Matahari bersinar dengan terik di puncaknya, rasa gerah tak bisa terhindarkan lagi, tak terkecuali bagi Yeri, Si gadis berambut pirang yang saat ini sengaja mengguyurkan sebotol air dingin ke wajahnya demi menghindari panasnya cuaca.
Tidak aneh, karna sebentar lagi semua akan menikmati liburan musim panas, di mana pantai adalah wisata yang paling cocok untuk berlibur.
Setelah sebotol air dingin habis di guyurkan ke wajahnya, Yeri bermaksud untuk melempar botol itu ke tong sampah, namun bertepatan dengan itu, seorang pria misterius melintas dan botolnya jatuh menghantam kepalanya.
"Ah, maaf!" Yeri membungkukam badannya sembilan puluh derajat, berharap tidak terjadi masalah besar setelah kejadian ini.
Karna bukan orang sembarangan yang Dia hadapi, tapi seorang pria yang selalu memakai switer tebal lengkap dengan kupluknya di tambah masker juga topi. Hanya bola matanya yang terlihat. Membuat Yeri kegerahan sendiri saat melihat pria misterius yang kini ia hampiri untuk memeluknya.
"Maaf" Yeri mengulang kalimat yang sama sekali tak di gubris. Pria itu malah melepas pelukan Yeri dan pergi tanpa mengatakn apapun.
"Sudah ku bilang maaf Jaemin, aku tidak sengaja!" teriak Yeri seraya menghentakan kakinya kesal, bagaimana tidak, dia tak suka kalau dibiarkan begini, apalagi oleh kekasihnya sendiri.
"Oi!" teriak seseorang dari arah belakang.
Yeri pun refleks membalikan badan dan merasa terkejut saat melihat ternyata Jaemin berdiri di koridor, dengan kupluk yang sengaja di buka, memperlihatkan Surai hitamnya yang sepekat arang.
Mata Yeri membulat sempurna untuk setelahnya berlari dan menghampiri kekasihnya. "Oppa!, kau di sini?"
PELETAK!
Jitakan yang Jaemin layangkan di dahinya membuat Yeri mengerti kalau dia cemburu, pada orang yang sama misteriusnya yang baru saja dia peluk.
"Pabo!!"
"Tapi dia itu mirip sekali denganmu!" jelas Yeri mengusap dahinya yang memerah akibat jitakan kuat Jaemin.
"Seenaknya saja kau memeluk orang asing seperti itu, dasar murahan!" umpatnya terlihat marah sekali.
Jaemin berjalan meninggalkan Yeri, di mana gadis itu sudah merasa kebal untuk setiap kata menyakitkan yang Jaemin lontarkan. Seberapa banyak pun belati yang keluar dari mulutnya, Yeri meyakini satu hal, Kalau Jaemin mencintainya. Yah, Jaemin sangat mencintainya.
Tidak menyerah, Yeri berlari dengan langkah kecil, memegang tangan yang di bungkus sarung hitam tebal demi menghindari paparan sinar matahari. Bukan sebab dia mengidap penyakit xeroderma pigmentosis, tapi karna dia adalah seorang vampir, di mana dalam beberapa detik saja cahaya matahari menyentuhnya. Jaemin akan lenyap menjadi abu.
"Ayo kita ke pantai besok lusa!" ajak Yeri mengalihkan Sikap cemburu Jaemin yang mudah teralihkan.
"Pergi saja dengan orang asing itu!"
Yeri cemberut. "Aku akan pergi dengan pacarku, Jaemin, bukan orang asing" ucapnya dengan nada selembut sutra agar hati pria itu luluh.
Dan benar saja, cara itu ampuh, Jaemin tidak mengatakan apapun, tidak pula melepaskan genggaman tangannya. Itu artinya dia setuju, Dan Yeri bersorak gembira dalam hatinya. Bangga karna selalu berhasil membujuk pria itu.
Bahkan, yang membujuk Jaemin untuk pindah ke sekolahnya juga Yeri, Tentu saja karna dia tidak mau Jaemin sekolah di sekolah malam, karna siang dia akan tidur sampai senja, dan melewatkan momen bersama mereka.
Tapi, di balik menurutnya Jaemin pada Yeri, ada pertentangan besar yang terjadi di antara ke enam Saudaranya.
Jaemin tidak akan lupa, bagaimana Jeno mencambuknya ratusan kali demi menyadarkan hubungan terlarang yang terjalin antara dirinya dengan Yeri.
BUKH!
BUKH!
"Sadarlah Dik, bangsa vampir tidak akan bisa bersatu dengan bangsa manusia, sampai kapanpun" Teriak Jeno, kakak pertamanya. Yang paling tegas, yang paling di siplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
"Kami saling mencintai Hyung!" Jawab Jaemin lantang, dan hal itu semakin membuat Jeno marah, dia menambah cambukan di tubuhnya.
Saudara yang lain tak bisa membantu, atau mungkin tak ingin, mereka tak cukup akrab dan hanya memikirkan urusan sendiri.
Tak sedikitpun peduli, pada Jaemin yang sudah merangkak meminta segelas darah untuk mengembalikan kekuatan tubuhnya.
Untunglah Yeri datang di saat yang tepat, dia langsung meraih tubuh Jaemin dalam dekapnya, memberikan tangan dan lehernya untuk Jaemin gigit dan hisap darahnya sebanyak yang dia mau.
"Maafkan aku, Oppa!" isaknya merasa pilu, iba, dan sedih. Dia mengelus rambut halusnya selagi Jaemin masih menyedot darah di lehernya dengan rakus.
Yeri tak peduli rasa sakit yang bercampur kenikamatan itu, harapannya adalah Jaemin dapat kembali, memeluknya lagi, menciumnya lagi, seperti saat sekarang, saat senjanya langit mulai menyebar di permukaan.
"Ayo kita Berpelukan!" Yeri merentangkan tangannya dan tersenyum hangat, Membuat tubuh besar Jaemin langsung saja mendekap membungkus tubuh mungilnya.
Perlahan Wajah Jaemin turun ke leher jenjang Yeri, mengendus aroma cery dan menusukan gigi taringnya. Sedikit memainkan lidahnya di sana, membuat Yeri merasa geli, namun ingin terus berada dalam sensasi ini. Tapi gigitan itu harus berakhir, berganti jilatan sensual yang semakin turun ke dada, lalu naik lagi ke wajah, melumuri pipi gadis itu dengan cairan cintanya.
"Kau seperti anjing!" tukas Yeri benar benar merasa geli.
"Kau manis!" Jaemin mulai menggila, dia meraup bibir kecil gadisnya, menggigit kecil, dan menyapu dengan lidahnya.
"Mmh!" Gadis itu benar benar kehabisan napas, ia menepuk nepuk pundaknya dan berhasil melepas ciuman yang semakin membangkitkan birahi.
"Apa kau puas?"
Jaemin menggelang pelan. "Chagiya, Ayo kita menikah!"
"Apa?" mata Yeri membulat sempurna "Tapi kita masih sekolah, dan kita masih harus berusaha meyakinkan ke enam Saudaramu untuk ini"
Lagi, Jaemin menggelang, wajahnya seketika berubah jadi putus asa. "Aku ingin secepatnya menikah!"
"Hey, ada apa ini?" tanya Yeri tidak mengerti, ia mengangkat wajah Jaemin yang sudah menatapnya dengan sendu. "Tenang saja, kita pasti bersama, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita"
Tak ada lagi kata yang terucap, Hanya sebuah tatapan yang menyimpan berjuta kata, seolah semua terbelenggu dan tak bisa di katakan.
Yang saat ini Jaemin lakukan, hanyalah terus memeluk Yeri, menciumnya, menghisapnya, menjilatnya. Tak peduli sebanyak apapun, rasanya tidak akan pernah puas.
*******
Seperti janji 2 hari yang lalu, awal libur musim panas sudah tiba, Yeri menunggu kehadiran Jaemin dengan perlengkapan yang sudah di siapkan. Mereka akan ke pantai hari ini.
Tapi sudah tiga jam menunggu, batang hidungnya masih belum kelihatan juga. Yeri amat kesal, bahkan tak bisa menghubungi Jaemin, tidak pernah sama sekali ia mengingkari janjinya, apa dia sudah bosan? begitulah pikir Yeri.
Dan pikiran negatifnya sirna ketika seorang pria misterius waktu itu datang menghampiri Yeri, dia pikir, Itu Jaemin. Tapi Yeri tak berani langsung menyapa takut kejadiannya seperti kemarin.
"Kau Kim Yeri?" tanya pemilik Suara yang lebih berat dari suara Jaemin
"Siapa kau?" tanya Yeri galak.
Pria itu membuka maskernya, memperlihatkan wajah tampan dengan bola mata yang indah. "Aku Jisung, Saudara nya Jaemin!"
"Di mana Jaemin?" tanya Yeri mulai khawatir.
"Ikutlah denganku, dia ingin melihatmu sebelum hidupnya berakhir!"
Tanpa pikir panjang, Yeri mengikuti langkah Jisung, dengan kekuatannya, mereka cepat sampai di sebuah tempat.
Di mana Yeri dapat melihat Kaki dan tangan Jaemin di borgol di bawah sinar matahari yang terik, dengan telanjang dada, memakai celana pendek seatas lutut, dan tubuh itu perlahan menghitam mulai terbakar.
"JAEMIN!" teriak Yeri histeris, dia berlari untuk menghampirinya, namun langkahnya di tahan oleh seorang pria yang merupakan raja vampir.
"Manusia keparat!" umpat sang raja sama sekali tak di gubris Yeri.
"Lepaskan dia! aku mohon" pinta Yeri dengan berlinang air mata.
"Ini adalah hukuman bangsa vampir yang sudah menjalin hubungan terlarang dengan manusia!" jelas raja vampir tega.
"Tapi kami tak bisa di pisahkan, kami saling mencintai, aku mohon bebaskan Jaemin, atau kita buat perjanjian saja!" tawar Yeri.
Sang raja hanya tersenyum meremehkan.
"Bebaskan Jaemin, dan aku tidak akan berhubungan dengannya lagi, aku berjanji!" pinta Yeri lagi benar benar memelas.
"Tidak bisa!" sahut Jaemin di penghujung sisa tenaganya. "Aku tidak mau hidup tanpamu, Chagiya"
Air mata Yeri benar benar tumpah, ia tak bisa melakukan apapun, bahkan untuk memeluknya saja tak bisa. "Maafkan Aku Oppa, maafkan aku..."
Dalam sejarah, untuk pertama kalinya Jaemin tersenyum, begitu lembut. "Jangan menangis Yeri, aku tidak menyesal mencintaimu"
Sesak, sakit, pilu, Yeri terjatuh ke tanah, menangis sejadi jadinya, terus berteriak dan memohon, Tapi mereka tetap tak peduli, hingga di detik terakhir, sebelum Jaemin berubah menjadi Abu, Yeri mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil lepas dari belenggu mereka,
Sejurus kemudian, Yeri berlari dan memeluk Jaemin erat.
BRUK
"Jaemin, Aku mencintaimu...." teriaknya sekuat tenaga. Yeri berusaha memberikan tangannya untuk Jaemin gigit. Tapi sepertinya sebagian besar tubuhnya sudah mati, Jaemin hanya bisa tersenyum dan berbisik.
"Yeri, Saranghae....."
WUSH!!!
Dalam hitungan detik, tubuh Jaemin berubah menjadi Abu, lalu di tiup angin, terbang menjadi debu debu di angkasa.
.....