Aku terpekur lama dalam duduk simpuh di meja nomor delapan. Lima belas menit berlalu sejak aku masuk ke dalam kafe tapi kopi yang dipesan belum juga datang. Memaksaku untuk menyibukkan diri dengan hal lain.
Suasana Pete Kafe rintisan salah satu teman menulis yang tampak tenang dan nyaman ini membuatku betah berlama-lama. Kupandangi berita di layar ponsel yang menampilkan peperangan di suatu negara. Beberapa hari terakhir, kabar itu yang sering mengisi beranda media sosialku.
Tayangan berita di televisi dan artikel-artikel membanjiri kolom notif setiap saat. Dan dalam beberapa hari saja ramai sekali orang membicarakannya. Aku sendiri pun asyik mengikuti berita-beritanya meski tak terlalu paham dengan isu yang beredar.
Aku meringis ngilu saat menonton sebuah video amatir yang menunjukkan pengeboman secara massal itu. Jerit tangis para korban jelas menyentak hati kecil yang kupunya. Tak tega, iba dan entah apa lagi harus kukatakan perasaan-perasaan tak mengenakan itu.
Dan hatiku bagai disayat sembilu saat foto-foto korban akibat ledakan sebuah gedung ditampilkan di layar. Ribuan nyawa jadi korban. Lirih hati berucap istighfar penuh kengerian.
"Sudah kukatakan, Al-Aqsa itu bukan sekadar masjid!" sebuah suara mengalihkan fokusku seketika.
Terlihat dua orang perempuan berhijab memasuki kafe, salah satunya tampak kesal. Entah karena apa. Sepertinya, dua perempuan itu sedang terlibat adu argumen soal berita yang sedang viral sekarang.
Jujur saja, aku juga tak terlalu paham dengan apa yang terjadi. Kedua perempuan itu lalu terlihat pergi memesan minuman.
"Iya, aku juga tahu. Masjid Al-Aqsa itu masjid tertua kedua yang dibangun setelah Masjidil Haram. Yang tidak aku pahami, kenapa Zioness itu mengatakan bahwa Al-Aqsa adalah milik mereka?" tanya si perempuan berhijab yang agak tinggi dan mengenakan kacamata.
Perempuan yang tadi bersungut tampak menghela napasnya. "Ya, itu karena doktrin ekstrim mereka yang bilang kalau Al-Aqsa adalah tempat yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Padahal, ya aslinya kita tahu 'kan, Masjid Al-Aqsa itu dibangun oleh siapa? Mengaku-aku aja mereka tuh!" sungut perempuan berhijab hitam yang agak pendek itu. Jelas sekali bahwa ia kesal bukan main.
Penjelasan singkat mereka tentang Masjid Al-Aqsa yang sedang ramai diperbincangkan itu membuatku kian terpekur menatap layar ponsel. Setidak tahukah itu diriku?
Ternyata, apa yang diberitakan media tidak benar? Pernyataan mereka membuatku kian penasaran akan sejarah Al-Aqsa itu. Benarkah bukan sekadar masjid seperti yang perempuan berhijab itu katakan?
Salah seorang pramusaji datang mengantarkan kopi pesananku. Kedua perempuan tadi tampak asyik membicarakan hal lain. Kemudian, aku kembali pada layar ponsel yang masih menyala terang.
Jari-jariku dengan lihai mengetik prompt pencarian tentang Al-Aqsa itu. Ada banyak sekali artikel yang mengulas tentang Masjid Al-Aqsa. Kubaca satu persatu dengan teliti, tak ingin melewatkan satu pun fakta penting tentangnya.
***
Cerpen ini aku dedikasikan sebagai bentuk dukunganku terhadap Palestina. Raga ini tak bisa kugunakan untuk berperang, tapi jariku bisa dijadikan ladang untuk menulis narasi tentang keagungan Masjid yang menjadi tempat suci dan bersejarah bagi Umat Islam itu.
Beberapa hari lalu, aku kembali mengulas tentang Masjid Al-Aqsa. Dan badai-badai perlawanan yang pernah menyertainya. Jujur, hatiku bergetar. Membaca sejarahnya membuatku kembali berkaca pada diri sendiri, Aku ini siapa? Kenapa baru kuketahui sejarahnya sekarang?
Dari sanalah ide membuat cerpen ini muncul. Aku ingin berbagi sedikit tentang Masjid tertua dan agung itu dengan harapan banyak juga yang bisa belajar.
Semoga bermanfaat ...
Aku juga harap semoga cerpen ini gak kena takedown, ya, haha. Tulisan ini juga akan kumuat di Instagram pribadiku @hernn_khrnsa