suka mengabadikannya dalam buku harianku. Kiasan-kiasan indah yang kutulis, semuanya untuk menggambarkan rupanya.
Hari-hari ku lalui dengan berat. Setiap kali rumah menyambut kepulanganku, badanku rasanya seperti akan remuk layaknya kayu yang rapuh. Terlebih lagi, aku tinggal sendirian, tidak, aku selalu di temani dengan tumpukan kertas skripsi yang selalu menemani malamku. Nasib anak semester akhir.
Untungnya, Sang Penghuni Samudraku datang disaat yang tepat. Aneh, setiap kali kami bertemu dia tidak pernah memberitahukan namanya. Kami berbincang bersama bertukar pikiran dan perasaan, bahkan dia membantuku mengerjakan tugas akhirku. Astaga, rasanya hatiku akan meledak sangking bahagianya. Dari segi manapun, dia selalu terlihat sempurna. Rasanya mustahil ada manusia seperti dia di muka bumi ini.
Salah seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa tidak sengaja membaca isi buku harian seorang pasiennya yang memiliki gangguan mental (skizofrenia), saat ia sedang sibuk membereskan kamar pasien nya yang baru saja meninggal, tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik dari buku harian ini yang bernama Kara.