Entah berapa lama pastinya kupandangi layar pipih itu, menatap sederet kalimat yang dikirimkan seseorang padaku satu jam yang lalu. Bingung, kesal, kecewa dan perasaan membuncah mengisi hatiku siang itu.
Cuaca di luar amatlah terik tapi entah mengapa mendung justru menggelayuti mataku. Sedetik kemudian, deras air mata terasa mengalir di pipi. Makin keras seiring dengan ingatan yang melayang-layang di kepala.
Mencintai seseorang kenapa harus sesakit ini?
Aku tak pernah melihat wajahnya, tak pernah juga bertemu tatap dengannya, tapi kenapa rasanya perasaan dikecewakan itu teramat sakit?
Sebuah ketukan di pintu menyadarkanku dari tangis sesaat, menyeka wajah yang basah, cepat-cepat kutarik pintu kamarku. Seorang perempuan berhijab terlihat berdiri di depan. Ia nampak terkejut dengan mata sembab dan isakan ingus sehabis menangis.
"Kamu kenapa?" tanyanya. Aku menggeleng dan mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Tetapi sepertinya ia mengenalku lebih baik dari diriku sendiri. Ia melangkah masuk dan menarik lengan, memintaku untuk duduk di tepian kasur.
"Kamu kenapa, Nis?" tanyanya lagi. Aku masih menggeleng pelan, enggan memberitahu siapapun perihal kecewa dan perasaan tak terbalas yang baru saja diterima.
"Patah hati lagi, ya?" duganya yang sialnya justru benar. Kuseka kembali bulir yang jatuh. Sakit, sakit sekali rasanya diduakan seperti ini.
"Aduh, harus berapa kali kubilang, sih? Kalau kamu mau jatuh cinta, kamu juga harus siap untuk kecewa, Nis. Karena ... Jatuh cinta itu bukan hanya soal perasaan suka yang berbalas suka tapi juga tentang patah hati dan kecewanya juga!"
Ia tampak menggebu-gebu menasihatiku, entah ini sudah kali berapa. Aku tak bisa mengingatnya dengan baik. Apa yang salah dengan jatuh cinta?
Perempuan di sampingku tampak menghela napas beberapa kali, tampaknya ia kesal padaku yang tak ada rasa jera untuk dikecewakan. Alih-alih menyangkal ucapannya, aku justru menyeka ingusku yang terasa keluar terus-menerus.
Kemudian, ia tampak berdiri dan hendak keluar, tapi sebelum itu, ia kembali berbalik padaku. "Nis, daripada kamu terus-terusan jatuh cinta dan mengulang kecewa yang sama. Lebih baik kamu jaga hatimu untuk seseorang yang tepat," katanya lalu membuka pintu dan keluar.
Aku masih diam dan mencoba mencerna ucapannya dengan baik. Menjaga hati agar bisa dimiliki seseorang yang tepat? Bagaimana caranya?
***
Semoga kamu yang baca ini bisa ambil poin pentingnya, ya.
Salam Cinta,
— HK