Ethan menatap puing-puing yang berserakan di sekitarnya. Dia melihat bangunan-bangunan yang hancur, kendaraan-kendaraan yang rusak, dan mayat-mayat yang membusuk. Dia mencium bau asap, darah, dan kematian. Dia mendengar suara-suara ledakan, tembakan, dan jeritan.
Ethan merasakan sakit yang menusuk di dadanya. Dia telah kehilangan segalanya dalam perang yang tak berkesudahan ini. Dia telah kehilangan keluarganya, rumahnya, dan masa depannya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau kemana dia harus pergi.
Ethan berjalan tanpa tujuan di antara puing-puing itu. Dia mencari sesuatu yang bisa memberinya sedikit harapan atau kebahagiaan. Tetapi, dia tidak menemukan apa-apa selain kesedihan dan keputusasaan.
Sampai suatu hari, dia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Di teras sebuah rumah yang hancur, dia melihat sebuah piano yang terabaikan. Piano itu berwarna hitam dan berdebu. Beberapa tutsnya pecah atau hilang. Namun, piano itu masih utuh dan bisa dimainkan.
Ethan merasa heran melihat piano itu. Dia bertanya-tanya siapa yang meninggalkan piano itu di sana. Apakah pemiliknya sudah mati atau lari? Apakah mereka masih mencintai musik atau sudah menyerah?
Ethan juga merasa penasaran dengan piano itu. Dia ingat bahwa dia pernah belajar bermain piano saat masih kecil. Ibunya adalah seorang guru musik yang mengajarkannya berbagai macam alat musik. Piano adalah salah satu alat musik favoritnya.
Ethan pun mendekati piano itu dengan hati-hati. Dia menyentuh tuts-tutsnya dengan lembut dan mencoba memainkannya. Dia terkejut saat mendengar suara piano itu masih jelas dan merdu.
Ethan merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia merasakan semacam getaran yang mengalir dari jari-jarinya ke seluruh tubuhnya. Dia merasakan semacam kehangatan yang memenuhi hatinya.
Ethan pun mulai bermain piano itu dengan lebih serius. Dia memainkan lagu-lagu yang dia ingat dari masa kecilnya. Lagu-lagu yang ibunya ajarkan kepadanya. Lagu-lagu yang penuh dengan cinta, harapan, dan mimpi.
Ethan merasa seperti sedang berada di dunia lain saat bermain piano itu. Dunia yang damai dan indah. Dunia di mana tidak ada perang, penderitaan, atau kematian.
Ethan tidak menyadari bahwa ada orang-orang yang mendengarkan musiknya dari jauh. Orang-orang yang juga hidup di kota yang hancur ini. Orang-orang yang juga mencari sedikit harapan atau kebahagiaan.
Orang-orang itu terpesona oleh melodi yang indah itu. Mereka merasakan sesuatu yang sama seperti Ethan saat mendengarkan musiknya. Mereka merasakan sesuatu yang jarang mereka rasakan di kota ini: ketenangan, kelegaan, dan kegembiraan.
Orang-orang itu pun mulai mendekati Ethan dan piano itu dengan perlahan-lahan. Mereka ingin melihat siapa pemain piano itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Mereka ingin berbagi perasaan mereka dengan pemain piano itu dan orang-orang lain yang mendengarkan musiknya.
Mereka tidak menyadari bahwa ada kelompok lain yang juga mendengarkan musik Ethan dari jauh. Kelompok yang berbeda dari mereka.
Kelompok pemberontak.
Kelompok pemberontak adalah kelompok orang-orang yang tidak puas dengan keadaan kota yang hancur ini. Mereka merasa bahwa pemerintah telah gagal dalam melindungi dan memimpin rakyatnya. Mereka juga merasa bahwa perang ini tidak ada gunanya dan hanya membawa kerugian.
Kelompok pemberontak ini memiliki visi untuk membangun kembali kota ini menjadi tempat yang lebih baik dan sejahtera. Mereka ingin menghapus jejak-jejak perang dan menggantinya dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat. Mereka ingin menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan produktif.
Untuk mewujudkan visi mereka, kelompok pemberontak ini melakukan berbagai aksi. Mereka menyerang pasukan-pasukan musuh yang masih beroperasi di kota ini. Mereka merampas senjata-senjata, kendaraan-kendaraan, dan sumber daya-sumber daya yang mereka temukan. Mereka juga merekrut orang-orang yang bersedia bergabung dengan mereka.
Kelompok pemberontak ini dipimpin oleh seorang pemuda bernama Leo. Leo adalah seorang pemimpin yang karismatik dan berani. Dia memiliki kemampuan bertarung yang hebat dan strategi yang cerdas. Dia juga memiliki semangat yang tinggi dan idealisme yang kuat.
Leo adalah salah satu orang yang mendengar musik Ethan dari jauh. Dia bersama dengan beberapa anggota kelompoknya sedang berpatroli di sekitar kota. Mereka mencari target-target potensial untuk diserang atau dirampas.
Saat mendengar musik Ethan, Leo merasa kesal dan marah. Dia menganggap musik itu sebagai sesuatu yang tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu. Dia merasa bahwa musik itu tidak sesuai dengan situasi kota yang hancur ini. Dia merasa bahwa musik itu hanya membuat orang-orang menjadi lemah dan lalai.
Leo pun memerintahkan anggota-anggota kelompoknya untuk menghentikan musik itu. Dia ingin menghancurkan piano itu dan menegur pemain piano itu. Dia ingin memberitahu pemain piano itu bahwa dia harus berhenti bermain musik dan bergabung dengan kelompok pemberontak untuk membangun kembali kota ini.
Leo dan anggota-anggota kelompoknya pun menuju ke arah sumber musik itu dengan cepat. Mereka membawa senjata-senjata mereka dan siap untuk bertindak.
Mereka tidak menyadari bahwa ada orang-orang lain yang juga menuju ke arah sumber musik itu dengan lambat. Orang-orang yang berbeda dari mereka.
Orang-orang pendengar musik.
Ethan terus bermain piano dengan asyiknya. Dia tidak menyadari bahwa ada orang-orang yang mendekatinya dari dua arah yang berbeda. Dia hanya fokus pada musik yang dia ciptakan.
Sampai suatu saat, dia mendengar suara-suara yang mengganggu konsentrasinya. Dia mendengar suara langkah kaki, bisikan-bisikan, dan desahan-desahan. Dia juga mendengar suara senjata yang dikokang, pelatuk yang ditekan, dan peluru yang ditembakkan.
Ethan pun berhenti bermain piano dan menoleh ke samping. Dia terkejut saat melihat dua kelompok orang-orang yang saling berhadapan di depannya. Satu kelompok adalah orang-orang yang tampak ramah dan bersahabat. Mereka mengenakan pakaian-pakaian biasa dan membawa barang-barang sederhana. Mereka tampak senang dan terharu mendengar musik Ethan.
Kelompok lain adalah orang-orang yang tampak marah dan bermusuhan. Mereka mengenakan pakaian-pakaian militer dan membawa senjata-senjata berat. Mereka tampak kesal dan terganggu mendengar musik Ethan.
Ethan tidak tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan darinya. Dia merasa bingung dan ketakutan.
"Siapa kau?" tanya Leo, pemimpin kelompok pemberontak, dengan nada tegas dan dingin.
"Aku... aku Ethan," jawab Ethan dengan gugup.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Leo lagi.
"Aku... aku hanya bermain piano," jawab Ethan.
"Bermain piano? Di tengah kota yang hancur ini? Apa kau gila?" Leo mengejek dengan sinis.
"Jangan begitu, Leo. Dia hanya seorang anak yang mencari sedikit kebahagiaan," ujar seorang wanita dari kelompok pendengar musik, dengan nada lembut dan hangat.
"Kebahagiaan? Apa gunanya kebahagiaan di kota ini? Kita harus berjuang untuk bertahan hidup, bukan untuk bersenang-senang," Leo menimpali dengan keras.
"Kau salah, Leo. Kebahagiaan itu penting untuk bertahan hidup. Kebahagiaan itu memberi kita harapan dan semangat untuk terus hidup," wanita itu membantah dengan tegas.
"Harapan? Semangat? Apa artinya itu di kota ini? Kita harus realistis dan pragmatis. Kita harus memanfaatkan apa yang ada di sini untuk membangun kembali kota ini," Leo mengatakan dengan yakin.
"Membangun kembali kota ini? Dengan cara apa? Dengan merampas dan membunuh orang-orang lain? Dengan menghancurkan apa yang tersisa dari kota ini?" wanita itu menantang dengan marah.
"Kau tidak mengerti, wanita. Kita harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan kita. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu," Leo menjelaskan dengan sabar.
"Kau tidak benar, Leo. Kau hanya membuat situasi menjadi lebih buruk dengan cara kau. Kau hanya menambah penderitaan dan kekerasan di kota ini," wanita itu menuduh dengan sedih.
Perdebatan antara Leo dan wanita itu semakin panas. Mereka saling melemparkan argumen-argumen yang bertentangan satu sama lain. Mereka tidak mau mendengarkan atau mengerti sudut pandang lawan bicaranya.
Ethan hanya diam saja saat menyaksikan perdebatan itu. Dia tidak tahu harus berkata apa atau berbuat apa. Dia merasa bahwa kedua kelompok itu memiliki alasan-alasan mereka masing-masing. Tetapi, dia juga merasa bahwa kedua kelompok itu salah dalam cara mereka menyampaikan alasan-alasan mereka.
Ethan pun mulai berpikir tentang musiknya. Dia berpikir tentang apa yang dia rasakan saat bermain piano. Dia berpikir tentang apa yang dia ingin sampaikan melalui musiknya.
Ethan pun mendapatkan sebuah ide. Ide yang mungkin bisa menyelesaikan konflik di depannya.
Ethan pun kembali bermain piano. Tetapi, kali ini, dia tidak memainkan lagu-lagu yang dia ingat dari masa kecilnya. Dia memainkan lagu-lagu yang dia ciptakan sendiri. Lagu-lagu yang menggambarkan perasaan dan pikiran Ethan saat ini.
Lagu-lagu yang menggambarkan kekuatan musik.
Musik Ethan mengalun dengan lembut dan indah. Musik itu mengisi udara dengan nada-nada yang harmonis dan menyentuh. Musik itu menembus hati dan pikiran orang-orang yang mendengarnya.
Orang-orang yang berada di depan Ethan terdiam saat mendengar musiknya. Mereka lupa dengan perdebatan dan perselisihan mereka. Mereka hanya fokus pada musik yang mengalir dari piano itu.
Musik Ethan menggambarkan berbagai macam perasaan dan pikiran yang dia rasakan saat ini. Musik itu menggambarkan kesedihan dan kehilangan yang dia alami akibat perang. Musik itu juga menggambarkan keberanian dan ketabahan yang dia tunjukkan untuk terus hidup. Musik itu juga menggambarkan harapan dan mimpi yang dia miliki untuk masa depan yang lebih baik.
Musik Ethan juga menggambarkan pesan-pesan yang dia ingin sampaikan kepada orang-orang di depannya. Musik itu menggambarkan bahwa musik adalah sesuatu yang berharga dan bermanfaat. Musik itu menggambarkan bahwa musik bisa memberi kebahagiaan dan ketenangan kepada orang-orang yang mendengarnya. Musik itu juga menggambarkan bahwa musik bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan orang-orang yang berbeda.
Orang-orang yang mendengar musik Ethan merasakan sesuatu yang berubah di dalam diri mereka. Mereka merasakan sesuatu yang menyentuh jiwa mereka. Mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka berpikir ulang tentang pandangan dan sikap mereka.
Orang-orang dari kelompok pendengar musik mulai merasakan rasa hormat dan pengertian terhadap kelompok pemberontak. Mereka mulai menyadari bahwa kelompok pemberontak juga memiliki alasan-alasan mereka sendiri untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Mereka mulai menyadari bahwa kelompok pemberontak juga memiliki visi dan tujuan yang baik untuk kota ini.
Orang-orang dari kelompok pemberontak mulai merasakan rasa kagum dan terpesona terhadap kelompok pendengar musik. Mereka mulai menyadari bahwa kelompok pendengar musik juga memiliki perasaan-perasaan mereka sendiri untuk menikmati apa yang mereka nikmati. Mereka mulai menyadari bahwa kelompok pendengar musik juga memiliki kekuatan dan semangat yang luar biasa untuk hidup di kota ini.
Orang-orang dari kedua kelompok mulai merasakan rasa simpati dan empati terhadap Ethan. Mereka mulai menyadari bahwa Ethan adalah seorang anak yang luar biasa dan berbakat. Mereka mulai menyadari bahwa Ethan adalah seorang anak yang memiliki harapan dan mimpi yang besar untuk kota ini.
Orang-orang dari kedua kelompok pun mulai saling mendekati dengan hati-hati. Mereka mulai saling bertatap muka dengan mata yang bersinar. Mereka mulai saling tersenyum dengan bibir yang lembut.
Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai musuh atau lawan. Mereka melihat satu sama lain sebagai teman atau saudara.
Mereka tidak lagi ingin bertengkar atau berperang. Mereka ingin berdamai atau bekerja sama.
Mereka tidak lagi ingin menghancurkan atau merampas. Mereka ingin membangun atau berbagi.
Mereka tidak lagi ingin hidup dalam kebencian atau ketakutan. Mereka ingin hidup dalam cinta atau kepercayaan.
Mereka tidak lagi ingin hidup dalam kegelapan atau kesunyian. Mereka ingin hidup dalam cahaya atau harmoni.
Harmoni musik.
Setelah mendengar musik Ethan, orang-orang dari kedua kelompok merasa terhubung satu sama lain. Mereka merasa bahwa mereka memiliki sesuatu yang sama: kecintaan terhadap musik. Mereka juga merasa bahwa mereka memiliki sesuatu yang berbeda: visi dan tujuan terhadap kota ini.
Mereka pun mulai berbicara satu sama lain dengan sopan dan hormat. Mereka saling mendengarkan dan mengerti pandangan dan sikap lawan bicaranya. Mereka saling berbagi pengalaman dan cerita mereka selama hidup di kota ini.
Mereka pun mulai menyadari bahwa mereka bisa saling belajar dan saling membantu. Mereka menyadari bahwa mereka bisa menggabungkan kekuatan dan kelebihan mereka untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. Mereka menyadari bahwa mereka bisa menciptakan harmoni di antara kehancuran.
Mereka pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di kota ini. Mereka memutuskan untuk mengadakan sebuah konser di kota yang hancur ini. Konser yang akan menampilkan musik Ethan dan musik-musik lain yang dibuat oleh orang-orang dari kedua kelompok.
Mereka pun mulai bekerja sama untuk mempersiapkan konser itu. Mereka menggunakan sumber daya dan alat-alat yang mereka miliki untuk membuat panggung, sound system, pencahayaan, dan dekorasi. Mereka juga menggunakan bakat dan kreativitas mereka untuk membuat lagu-lagu, aransemen, dan koreografi.
Mereka juga mengundang orang-orang lain yang masih tinggal di kota ini untuk hadir dalam konser itu. Mereka menyebar kabar tentang konser itu dengan cara-cara yang mereka bisa. Mereka juga menjanjikan bahwa konser itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa dan mengesankan.
Konser itu pun dijadwalkan pada malam hari saat bulan purnama bersinar terang. Orang-orang dari seluruh penjuru kota berdatangan ke tempat konser itu dengan rasa penasaran dan harap. Mereka ingin melihat apa yang akan ditampilkan oleh orang-orang yang mengadakan konser itu.
Konser itu pun dimulai dengan pembukaan yang spektakuler. Ethan berdiri di tengah panggung dengan piano hitamnya yang terabaikan. Dia memainkan lagu pertamanya yang dia ciptakan sendiri. Lagu yang menggambarkan kekuatan musik.
Orang-orang yang mendengar lagu itu terpesona oleh melodi yang indah itu. Mereka merasakan sesuatu yang menyentuh jiwa mereka. Mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka berpikir ulang tentang pandangan dan sikap mereka.
Konser itu pun berlanjut dengan penampilan-penampilan yang menakjubkan. Orang-orang dari kedua kelompok bergantian tampil di panggung dengan alat-alat musik dan genre-genre musik yang berbeda-beda. Mereka memainkan musik-musik yang menggambarkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka.
Orang-orang yang menyaksikan penampilan-penampilan itu terhibur oleh musik-musik yang bervariasi itu. Mereka merasakan sesuatu yang menggembirakan hati mereka. Mereka merasakan sesuatu yang membuat mereka ingin ikut berpartisipasi dalam musik itu.
Konser itu pun mencapai puncaknya dengan penutupan yang memukau. Ethan kembali berdiri di tengah panggung dengan piano hitamnya yang terabaikan. Dia memainkan lagu terakhirnya yang dia ciptakan sendiri. Lagu yang menggambarkan harmoni di antara kehancuran.
Orang-orang dari kedua kelompok bergabung dengan Ethan di panggung dengan alat-alat musik dan suara-suara mereka. Mereka memainkan lagu itu bersama-sama dengan harmonis dan menyentuh. Mereka juga mengajak orang-orang yang ada di bawah panggung untuk ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.
Orang-orang yang berada di bawah panggung pun ikut berpartisipasi dalam lagu itu dengan antusias dan bahagia. Mereka ikut bernyanyi dan bertepuk tangan dengan lantang dan riang. Mereka juga ikut berdansa dan bersorak dengan bebas dan gembira.
Orang-orang yang berada di kota itu pun bersatu dalam musik itu. Mereka bersatu dalam cinta dan kepercayaan. Mereka bersatu dalam cahaya dan harmoni.
Harmoni musik.