Namaku, Anne Elizabeth.
Aku tidak pernah menyangka bahwa pernikahan hasil perjodohan akan menciptakan kesakitan dan penyesalan luar biasa dalam hidupku.
Aku tak menyangka bahwa aku akan hidup dengan seorang pria yang sifatnya seperti monster.
"Aku benci setiap inci dari tubuhmu. busuk sekali" Mas Ralf sudah memakiku hari ini yang ke lima kali.
"Mas, bisakah kau sedikit lembut padaku? Kau mengasariku, tetapi kau juga meniduriku" Balasku tak terima dengan makian yang harus setiap hari ku telan.
Rumahtanggaku bersama suamiku yang bernama Ralf Ekatama yang baru seumur jagung itu harus ku habiskan dengan cucuran air mata.
Aku yang awalnya seorang istri yang tulus dan lemah lembut, tak berani pada suamiku, karena aku tahu bahwa aku harus hormat padanya walau balasannya hanya kepiluan.
"Baru pulang Mas? Ayo kiya makan malam. Aku sudah memasak sop buntut kesukaanmu" Aku dengan lembut berkata sembari meraih tangannya. Tetapi suamiku dengan kasar menghemlaskannya.
"Dari mulai malam ini, aku jadi benci pada sop buntut" Ucapnya sembari berjalan menjauhiku.
Oke, aku harus tegar. Tetapi aku juga manusia punya rasa.
Malam itu, kesabaran dan keikhlasan serta rasa cintaku hancur pada Mas Ralf manakala dia tahu aku sedang mengandung anaknya. Dengan brutal ia menyiksaku. Wajahku di tampar, rambutku di jambak dan perutku di tendang hingga rembesan darah segar mengalir dari intiku ke pahaku.
"mas, sakit. Sudah cukup ma" Suara mi ta ampunku padanya.
Tak ada rasa ibu, melainkan rasa benci dan puas melihat aku dan anak yang ku kandung kesakitan.
"Aku tidak akan pernah sudi mempunyai anak dari wanita iblis sepertimu. Hati dan jiwa ragaku hanya untuk Lauren. Gara-gara kau, Lauren dan aku tidak bisa menikah" Geramnya lalu pergi meninggalkanku dan tak memperdulikan rintihan dan jeritanku.
Di tempat lain, suamiku di kejutkan dengan aksi dua manusia tidak terpuji yang sedang menyelami kabut gairah bersama. Suamiku mematung menyaksikan penghianatan yang Lauren tercintanya lakukan bersama selingkuhannya.
"Love, kapan kau meningalkan si Ralf bodoh itu?" Tanya Antonio.
"Kau sabar lah dulu byy, aku akan kuras hartanya dulu" Jawab Lauren sembari meracau.
Keduanya lalu melihat suamiku dengan tatapan terkejut. Suamimu membabi buta memukuli dua insan yang masih tak berbusana itu.
Sementara aku sudah tak mempunyai harapan lagi. Anak yang ku inginkan kini telah mati dan yang lebih sedihnya, ayahnyalah yang sudah membunuhnya.
"Nak, ada baiknya kau tidak lahir ke dunia yang kejam dan penuh kemunafikan"
Rasa benci pada suamiku juga semakin membukit.
Mas Ralf datang ke ruang rawatku dengan membawa penyesalan yang amat besar. tapi untuk apa semua itu? Penyesalan tidak akan bisa lagi mengembalikan anakku.
"Anne, maafkan aku" Ia menangis di hadapanku dan sayangnya aku tak peduli.
"Ayo kita bercerai!" Ucapku membuat ia ternganga.
"Tidak Anne. Berikan aku kesempatan untuk menenbus kesalahanku" Ucapnya memohon.
"Dengan apa kau bisa menebusnya?" Tanyaku.
Ia hanya diam.
Sebulan setelah kejadian itu, aku semakin dingin padanya. Seribu kali ku meminta cerai, seribu kali pun ia menolaknya.
"Anne, tolong jangan hukum aku seperti ini. Jangan diamkan aku, janvan siksa aku. Kau boleh melulaiku dengan senjata apapun, tetapi tolong jangan diamkan aku" Ia bersujud di kakiku.
"Singkirkan tangan busukmu, mas. Menjijikan" Aku berlalu meninggalkannya.
Aku sudah tidak ingin lagi bermurah padanya. Rasa sakit yang ia torehkan padaku begitu dalam, bahkan dalamnya samudera sekaligus tak bisa menandinginya...
Cerpen pertamaku. ceritanya ingin aku angkat pada novelku nanti......