Haechan adalah seorang pemuda cantik dari jurusan tata rias ini menjadi pemuda paling populer di fakultasnya karena riasannya yang tak dapat diragukan lagi.
Parasnya yang tampan juga cantik disaat yang bersamaan mampu memikat banyak orang.
Saat ini pun dirinya hanya bisa menghela napas lelah melihat orang-orang yang terus saja menatapnya.
Padahal artis saja bukan, pikirnya. Pada akhirnya Haechan tak menghabiskan minumannya dan pergi begitu saja setelah membayar.
Haechan berjalan-jalan sambil memegang kameranya, memotret beberapa hal yang dirasa menarik. Mulai dari orang yang memakai fashion unik, tata rambut yang cantik serta lainnya hingga sesuatu menarik perhatiannya.
Satu keluarga di usir dari sebuah toko yang akan di buka, keluarga itu nampak sedih.
Haechan mulai memotret mereka kemudian menghampiri ketiganya.
"Halo selamat pagi." Sapa Haechan, kedua pria menatap garang melindungi seorang wanita yang diyakini adalah ibu di keluarga itu.
"Ahaha tolong jangan takut aku hanya ingin menawarkan diri untuk membantu kalian." Haechan mengulurkan tangannya dan dengan ragu-ragu pria paling tua disana menerima uluran tangan tersebut.
"Haechan, namaku Lee Haechan."
"Na Siwon, ini istriku Na Yoona dan anakku Na Jaemin."
Haechan tersenyum menanggapinya, Haechan lalu mengajak mereka untuk ikut bersama dengan dirinya untuk menuju mobilnya.
Pasangan suami istri itu duduk di kursi belakang sedangkan anak mereka duduk di depan bersama Haechan.
"A-apa kamu tidak keberatan kami berada di dalam sini? Kamu tidak risih? Mungkin kamu bau.." ucap sang wanita.
Haechan tersenyum "Tidak sama sekali, kan niat saya mau membantu kalian." Wanita itu tersenyum mendengarnya.
"Oh ya kalian sudah lama tidur dijalanan seperti itu?" Haechan mulai membuka topik tentang keadaan keluarga mereka.
"Iya, kami di tipu hingga mengharuskan kami tidur dijalanan. Kamu terus-terusan di usir dan tidak di pedulikan." Ketiganya menunduk sedih.
Haechan ikut sedih, pada akhirnya dia putuskan memasang lagu saja.
Tak lama mereka sampai di depan sebuah tempat kecantikan. Haechan mengajak ketiganya masuk kedalam.
"Selamat datang, ini salon saya akan di resmikan bulan depan." Ketiganya kagum melihat isi salon yang sangat indah itu, tataan ruangan tersebut sangat rapi dan nyaman untuk dilihat.
"Ayo kalian jadi pelanggan pertamaku." Haechan tersenyum dan mempersiapkan tempat duduk.
Ketiganya duduk bersamaan, tapi mana mungkin Haechan langsung mengerjakan semuanya hingga akhirnya dia memulai dari sang kepala keluarga.
Rambut panjang yang sudah rusak itu dirinya potong terlebih dahulu begitu juga pada dua orang lainnya.
Penataan rambut pun dimulai, Haechan sangat serius melakukannya, mencoba semua cara untuk mengembalikan rambut sehat mereka.
Hingga kedua orang tua selesai sampai keduanya tertidur dengan keadaan rambut yang masih di tutup.
Haechan pindah pada sang anak, merapikan rambutnya sambil dia ajak mengobrol.
Matanya tertuju pada plester yang sudah kotor. "Lukanya baru di dapat?" Jaemin gugup sambil memegang wajahnya.
"O-oh ini sudah seminggu."
"Boleh kulihat?" Awalnya Jaemin diam namun tak lama dirinya mengangguk.
Haechan membuka plasternya membuat Jaemin meringis, lukanya bukannya mengering malah makin membesar.
Terkejut? Tentu saja. Haechan kemudian mengajaknya untuk pergi ke kamar mandi di sana untuk membantu Jaemin membersihkan lukanya.
"Harusnya di beri obat jangan langsung di plester begini." Jaemin mengangguk sedih melihat wajahnya yang menurutnya jelek.
"Sudah jangan pikirkan, ini pasti sembuh, tenang saja." Jaemin dibuat menghadap dirinya hingga Haechan bisa mengobati dengan baik.
Jaemin memejamkan mata saat alkohol menyentuh lukanya, perih sekali. Haechan tersenyum kemudian menarik tangan Jaemin untuk memegang tangannya.
"Kalo sakit remat tanganku saja ya?" Jaemin mengangguk.
Beberapa kali dia meremat tangan Haechan hingga entah bagaimana tangannya malah berpindah di pinggang Haechan dan kepalanya juga berniat bersembunyi di leher Haechan namun tentu saja Haechan menahannya.
"Ja--
"Sa-sakit sekali." Satu tangannya memegang perut.
"Kamu belum makan?" Jaemin menggeleng.
"Yaampun, kita selesaikan ini ya habis itu aku belikan makanan dan obat." Jaemin menggeleng, dia merasa tak enak harus membuat Haechan repot.
"Tenang saja ya aku tidak merasa repot."
Setelah proses pengobatan selesai Haechan mengambil ponselnya untuk memesan makanan sedangkan Jaemin kembali duduk sambil memperhatikan Haechan dari cermin.
"Jaemin, kamu punya alergi?"
"A-aku gak tau."
Haechan juga tak ingin salah, pada akhirnya dia pilih makanan paling umum dimakan banyak orang yang tentunya sehat.
Sembari menunggu Haechan kembali mengerjakan rambut ketiga orang tersebut hingga selesai.
"Wah bagus sekali."
"Rambut bunda cantik."
"Rambut anak bunda juga baguss banget makin ganteng."
"Ayah gimana?"
Keduanya memberikan dua jempol kemudian tertawa bersama.
Haechan yang baru kembali dari mengambil pesanan hanya tersenyum melihat keluarga bahagia itu, apalah dayanya yang sama sekali tidak di pedulikan karena dua orang tuanya yang sibuk bekerja.
"Haechan terimakasih banyak, kami senang sekali." Haechan mengangguk.
"Ini aku pesankan kalian makanan, kalian bisa makan ini." Ketiganya makin merasa tak enak hati.
"Kumohon di terima ya." Pada akhirnya mereka duduk bersama dan makan disana, Haechan memperhatikan jaemin yang nampak menahan sakit saat mengunyah tentunya karena luka miliknya yang berada di pipi.
Haechan merasa bersalah, harusnya dia pesankan bubur untuk Jaemin mengingat lukanya.
•
•
•
•
Kini mereka berada di apartemen milik Haechan, ketiganya kembali kagum.
"Haechan kamu tinggal sendiri disini?" Haechan mengangguk.
"Tempatnya dekat dengan kampus jadinya gak perlu ambil banyak waktu untuk ke kampus." Haechan mengajak ketiganya melihat kamar kosong yang tidak di tempati siapapun.
"Om dan Tante boleh tempati kamar ini saja belum di gunain siapapun kok." Keduanya berterimakasih sekali pada Haechan kemudian melihat kamar tersebut sedangkan Haechan pergi bersama Jaemin ke kamar lainnya.
"Kamu disini saja." Jaemin melihat sekeliling, bagus.
"Oh ya Jaemin, setiap hari aku periksa luka kamu ya?" Jaemin mengangguk.
"Haechan terimakasih, maaf merepotkan kamu."
"Gapapa! Jujur aku senang karena di apartemen aku gak sendiri sekarang!" Haechan tersenyum lebar membuat Jaemin ikut tersenyum melihatnya.
"Aku sudah pesenin baju beberapa untuk kalian pakai mungkin nanti beli lagi biar kalian pilih sendiri."
"Haechan, aku makin gak enak jujur, kamu pasti ngeluarin banyak duit dan aku gak bisa ganti."
"Aku ikhlas Jaemin, jangan di pikirin."
"Selamat malam."
Jaemin diam menatap punggung Haechan yang berjalan keluar dari kamar, pada saat itulah dirinya merasa jatuh kedalam pesona Haechan yang menakjubkan.
Hari demi hari mulai mereka lalui, Haechan dapat melihat bagaimana ketiga orang tersebut mempunyai potensi untuk bisa sukses.
Siwon ada bakat dalam bisnis, Yoona sendiri sangat cantik dan pandai mendesain hingga amat cocok menjadi seperti seseorang yang sedang Haechan pikirkan. Jaemin sendiri masih dalam masa pengembangan karena dirinya harus berhenti menuntut ilmu saat SD.
"Pa, hari ini aku ulangtahun, aku mau hadiah.
'Hm, tumben kamu yang minta, nanti papa kir--
--Aku mau perusahaan kakek yang udah papa buat terlantar."
'Kamu tertarik bisnis?'
"Lebih tepatnya ada orang berbakat yang bisa jalanin, aku harap ayah mau kasih dan bantu orang itu bangun perusahaan kakek. Aku gak pernah minta apa-apa pa, jadi untuk kali ini aja.."
'Iya Haechan, asalkan besok kamu pulang kerumah.'
"Iya."
*Tut*
Haechan tersenyum senang kemudian dia kembali menelpon seseorang tentu saja orang tersebut adalah mamanya.
'Ada apa Chan? Mama lagi sibuk.'
Haechan agak sedih karena mungkin mamanya lupa dengan hari kelahirannya.
"Mama ingat ini hari apa gak?"
'Hari?'
Hening sekejap hingga suara rusuh dari sana terdengar.
'Haechan sayang selamat ulangtahun ya, anak mama, belajar yang benar biar makin pintar. Kamu mau hadiah apa sayang?'
"Aku mau mama nerima orang aku untuk jadi model di tempat mama."
'Sayang?'
"Permintaan aku berat?"
'Enggak sayang, iya mama terima ya."
"Makasih ma, Haechan tutup."
*Tut*
"Haechan.."
Jaemin menghampiri Haechan dengan susunan donat serta lilin di tengahnya.
"Selamat ulangtahun." Haechan tertawa gemas melihat Jaemin.
"Makasih Jaemin." Sesaat Haechan memberikan permohonan kemudian dirinya meniup lilin tersebut.
"Haechan udah banyak bantu aku, mama dan papa, kalau ada sesuatu Haechan boleh cerita kok aku bakalan dengerin." Haechan mengambil piring tersebut dan dia letakan di atas meja.
"Aku mau di peluk, boleh?" Jaemin terkejut dan tiba-tiba menjadi sangat gugup.
"Bo-bol eh em iya iya bo-boleh." Haechan tertawa gemas kemudian langsung memeluk Jaemin, rasanya sangat tenang saat mendapat pelukan.
Jaemin sendiri malu, wajahnya sudah merah karena di peluk Haechan.
"Haechan, Jaemin ay--
Siwon berhenti melihat kedua anak adam itu, dia kemudian tersenyum dan tak jadi memanggil mereka. Biarlah mereka habiskan waktu mereka dulu.
Hingga beberapa menit kemudian mereka selesai dengan acara peluk-pelukan dan memilih pergi menuju ruang makan karena katanya Yoona sudah memasak banyak makanan untuk merayakan ulangtahun Haechan.
"Terimakasih banyak ya, senang bis--
*DING DONG DING DONG DING DONG*
Haechan menghela napas, pasti itu teman-temannya dia sangat yakin. "Sebentar ya kayaknya itu teman-temannya Haechan." Haechan segera pergi untuk membuka pintu sebelum belnya rusak.
*DORR*
"HAPPY BIRTHDAY HAECHAN GENDUUUTTT." Senangnya Haechan bertambah karena keempat temannya itu.
Pada akhirnya mereka ikut makan bersama sambil berkenalan dengan Jaemin dan keluarganya.
"Mama papa Lo gimana Chan?" Tanya Jeno sambil menyantap makanannya.
"Nyuruh balik besok."
"Lo balik dong?" Tambah jisung penasaran.
"Iya."
"Tante ih ini enak banget Chenle suka banget!!" Chenle sudah sangat menghayati rasa dari makanannya itu, benar-benar lezat.
"Ah habisin nak Chenle." Yoona tersenyum senang karena masakannya disukai oleh mereka semua.
"Jaemin, kapan-kapan hangout bareng kita ayo." Ajak Renjun pada Jaemin yang hanya bisa mengangguk pelan.
•
•
•
•
Esok harinya saat sore Haechan benar pulang kerumahnya, dengan menghela napas Haechan langkahkan kakinya masuk kedalam rumah tersebut.
*DOORR*
Haechan terkejut mendapatkan surprise dari orang rumah yang tersenyum senang menyambut kedatangannya.
Mama dan papanya datang mendekat membawa kue.
"Selamat ulangtahun sayangnya mama, maaf baru bisa rayakan sekarang ya." Lisa mengecup pipi anak satu-satunya itu sambil tersenyum.
"Selamat ulangtahun Haechan, papa juga minta maaf kadang kasih perhatian pada Haechan. Mulai sekarang papa dan mama akan lebih sering memperhatikan Haechan." Ucap Sehun juga mencium pipi anak semata wayangnya.
Haechan tersenyum senang lalu memeluk orang tuanya.
"Terimakasih ya mama dan papa Haechan juga maafin kok."
Hari itu di habiskan dengan acara ulangtahun kecil-kecilan untuk Haechan.
Pada tengah malam Haechan kembali ke apartemen setelah di antar orang tuanya sekalian menjemput Siwon dan Yoona untuk dilihat kelebihannya.
Berakhirlah para anak muda yang bermain disini.
Botol berhenti pada Haechan.
"Yaha bro! Kena kan lo!" Haechan mendengus kesal.
"Cium Jaemin!!" Teriak Renjun langsung di soraki oleh yang lain.
Haechan dan Jaemin saling menatap, Jaemin sudah kehilangan pakaiannya karena perintah Chenle, kini bocah itu hanya mengenakan boxer.
"Gue tau lo gamau mabok Haechan jadi lakuin, cium sampe lo berdua habis napas." Haechan menatap jaemin meminta izin dahulu apakah boleh.
Setelah mendapatkan persetujuan Haechan mendekat, memejamkan matanya kemudian menempelkan bibirnya pada bibir jaemin.
Jaemin ikut memejamkan matanya kemudian bibir keduanya bergerak memakan bibir satu sama lain. Keseimbangan Haechan hilang karena terlalu menikmati ciumanya, untungnya Jaemin menahan dirinya jika tidak pasti bisa-bisa dia mencium lantai.
Keduanya makin mendekatkan diri, Jaemin memegang wajah yang lebih tua sedangkan Haechan makin ketagihan dengan ciuman mereka.
Hingga Haechan lebih dulu kehabisan oksigen, Jaemin menyeka sudut bibir Haechan kemudian kembali fokus bermain padahal yang lain sedang heboh.
Haechan saja hampir gila setelah ciuman itu, dirinya benar-benar ketagihan, dia ingin lagi.
Hingga pada saat keenamnya tepar di ruang tamu, ya mereka lebih memilih tidur disana.
Jeno dan Renjun menguasai sofa tidur sambil berpelukan dibawah selimut.
Diatas karpet bulu ada Jisung dan Chenle yang tak jauh berbeda dengan keduanya.
Berbeda lagi dengan dua orang yang masih terjaga, bukannya tidur mereka berdua malah melanjutkan hukuman mereka di dapur.
Haechan benar-benar kacau, rambutnya berantakan mulutnya terbuka tertutup menikmati bibir Jaemin di tubuhnya.
"Ahh.." Jaemin kembali pada bibir plum Haechan, melumatnya penuh napsu sambil tangannya mengelus perut Haechan yang menggemaskan.
"Ayo tidur Haechan udah mau pagi ini." Ucap Jaemin menyelesaikan aktivitas mereka.
"Ha? Udahan? Kok? Gak sampe yang itu?" Jaemin tertawa kemudian menggendong Haechan untuk dibawa ke kamar.
Keduanya berbaring bersama Jaemin memeluk Haechan yang di balas oleh si cantik.
Tak lama Jaemin langsung tertidur mungkin karena lelah bermain bersama teman-teman Haechan atau lelah bermain dengan Haechan di dapur.
"Selamat tidur Jaemin." Haechan mengecup dahi Jaemin kemudian ikut memejamkan matanya.
•
•
•
•
•
•
•
FIN!