"Mas, makan dulu ini keburu dingin," ucap Intan yang tengah menyodorkan satu set makanan lengkap dengan peralatannya.
Ini sudah ketiga kalinya ia melakukan hal ini dikarenan Adit, sang suami tidak mau peduli dengan hal yang dilakukan Intan dan tidak ingin diganggu.
Aditya Wardana, seorang lelaki jangkung berusia 28 tahun yang bisa dikatakan normal walau ia tak pernah tertarik dengan lawan jenis.
Ia memiliki kepribadia aneh dengan mengidap penyakit 'Workaholic' dimana penderitanya akan fokus pada pekerjaan dan melupakan hal lain disekitarnya.
Adit memang pekerja keras tapi jika seperti ini terlalu lama dia akan melukai dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya.
"Mas, ayo dong makan. Ntar aku bingung ngejelasinnya ke Mama." ucap Intan yang terus memaksa.
"Cerewet banget sih. Udah simpen aja di atas meja itu," perintah sang suami dengan menunjuk salah satu meja kecil didekatnya.
"Ya udah, tapi jangan lupa makan ya."
"Iya."
"Oh iya, Mas. Aku mau ijin keluar sebentar ya mau ketemu temen-temen." ijin Intan yang ingin keluar bersama teman-temannya.
"Jangan terlalu malem pulangnya. Kalo enggak, aku gak bakalan bukain pintu." ucap Adit mengijinkan istri kecilnya untuk keluar.
Tentu saja, Intan masih muda. Dia berusia 18 tahun sekarang, ia dipaksa menikah dengan Adit oleh kakeknya sebagai permintaan terakhir sebelum akhirnya dia kehilangan sang kakek yang paling dia cintai.
"Ya udah, Mas. Assalamu'alaikum." ucap Intan dengan mengecup tangan besar sang suami.
Tanpa peduli dengan istrinya itu, Adit hanya menjawab salam Intan setelah itu kembali menatap komputer kesayangannya.
Adit nyaris tidak menatap Intan, tapi jika begitu akan sangat jahat baginya sebagai seorang suami.
***
Sudah jam 10 malam namun Intan masih belum juga menampakkan dirinya dirumah.
Sebenarnya Adit tidak peduli, hanya saja sekarang Intan sudah menjadi seorang istri, dia seharusnya tau batas apalagi untuk bepergian tanpa pengawasan suami.
Adit sudah selesai dengan pekerjaanya namun Intan belum juga kembali. Dia melihat jam dinding yang tidak jauh dari meja belajarnya, waktu sudah menunjukan pukul 10.15 dan Intan masih belum kembali.
Geram dengan kelakuan Intan, Adit akhirnya memutuskan untuk menelpon Intan menggunakan telepon genggamnya dan disitu tercetak jelas nama yang diberikan Adit untuk istri kecilnya itu "Intan".
Ya! Hanya itu saja, tanpa ada kata sebelum dan sesudah kata itu.
Namun, sebelum dia benar-benar menekan tombol 'panggil' sudah terlebih dulu masuk sebuah panggilan dan disitu tercetak jelas nama Intan.
"Kenapa? Kemana aja kamu belum pulang? Mau aku suruh tinggal diluar?" ceroscos Adit setelah mengangkat panggilan itu.
"Ini dengan Mas Adit, suaminya Intan?" terdengar suara wanita lain dari seberang sana. Adit tau itu bukan suara istrinya.
"Iya, siapa kamu? Dimana Intan?"
"Ini Mia, Mas. Temannya Intan."
"Mas Adit bisa ke rumah sakit dekat rumah Mia gak? Intan baru aja keserempet motor karena gak hati-hati nyebrang jalan dan sekarang Intan pingsan karena terkejut. Nanti Mia kasih alamatnya." lanjut Mia tanpa jeda.
Adit membuan nafasnya kasar. Dia kesal dengan kelakuan istrinya itu, kenapa dia harus membuat masalah untuk Adit.
"Oke!" itu saja yang dikatakan Adit dan setelah itu ia langsung berangkat setelah dikirim lokasi oleh Mia.
Saat Adit sampai di rumah sakit, Mia meminta ijin untuk pulang. Toh dia juga akan jadi nyamuk jika terus disini.
Adit masuk ke ruangan Intan dan dia mendapati Intan tengah melamun ke arah jendela.
"Bisa gak sih gak buat masalah?" bukannya mengucap salam, Adit malah langsung memarahi Intan.
"Maaf, Mas. Tadi aku gegabah nyebrang," hanya itu yang dijelaskan Intan setelah itu dia melihat sebungkus bubur yang ada digenggaman Adit.
"Itu buatku, Mas?" tanya Intan langsung.
"Iya."
Setelah Adit duduk dikursi dekat kasur pasien Intan, dia langgsung membuka bubur yang dibelinya dan memerintah Intan untuk makan.
"Makan!" perintah Adit tegas namun tak kasar.
"Aku bisa sendiri, Mas." jawab Intan ketika sebuah sendok berisi bubur hampir sampai pada bibirnya yang mungil.
"Gak usah banyak prostes, cepet makan!" mendengar hal itu Intan hanya menurut.
Dia tidak meminta Adit untuk menyuapinya tapi Adit malah berinisiatif sendiri untuk menyuapinya.
"Mas khawatir sama aku?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa meminta ijin terlebih dahulu.
"Gak!"
"Terus kenapa Mas bela-belain datang kesini, padahal ini udah jam 11 malem loh Mas. Mas kan bisa aja istirahat dirumah," ucap Intan nyeroscos.
"Takut dimarahi Mama," jawab Adit mencari alasan
"Hump!" mendengar jawaban yang tidak diinginkan itu, Intan mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
"Udah nih, makan lagi"
Intan memaksakan dirinya untuk membuka mulut dan memakan bubur yang disuapi Adit.
Ketika Adit tengah mengaduk bubur yang ada ditangannya, Intan dengan beraninya mendekati Adit dan mengecup lembut pipi suaminya.
"Cup"
"Aku sayang kamu, Mas"
"Aku bakalan berusaha sekeras mungkin agar kamu bisa sayang sama aku dan nerima aku." ucap Intan setelahnya.
Intan tidak percaya jika mereka berdua terus-terusan bersama tidak akan ada percikan cinta sedikit pun. Dia sudah bertekad akan membuat suaminya mencintainya seperti ia mencintainya sekarang.
Dia bertekad akan menjadi wanita yang beruntung karena sudah dinikahi oleh suaminya itu, Aditya Wardana.