Dibawah sinar rembulan sepasang kekasih remaja tengah berbaring di rerumputan empuk diatas Bukit Berkabut. Sebuah pohon rindang di jadikan sandaran mereka.
Hanya suara binatang binatang malam yang kala itu terdengar. Tiba-tiba saja angin berhembus pelan dan lama kelamaan semakin kencang. Bulan tertutup awan hitam yang bergulung-gulung. Malam itu sudah gelap tanpa cahaya sedikitpun.
"Bagaimana ini! Kita pulang saja?" Kata gadis yang bernama Azura.
"Iya aku kedinginan juga. Angin ini datangnya tak diundang!" Kata Velix.
Tiba-tiba ketika hendak bangkit dari duduknya. Sebuah angin yang berputar menyerupai tornado dengan cahaya petir dari langit mengejutkan mereka. Azura menggenggam erat tangan Velix dengan ketakutan. Suara misterius datang entah dari mana. "Aku mendapatkanmu Velix Hermosandria!" Kata suara parau dengan nada berat yang mengerikan.
"Siapa kau!" Mereka berdua celingukan dengan rasa ngeri. Tiba-tiba tornado dengan perlahan membentuk sebuah wajah makhluk. Dengan mulut yang erbuka wajah tornado itu menarik Azura ke dalam, Namun Velix masih sempat memegangi tangannya dan menarik keluar Azura. Keseimbangannya goyah! Velix tertarik dengan mudah oleh tornado itu. Masih sempat terdengar teriakan-teriakan dari kedua pasang kekasih itu. Saling meneriakkan nama satu sama lain.
----
Kini Azura tumbuh menjadi gadis cantik dengan yang masih mengenang Velix. Dibawah pohon yang sama, dimalam hari, hanya suara burung hantu yang sesekali menyapanya. Tanpa cahaya bulan , namun dengan kabut yang penuh di Bukit itu. Ia berusaha mengingat kenangan manisnya dengan Velix yang sekarang telah tiada ditelan tornado 5 tahun lalu.
Kejadian yang sama terjadi kembali. Tornado bergulung-gulung dengan angin kencang menggigilkan badannya dengan rasa takut. Ia mencengkram erat batang pohon dan bersembunyi di balik pohon itu. Kemudian ia mengingat semua kejadian yang menyebabkan kekasihnya itu tiada. Darahnya memanas, napasnya memburu. Tiba-tiba hatinya menjadi berani. Ia melangkah menghadap angin itu.
"Kau benar-benar sialan! Siapapun dirimu, kau telah merenggut Velix. Jika kau datang untuk merenggut orang lagi. Kuperhatikan kau agar pergi." Lantangnya membelah kensunyian angin yang berkobar-kobar.
"Kembalikan Velixku!" Ia mulai meneteskan air mata. Kedinginan malam itu juga telah terlupakan dari seluruh saraf badannya.
Suara misterius kembali terdengar oleh telinganya. Kali ini suaranya berbeda, Suara yang benar-benar ia rindukan datang menghampiri dengan tertegun ia mendengar suara itu.
"Velix! Dimana kau!" Ia mulai gelisah lagi. Angin kencang sedikit demi sedikit mulai mereda.
"Aku selalu ada di sampingmu Azura!" Kata suara itu.
Angin mulai mereda dengan tornado yang mulai menyusut dan membetuk sebuah wajah dan tubuh manusia secara utuh. Velix! Ya itulah Velix. Samar-samar sosok Velix mulai melangkah mendekati Azura yang masih tertegun. Dibelainya rambut yang juga ia rindukan.
"Azura, ini aku!" Kata Velix.
"Velix!" Dipeluknya Velix dengan erat. "Aku tiak percaya ini. Aku sangat merindukanmu!" Kata Azura.
"Akku juga sangat merindukanmu," kata Velix.
Mereka duduk di bawah pohon dengan berselimut kabut putih di sekeliling mereka. Tak ada cahaya bulan, tak ada suara binatang, hanya ada sebuah cinta yang kembali melayang di Bukit Berkabut itu.
Velix mencium kening Azura dan kembali bangkit. "Aku harus kembali ke duniaku yang sekarang," kata Velix.
"Apa maksudmu? Jangan tinggalkan aku lagi Velix!" Kata Azura dengan menangis.
"Percayalah aku tak akan pernah meninggalkannya! Aku selalu ada disekelilingmu." Katanya dengan suara mantap.
"Tidak,"
"Azura, ada satu hal yang belum kau mengerti. Aku ini adalah keturunan dewa kabut. Aku menjaga Bukit Berkabut dan desanya. Kali ini sudah giliranku untuk menggantikan ayahku." Jelasnya sambil memegangi pipi dan leher Azura.
Azura memeluknya dengan erat, kemudian angin kembali mengencang. Lama-lama pelukannya mengendur, Velix berubah kembali menjadi segumoalan tornado putih yang bercahaya. Dan kemudian hilang. Kabut putih masih menyelimuti bukit itu dan akan selalu.
"Aku akan mencintaimu seumur hidupku Velix. Terimakasih untuk selalu ada disekelilingku," kata Azura yang seakan membelai angin di sekelilingnya.