'Bukannya tidak bersyukur.. tapi kok aku merasa begini-begini saja tak ada kemajuan. Pengennya cepat kaya tapi kalau bisa yang instant. Nemu duit sekoper kek...apa menang lotre gitu. Atau tiba-tiba dilamar sama janda kembang yang kaya raya. Yang duitnya tidak bakalan habis sampai tujuh turunan. Kira-kira mungkin tidak ya salah satu keinginanku itu terwujud?' Wislah... lebih baik tidur daripada menghayal hal yang mustahil..'
'EMPUK JERUU..EMPUK JERUU..EMPUK JERUU.. EMPUK JERUU..EMPUK' bunyi alarm di hp mengganggu tidurku.
'Perasaan baru juga merem kok sudah pagi lagi? Heran bener..waktu begitu cepat berlalu..Apa dunia sudah mau kiamat ya? Eh tapi jangan dulu. Aku kan belum kawin...' selalu saja bicara sendiri sebab aku memang hidup sebatang kara. Maksudku, aku merantau di Jakarta dan tinggal sendiri di kosan. Sedangkan orang tua dan saudara di kampung.
"Tokk,Tokk,Tokk!" seseorang mengetuk pintu.
"Siapa ya pagi-pagi buta bertamu?" ku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Seorang wanita muda berdiri di sana.
"Cantik.." satu kata tanpa kusadari meluncur begitu saja dari mulutku.
"Ma'af, mas. Mau tanya.. di sini masih ada kamar kosong tidak ya? Saya sudah muter-muter dari sehabis subuh tadi, belum juga menemukan kamar kosong."
"Oh..setahu saya sudah penuh, mbak. Mbaknya dari mana?" Sesi wawancara berlanjut.
"Saya asli Solo, mas. Mau mencari pekerjaan.." pantesan kok ayu tur alus tenan batinku.(cantik dan lemah lembut tutur kata dan perilaku). Mulai mengagumi diam-diam.
"Walaahhh...saya juga dari Solo. Saya Boyolali.. Mbak'e Solo-nya mana?" wah.. kesempatan Iki ..hihihi (kesempatan nihh)
"Kulo Sragen, mas.." jiyaannn...maniisss poolll. Iso diabetes Iki nek suwi-suwi. ( bisa diabetes lama-lama 😁 )
"Saya Tejo.. mbaknya?" tanpa mau menyia-nyiakan waktu...gaspol. Kapan lagi nemu yang bening di depan mata?
"Saya Surti, maseehhh.." waduuuhhhh..kok ya pakai mende sah segala. Lha mana tahan kalau sudah begini? Trabas sajalaahhh..
"Terus gimana dik? Eh tidak apa-apa toh saya panggil dik?" semangat membara di dada. Jodoh sudah dikirimkan Tuhan. Jangan disia-siakan. Kesempatan tidak datang setiap hari. Tekadku sudah bulat sebulat perutku. Coba bayangkan berat badanku yang 75 kilogram sedangkan tinggiku hanya 165 centimeter. Sebulat itu diriku. Tapi aku tetap santai menjalani hidup. Tak merasa minder dalam bersosialisasi. Kembali ke ..
"Iya, mas. Tidak apa-apa. Panggil Surti saja juga boleehhhhh..." Haduuhhh... rasanya tak sanggup lagi aku menahan gejolak yang memaksa ingin dilepaskan.
"Hufffttt...haahhhh. ehm,ehm.." berusaha mengendalikan sesuatu yang ingin menerjang. Bahaya kalau dibiarkan lepas begitu saja. Bisa jatuh karismaku di hadapan bidadari surga-ku. Secara sepihak mengakui kepemilikan.
"Maasssshhhh...bolehkaahhh untuk sementara saya menumpang di sini?" Sesuatu yang aku harapkan sekali. Tanpa ku harus meminta. Seolah Tuhan sudah membukakan jalan. Tanpa berpikir panjang aku menyetubuh_i eh menyetujuinya.
"Dengan tangan terbuka dik..." refleks tanganku kurentangkan siap menyambutnya dengan pelukan selamat datang di rumah impian. Dan Surti pun tanpa ragu-ragu meski terlihat malu-malu berjalan mendekat dan masuk dalam dekapan hangat ku. Sesuatu yang EMPUK yang selama ini selalu menjadi fantasi liarku, akhirnya menjadi nyata. Hingga peliharaan yang sebelumnya anteng dan kalem di dalam sangkar pun mendesak ingin mengintip.
Apakah ini mimpi? Ataukah nyata terjadi? Akupun menepuk keras pipiku. 'Plakk' "hiyungalaahhh...sakit Weh"
"Mas! Masee! Kenapa, mas?"
'Opo iki? (Apa nih)' Surti masih berdiri di depan pintu seperti posisi semula ketika ku membuka pintu. Apa adegan tadi hanya hayalanku seorang ya?
Campur aduk rasanya dalam hati dan isi kepala ku. Apa karena terdorong rasa yang sudah terlalu lama menjomblo, sehingga pikiranku menjadi oleng? Ada rasa kecewa, sedih, dan tersiksa. Sudah tak kupikirkan rasa Maluku. Seandainya bisa menghilang sudah pasti akan kulakukan.
"Ayo, dik. Silahkan masuk. Duduklah..aku ambilkan minum dulu. Pasti dik Surti haus dan gerah sekali." Setelah lima menit aku kembali dengan membawa teh hangat di atas nampan.
"Diminum dulu, dik. Setelah itu bersih-bersih dulu. Pasti belum mandi. Ya kan? Kami berdua duduk lesehan berhadapan. Tidak ada cemilan apapun. Kami mengobrol banyak hal hanya ditemani teh kosong.
"Yaudah, kalau begitu aku numpang di sini untuk sementara ya, mas?" Surti sekali lagi meminta padaku. Dengan berbunga-bunga aku menerimanya.
Setelah Surti selesai mandi. Kami memutuskan keluar mencari sarapan. Aku mengajaknya ke warung bubur ayam langganan ku. Makan di tempat sambil ngobrol dan bercanda. Seperti sudah saling mengenal lama.
Sepulang dari sarapan, Surti memintaku menemaninya mencari kamar kos lagi. Sampai terdengar adzan Dhuhur, belum juga mendapatkan yang cocok di hati dan pas di dompet. Kami pun singgah di sebuah mushola untuk melaksanakan fardhu ain.
Sampai sore menjelang ashar kami memutuskan kembali ke kosanku. Selain belum sholat ashar, kamipun sudah sangat kelaparan. Sebab tak sempat makan siang demi menghemat waktu. Mampir di sebuah mini market untuk membeli beberapa mie instan dan juga telur. Untuk beras sih aman, aku selalu stok.
10 menit berjalan kaki, kami pun sampai di kosan. Aku menyuruh Surti untuk mandi dulu sebelum sholat. Sebab aroma tubuh kami berdua sudah tidak karuan.
Ruangan tanpa sekat yang menyatu antara kamar mandi dan kamar tidur, yang merangkap sebagai kamar tamu dan dapur. Membuat aktifitas Surti di kamar mandi terdengar begitu jelas.
"Mari bercinta..mari bercinta..mari mari mari mari bercinta aahhhh..🎶🎶" dalam bayanganku Surti menyanyi sambil bergoyang ero tis..mengajakku untuk bergabung dengannya. Akupun beranjak dari dudukku.
Berjalan ke arah kamar mandi. Perlahan pintu ku dorong. "Ahaayy...tak dikunci". Pekik kemenangan ku sambil memperagakan goyang pargoy yang sering kulihat di tok tok. Pintu pun terbuka..tapi tak nampak Surti di dalamnya. Aku mencarinya di setiap sudut kamar mandi. Ku periksa lobang ventilasi. Semua masih terpasang dengan baik. "Lalu Surti kemana?"
Saat ku masih dilanda Gegana,samar ku dengar suara dengkuran dari arah luar kamar mandi. Tanpa menunggu lama aku langsung bergegas memeriksanya. Terlihat seseorang tidur di kasur lantai-ku. Akupun mendekatinya. Semakin dekat bisa kupastikan itu Surti.
"astaghfirullah..bikin orang bingung saja.."
Ku usap rambutnya yang masih basah. 'pasti dia lelah sekali..' hingga akupun dilanda kantuk yang berat. Kurebahkan tubuhku di samping Surti sambil kupandangi paraanya yang elok rupawan. Akhirnya akupun terlelap sambil memegang tangannya.
Seketika ku terjaga. Ku lihat Surti masih pulas dalam tidurnya. Akupun memejamkan mata kembali. Sambil memeluknya dan tanganku pun bergerilya di area terlarang itu. Sambil membayangkan seperti apa i-si di dalamnya. Kura-ba.. sesekali kure-mas dengan gemas. "Ahhhhh.." Surti mende-sah semakin membuatku berga-irah melanjutkan aksiku. "Ohhh..." Lagi dan lagi terdengar Surti mende-sah. Tak tahan lagi akupun menind-ihnya..sampai..
"EMPUK JERUU.. EMPUK JERUU..EMPUK JERUU.. EMPUK JERUU..EMPUK.."
"Alarm sialan! Mengganggu saja" akupun membuka mata dengan malas.
Sungguh terkejut diriku.. ketika ku lihat guling yang aku tindih sudah tak berbentuk lagi. Sarungnya sudah terlempar entah kemana.
"Kok basah? Apaan nih?"
Astaghfirullah.. ternyata aku mimpi basah. Kojuurrr...jiyan kojuurrr...ambyar..rungkad..mletre tenan. "Jiyan NGADI-NGADI!!!"
_____'_____
𝓢𝓮𝓴𝓲𝓪𝓷.. 𝓭𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰 𝓱𝓪𝓽𝓲 𝓪𝓹𝓪𝓹𝓾𝓷 𝓲𝓽𝓾 𝓶𝓪𝓾 𝓬𝓪𝓬𝓲𝓪𝓷 𝓪𝓽𝓪𝓾 𝓶𝓪𝓴𝓲𝓪𝓷 💦💦💦