"Mama jangan tinggalkan aku hikssss"tangisku pecah seketika dokter mengatakan mamaku sudah menghembuskan nafas terakhirnya duniaku hancur seketika.
"Mama bangun"kugoyangkan tubuh kaku mamaku dengan kuat berharap beliau bangun namun harapan tinggallah harapan.
"Maa bagaimana bisa aku akan hidup tanpa mama"teriakku disamping mamaku.
"Mama tidak..tolong tuhan kembalikan mamaku aku masih sangat membutuhkannya tolong... hiksss"kaki terasa lemas tak bertulang aku luruh di lantai rumah sakit.
"Yang sabar sayang.. allah lebih menyanyangi mama yang iklas agar mama baik baik disurganya allah oke"ucap nenekku memelukku aku yakin juga sama sedihnya sepertiku.
Aku masih terus terisak dipelukan nenek sedangkan kakek mengurus kepulang jenazah mama kerumah. Kupandangi ayahku beliau sangat terpukul dengan kajadian ini,ia mencoba menenangkan adikku yang terus meminta di gendong pada mama, sedangkan mama sudah tidak bisa lagi bangun untuk selamanya.
Setelah semuanya siap jenazah mama dipulangkan kerumah aku tak sanggup menahan badanku sendiri semakin kutahan semakin sesak pandanganku kabur dan semuanya gelap.
Sayup sayup kudengar isak tangis dari luar kamar pelan pelan bangkit menapkkan kaki di atas lantai melangkah perlahan menyibabkan horden kain yang menjadi tirai sebagai pintu kamarku.
Tidak ini terlalu nyata untuk dibilang mimpi aku mencubit tangan kecilku ternyata sakit. Mama hiksss aku masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan ini.
"Mama bangun mah, kakak janji gak akan nakal lagi mah kaka akan rajin mah,, bangun jangan tinggali aku mah tolong kasihani lah aku mah" aku berteriak berlari menuju ruang tengah dimana telah banyak sanak saudara yg mengelilingi jasad mamaku.aku terduduk disamping jasad mamaku manatap sembari terisak...
Huuuuuu duluu kalau aku sedih tangan mama selalu terulur menghapus air mataku dan sekarang tangan itu telah terbujur kaku.
Ma bagaimana bisa ku hadapi dunia tanpa mama.siapa yang akan melindungi kami siapa yang memeluk kami,tanganku terlalu kecil apa yang mampu dilakukan tangan kecilku ini mama.
Air mataku mengalir deras melihat adikku yang terus menangis tanpa bisa dihentikan,bagaimana bisa mah,mama meninggalkan anak sekecil adik??
Setelah proses pemakaman berlalu tinggal kami sendiri dirumah dimana sanak saudara perlahan meninggalkan rumah kami kembali kerumah masing masing.
"Nak tante pulang dulu,, nanti sore tante kembali"ucap tanteku mengelus rambutku.
Aku masuk kedalam rumah kulihat ayahku menangis tanpa isakan dipojok rumah sedangkan adikku sudah tertidur entah karena terlalu capek menangis,ku tatap adik kecilku.apakah bisa aku merawatnya sedangkan aku juga masih terlalu kecil,dadaku sesak tuhan.
Seminggu berlalu makin terasa sakitnya kehilangan,yang mana adik sakit karena merindukan mama,ayahku yang seperti kehilangan arah kebanyakan melamun sepanjang hari.aku harus bagaimana kupandangi tangan kecilku ini,apa yang harus kuperbuat tuhan hikssss....
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan, begitulah waktu cepat berlalu dan cobaan semakin banyak yang kami lalui.
Dari sulitnya mendapat bahan makan karena ayah harus mengasuh adik yang masih berusia 4 tahun.jika ayah pergi mencari makan bagaimana dengan adik aku belum cukup kuat untuk merawat sedangkan aku masih berusia 7 tahun.
Seiring berjalannya waktu aku bisa mengasuh adik tapi harus bersekolah,bagaimana bisa aku membawa adik kesekolah sedangkan sekolah jaraknya sangat jauh. Aku titipkan adikku pada tanteku 1 minggu sampai 2 minggu masih nyaman tapi setelah itu adikku sudah gak mau tinggal disana katanya suka dibentak,suka dimaki,kasihan adikku.aku putuskan untuk tidak bersekolah mengasuh adikku saja dirumah.
Kami sering menahan lapar karena tidak adanya bahan makanan yang mau dimakan,minta makan dirumah sodara sering dikatain kucing minta makan bekas,miris sungguh miris hidupku.
'Tuhan apa salah kami sehinggah kehidupan tidak berpihak padaku dan adikku,tetlalu berat sedangkan bahuku teramat kecil untuk menanggung.jalan yang kau gariskan telalu berat tuhan'keluhku menyalahkan nasibku. Banyak saudara tapi tak satupun yang sudi mengulurkan tangannya untuk memberi kami kehangatan sedikit saja,tidak perlu banyak aku tak seserakah itu cukup untuk adikku saja hiksss.
Melihat teman sebayaku kesana kesini tertawa senang gembira bermain.tuhan salahkah jika aku iri kepada mereka?
Disaat teman seusiaku bermain tanpa beban sedangkan aku, beban yang kutanggung bahkan tak dapat ku pikul tak ada yang membantu meringankan bebanku.
Kutatap adikku yang tertidur dipelukanku"tidurlah adikku dengan tenang jika kau bangun beban hidup menunggumu"isakku mengelus kepala adikku.
Ayahku tiap pagi pergi kehutan dan pulang sore hari selalu seperti itu setiap harinya.aku yang bertugas mengasuh adik jika siang hari dan ayah malam hari,adikku tidak terlalu rewel mungkin mengerti dengan keadaan.
Apapun itu yang bisa dimakan kami makan entah itu ubi kayu,ubi hutan dan pisang. Nasi jarang karena perekonomian kami sulit.
Hingga hampir 2 tahun berlalu datanglah nenek merawat kami dialah penggati mama untuk kami perlahan lahan hidup kami membaik,adikki mendapatkan kasi sayang meski tak sama dengan mama tapi itu sudah lebih dari cukup.ayahku disela mencari uang dihutan beliau juga membuka kebun untuk menanami segala macam tanaman dari padi hingga sayur sayuran.aku dapat bersekolah dan adik terjaga dengan aman,,,
Lovee adikku sayang sampai kapanpun kenagan itu tak akan pernah kulupakan loviyu😘😘😘
Selesai....