Ruangan sempit yang hanya terdapat aku dan kamu. Kini aku akan memulai bagaimana kisahku terjatuh ke dalam senja, padahal aku tau kalau senja itu menyakitkan, namun aku terlalu mencintainya hingga aku menunggunya setiap sore.
Hari itu, seseorang berteriak memanggil namaku,
“ESY!” teriaknya.
Aku membalikkan badanku, menghadap dirinya yang berdiri tepat di belakangku, sesosok pria tinggi dan tampan itu menundukkan kepalanya, lalu seperti biasanya dia akan mengejekku “Wanita Pendek”, aku tau itu hanya candaan namun, aku marah, entah marahku semakin hari semakin aneh, aku selalu mencoba memukulnya, menjambak rambutnya, dan kesimpulannya aku hanya ingin dekat dengannya. Benarkan, ini bukan hanya sekedar marah.
Di hari yang berbeda, pria itu menjemputku menggunakan motornya yang sudah usang, padahal sebelumnya aku mengajaknya untuk menaiki motor ayahku saja, namun ia menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan, nyatanya dia setiap hari datang ke rumahku hanya numpang makan, lalu pergi bersama teman-temannya yang menunggu di depan pagar rumahku.
Dia membawaku ke Pantai, aku berharap dia tidak mendorongku ke laut, bagaimana aku tidak khawatir, setiap harinya dia selalu meresahkanku dan orang yang ada disekitarnya. Aku dan dia menikmati baskara yang lenyap oleh cakrawala dan langit yang tesoroti matahari tampak indah karena warna-warna yang ditampilkannya begitu sulit untuk dilihat, perlu waktu hampir seharian untuk menantinya. Namun, dengan penantian itu sangat memuaskan bagi yang menyukainya.
Dia menjelaskan makna senja padaku, menceritakan alasan mengapa dia sangat menyukainya, oh, hatiku sakit, ini sangat menyakitkan dari semua hal yang aku tahu darinya, rasanya aku ingin menutup mulutnya dan menghentikan dia bercerita. Dia menceritakanku tentang kenangannya bersama kekasihnya yang meninggalkan dirinya, karena saat itu dia terlambat untuk mengajukkan cintanya kepada orang tuanya. Berisik! Aku benar-benar tidak ingin tahu.
Kini senja mulai hilang, dan dia mengucapkan selamat tinggal untukku,
“Esy, aku paham, aku tau, kamu mencintaiku, namun, seharusnya kau mengerti apa yang kukatakan sebelumnya, maaf aku masih mencintainya, sepertinya aku harus meninggalkanmu, aku minta maaf karena membuatmu berharap.” katanya.
Jadi, selama ini dia paham perasaanku, dia tau aku mencintainya, tetapi ini balasan dia untukku. Sore itu dia mengantarkanku kembali ke rumahnya, kau tahu? Saat itu suasana cukup canggung, tidak ada satu pun dari kami yang memulai percakapan hingga aku melemparkan diriku ke kasur. Aku tetap menunggu telepon rumahku berbunyi, namun itu hal yang sia-sia. Seharusnya saat itu aku melarangnya pergi, dan mengatakan aku mampu menunggunya hingga ia mampu mencintaiku.
Saat ini, aku menyalahkan duniaku, apakah buana berpikir aku tidak mampu melawannya?, apa hanya dengan lara dia mampu mengacaukan hatiku? Hahahaha, pikiran dia salah, bahkan sesuatu yang tidak mampu dia berikan padaku , aku mampu menyempurnakannya dalam sebuah prosa.