Setiap aku keluar dari rumahku, aku akan selalu berpapasan langsung dengan lautan. Ya, rumahku terletak di pinggir lautan. Aku tidak tinggal sendiri di Pulau ini, aku tinggal bersama dengan anjing kesayanganku,Akamaru. dan seekor kuda yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Inilah aku "Yuna mou" sang penjaga hati lautan.
Di Lautan yang luas ini, terdapat banyak harta yang tersimpan. Entah itu emas,berlian,Bahkan hati lautan sekalipun. Ngomong ngomong soal Hati lautan, sebenarnya aku adalah penjaga hati lautan tersebut. Entah mengapa lautan mempercayaiku untuk menjaga hati lautan. Aku mendapatkan hati lautan ini saat aku sedang menggali pasir untuk tempat tinggalku. Tanpa disengaja aku menemukan sebuah peti harta karun, dan aku membukanya. Aku mendapati hati lautan di dalam peti itu. Aku jelas akan mengambil hati lautan tersebut karena di dalam peti itu ada sebuah surat yang mengatakan bahwa akulah orang selanjutnya yang dipilih untuk menjaga hati lautan.Aku pun membawanya pulang kerumah tanpa banyak basa basi, karna aku takut jika tiba tiba ada mobs yang menyerangku untuk mengambil hati lautan itu. Aku menaruh hati lautan itu di dalam Tong kamar tidurku.
Hingga suatu hari aku mendapati ada sekelompok penjarah yang hendak menyerbu rumahku untuk mengambil hati lautan itu. Entah darimana mereka bisa tau kalau aku mempunyai hati lautan. Aku tidak dapat memberontak, aku hanya bisa pasrah kepada keadaan karena walaupun aku melawan sekalipun aku pasti tetap kalah. Apalagi penjarah itu datang beramai ramai sedangkan aku hanya berdua dengan anjing peliharaanku. Para penjarah itu mengambil hati lautan.
Aku gagal melindungi lautan dan pulau ini. Lautan dan pulau kehilangan jiwanya. Lautan yang biasanya ku lihat sangat segar, sekarang tampak sayup. Ikan yang biasanya berenang kesana kemari sudah hilang entah kemana. Lumba lumba yang setiap pagi membangunkan ku juga pergi. Aku sudah cukup muak dengan semua perubahan yang terjadi di pulau ini. Aku memutuskan untuk merebut kembali hati lautan itu dari para penjarah. Aku menyiapkan tas yang kuisi makanan dan alat untuk berperang. Aku juga mengajak Akamaru untuk pergi bersamaku merebut hati lautan.
Di pagi harinya, aku dan Akamaru berangkat dengan berjalan kaki, karna aku takut jika aku membawa kudaku hanya akan merepotkanku. Beberapa hari sudah kulalui untuk mencari markas penjarah, dan beruntungnya aku di hari ini aku bertemu dengan sekelompok penjarah. Aku mengikuti mereka dan aku pun sampai di markas mereka. Setelah selesai mengamati markas Para penjarah itu, aku bergegas menjauh dari markas mereka dan aku mulai mengatur rencana dan strategi untuk mengambil Kembali hari lautan itu.
Setelah mengatur rencana dan strategi selama beberapa hari, aku pun siap dengan semuanya. Aku bersama Akamaru berangkat pergi ke markas para penjarah itu. Beberapa menit kemudian, kami sampai dan kami disambut oleh beberapa penjarah. Aku dan akamaru-pun memulai aksiku. 1 jam setelah perlawanan yang sengit terhadap penjarah, akhirnya aku menemukan Hati Lautan tergeletak di samping patung. Aku mengambil hati lautan itu dan bergegas pergi menjauh dari markas penjarah. Saat dalam perjalanan melarikan diri, ada beberapa penjarah yang berhasil mengepung aku dan akamaru. Aku sempat bingung harus berbuat apa. Tetapi, Akamaru menarik bajuku dan mendorong ku ke sungai yang deras, seolah olah ia menyuruhku untuk melarikan diri tanpanya. Akamaru menggonggong dan melakukan perlawanan terhadap penjarah. Sedangkan aku masih berusaha untuk kembali menyelamatkan akamaru. Tapi takdir berkata lain, saat aku berhasil tiba di tempat awal, aku mendapati akamaru sudah tergeletak bersimpah darah. Benar saja, Akamaru sudah mati. Aku menyalahkan diriku sendiri karena kelalaian ku dalam menjaga Akamaru. Aku membawa jasad Akamaru pulang untuk ku makamkan. Tibalah aku di rumah yang sudah lama kutinggalkan. Aku menangis sejadi jadinya karena kepergian Akamaru. Aku memakamkan jasadnya di samping rumahku. Aku sangat berterimakasih kepada Akamaru karena sudah menjaga dan menemaniku selama ini. Tidak ada anjing yang bisa menggantikan Akamaru dan juga tidak ada anjing yang sehebat Akamaru.
Setelah beberapa hari sejak kepergian Akamaru, Lau dan Pulau sudah semakin membaik. Pohon semakin hijau, Tanah semakin subur, Ikan ikan semakin banyak, dan binatang binatang lainnya yang hidup di pulau ini juga bertumbuh dengan sehatnya. Aku pun begitu, aku menjalani hari hariku seperti biasanya walau tanpa Akamaru. Dan Epilog Cerita ini...