Namaku Raka Maheswara, mahasiswa yang paling tampan di kampusku sehingga banyak sekali mahasiswi yang mengejar-ngejar diriku bahkan tak jarang mereka dengan sukarela menawarkan tubuhnya untuk aku tiduri.
"Hai love. Sudah terima bunga dari ku?"
"Hai kak, ini cokelat untuk kakak, terima ya"
"Raka, aku menyukaimu. mau ya jadi pacarku? Please!"
itulah ungkapan-ungkapan dari para gadis untukku, tetapi aku mengabaikan semua itu karena menurutku mereka bukan tipe ku.
Siang itu, temanku yang bernama Ryan, menawariku sebuah tantangan gila.
"Laptop gaming terbaru untuk loe, tapi loe harus lakuin sesuatu!" Ucap Ryan.
"Apaaan?" Tanyaku.
"loe bisa dapetin laptop gaming ini kalau loe berhasil macarin si Lisa dalam waktu enam bulan" Jawab Ryan.
"Gile loe ndro! Gue harus macarin cewek culun itu. Ogah gue" Tolaku dengan keras.
Sebenarnya aku bisa beli laptop gaming itu karena aku juga berasal dari keluarga kaya. Tetapi tantangan yang Ryan berikan cukup menarik.
"Oke, gue bakal pacarin tuh cewek culun" Jawabku.
Di tengah lapang, aku beranikan diri menyatakan cinta pada Lisa. Walaupun awalnya ia menolak, tetapi rayuan mautku membuat ia luluh dan menerima cintaku.
"kakak yakin?" Tanya Lisa.
Gadis berkacamata itu ragu pada tindakanku.
"Yakin! aku mencintaimu Lisa. Jangan tolak aku please" Aku memohon seperti orang bodoh.
Aku pun langsung memeluk dan menciumnya. Aku merasakan bibirnya sangat lembut dan manis. Dan aku juga merasakan bahwa Lisa membalas ciumanku sangat kaku.
"Kak, kakak lah yang sudah mencuri ciuman pertamaku" Ucapnya lirih.
"Hebat dong aku! Awas ya kamu jangan genit dan satu lagi kamu harus mau di suruh apapun olehku" Ucapku dengan nada mengancam.
Lisa hanya mengangguk saja. Aku senang karena aku sebentar lagi akan memenangkan tantangan itu. jika aku sudah dapat laptot gaming dari Ryan, maka aku akan menghempaskan si culun Lisa dari hidupku.
Hari-hari berganti, dengan sabar Lisa terus ada disaat aku butuh sesuatu.
"Lisa, ambilkan aku air" Perintahku.
"Iya kak" Lisa hanya menurut saja.
Lisa tak seperti kekasih pada umumnya. aku menjadikan Lisa seperti asisten pribadiku saja.
Lisa sangat menyayangiku. Dia tidak tahu jika aku hanya menjadikan kekasih taruhan saja.
Hingga enam bulan lamanya, aku bahkan tak sadar sudah mencintai Lisa. Lisa dengan sabar menghadapiku yang kadang suka memarahi dirinya di depan orang-orang.
"Selamat broo, loe sudah menyelesaikan tantangan dari gue. Ini laptop gaming loe. Tapi si Lisa mau loe kemanain?" Tanya Ryan.
"Gue putusin lah. Siapa juga yang mau punya pacar culun kaya dia. Gue suruh-suruh juga mau aja tuh cewek..Amit-amit deh punya cewek model dia. Boro-boro manusia, orang-orangan sawah juga mikir lagi buat jadiin dia pacar.. Hahahaha" Ucapku merasa puas
Aku tak sadar bahwa Lisa sudah mendengar semua percakapanku. Dia menangis dan menghampiriku.
"Jadi kakak sudah menipuku? Kakak tega sekali mempermainkan perasaan orang lain hanya karena laptop murahan ini? Apa kakak semiskin itu ingin laptop sampai menyakiti perasaan ku?" Lisa Berkata sembari bercucuran air mata kecewa.
Demi tuhan perasaanku ikut teriris sakit. Kenapa aku tidak bisa berpikir sejauh itu. Aku melihat dari wajah Lisa sudah menampakan kesakitan luar biasa atas tindakanku dan Ryan.
Lisa melangkah mendekat pada Ryan dengan emosi yang tinggi. Gadis penyabar ini seketika menjadi singa yang buas saat marah.
Plakkkk!! Lisa dengan kerasnya menampar wajah Ryan sampai yang di tampar diam melongo.
"Apa kau mengenalku sebelumnya, hah? Apa kau punya masalah denganku sampai kau menyuruh pria pengecut ini memacariku? Jawab aku bodoh" Lisa berkata dengan dada yang kembang kempis.
"Maafkan aku!" Hanya itu yang keluar dari mulut Ryan.
Brughhhh!! Seketika Ryan ambruk kala satu tendangan mendarat di perutnya.
Aku mengira bahwa Lisa hanyalah wanita culun dan cengeng, tanpa aku ketahui bahwa Lisa seorang pemegang sabuk hitam bela diri karate.
"Dan kamu, sampai kapanpun aku akan membencimu. Menyesal aku sudah mencintai pria sepertimu. Menyesal pula, aku sudah mau di bodohi olehmu. Kita putus"
Lisa meraih laptop gaming yang baru di berikan oleh Ryan padaku. lisa membanting lalu menginjak laptop itu sampai hancur.
"Lis, dengarkan aku dulu. Maaf soal itu, tapi aku sungguh sudah mencintaimu. lis, aku mohon kita bersama lagi ya. Aku awalnya memang ingin menjawab tantangan dari Ryan untuk memacarimu, tetapi kini, aku sungguh mencintaimu"
Aku bersimpuh di kaki Lisa agar gadis itu memaafkanku. Tapi Lisa sudah sangat kecewa padaku. Ia pergi sembari mengusap air matanya.
Berkali-kali, aku coba membujuknya sampai mendatangi rumahnya. tetapi Lisa selalu menghindariku. Dan aku baru tahu jika selama ini Lisa tinggal seorang diri di rumahnya karena kedua orang tuanya sudah meninggal.
Aku merasa sungguh sangat bersalah. Aku sudah menyakiti anak yatim sekaligus wanita yang sangat aku cintai.
Hingga suatu ketika, aku melihat Lisa pergi sembari membawa koper dan tas nya.
Aku pun menghampirinya.
"lis, mau kemana membawa barang sebanyak ini?" Tanyaku sembari memegang tangannya.
"Pindah kuliah. Aku sudah muak harus bertemu pria munafik setiap hari.
Tak bisa di cegah, Lisa pun pergi membawa luka yang aku berikan padanya. Aku menyesal sungguh. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku akan me cintai Lisa sepenuh hati.
" Lisa, cintaku audah kau bawa pergi. Kemana aku harus mengusulmu"
Jiwaku merasa hampa tanpa kehadiran Lisa..