Cerita ini mengisahkan kehidupan Raisa, Banu, serta Dinda dalam perjuangan cinta mereka yang tidak direstui oleh orang tua mereka. Raisa dan Banu jatuh cinta satu sama lain, namun cinta mereka bertabrakan dengan perjodohan yang telah diatur oleh orang tua mereka dengan Dinda, anak dari sahabat orang tua Banu.
Raisa: "Banu, apa kita harus mengabaikan perasaan kita satu sama lain hanya karena keluarga kita tidak menyetujuinya?"
Banu: "Aku pun bingung, Raisa. Aku tahu apa yang kita rasakan satu sama lain sangat kuat, tapi bagaimana aku bisa mengkhianati keluarga dan tradisi yang sudah ada sebelumnya?"
Raisa: "Apakah kamu mencintai Dinda?"
Banu: "Tidak seperti aku mencintaimu, Raisa. Dinda adalah teman baikku sejak kecil, dan aku menghargai perasaannya. Namun, aku tak ingin melukai hati Dinda juga."
Sementara itu, Dinda yang juga mencintai Banu menghadapi dilema moral. Ia menyadari perasaannya tidak diinginkan, karena Banu mencintai Raisa. Namun, ia merupakan anak yang baik dan tidak ingin mengecewakan orangtuanya yang sudah susah payah mengatur perjodohan ini.
Dinda: "Raisa, aku tahu kamu mencintai Banu, dan Banu juga mencintaimu. Aku ingin kalian bahagia."
Raisa: "Tapi bagaimana dengan kamu, Dinda? Apakah kamu rela melepaskan Banu?"
Dinda: "Apapun yang membuat Banu bahagia, aku akan rela melepaskannya. Yang terpenting adalah kebahagiaan orang yang kita cintai."
Setelah menggalau cukup lama, ketiganya akhirnya memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan orang tua mereka. Namun, reaksi orang tua mereka tidak seperti yang diharapkan. Mereka tetap bersikeras agar Banu menikah dengan Dinda.
Ayah Raisa: "Banu sudah dijodohkan dengan Dinda sejak mereka masih kanak-kanak, Raisa. Orang tuamu dan orang tua Banu telah mengikat janji, yang harus dihormati."
Raisa: "Tapi, Papa! Apakah harus begitu? Apakah ia harus menikahi seseorang yang tidak ia cintai? Bukankah Papa sering mengajari aku bahwa cinta itu adalah hal terpenting dalam hidup?"
Sementara itu, di rumah Banu, orang tua Banu juga kecewa dengan keputusan Banu untuk ingin melanjutkan hubungan dengan Raisa dan berusaha membujuknya.
Ayah Banu: "Banu, sudahkah kamu memikirkan betapa kecewanya orang tuamu dan orang tua Dinda? Kami telah merencanakan perjodohan ini sejak dulu untuk menjaga silaturahmi dan hubungan baik antara keluarga kita."
Banu: "Ayah, aku menghormati tradisi kita, tapi apakah aku harus menikahi Dinda meskipun aku tidak mencintainya? Bukankah lebih baik Dinda menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya? Aku tak bisa menjalani hidup ini dengan berbohong kepada Dinda, Ayah."